Profitable Feeding Strategies For Smallholder Cattle In Indonesia(LPS/2013/021)

Pin It

Kerasama dengan : ACIAR TA. 2017

Swasembada daging sapi merupakan prioritas utama pemerintah Indonesia karena sistem produksi sapi dalam negeri belum mampu memenuhi permintaan konsumen. Selama ini kekurangan pasokan daging dipenuhi melalui impor baik dalam bentuk sapi hidup maupun daging beku.Produksi daging sapi di Indonesia sebagian besar berasal dari peternak kecil dan untuk propinsi penghasil ternak di wilayah timur Indonesia kontribusi sapi mencapai 30% dari produk domestik bruto sektor pertanian atau mencapai 1.9% dari total produk domestik bruto. Petani ternak sapi di Indonesia diperkirakan ada sebanyak  4,2 juta dan sebanyak 57% dari total petani ternak berada di Jawa Timur, Jawa Barat, Yogyakarta, Bali, NTB dan NTT (Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan 2015; AGB/2012/005, Waldron et.al. 2013) dan sebagiandari petani ternak ini tidak memiliki lahan(tercatat sebanyak 26% di dataran rendah di Jawa Timur dan 40% di Lombok Tengah (LPS/2008/038)). Pada umumnya, rumah tangga petani ternak yang tidak memiliki lahan memelihara sapi sebagai usaha keluarga yang merupakan bagian dari upaya diversifikasi usaha untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga (Waldron et.al. 2013).

Penggunaan pakan jadi sudah banyak dilakukan peternak penggemukan karena tidak mempunyai cukup lahan untuk menanam hijauan pakan ternak namun pertumbuhan sapi penggemukan di tingkat peternak masih rendah karena ransum pakan yang disusun dan diberikan pada ternak masih berdasarkan harga termurah saja dan belum berorientasi pada prinsip hemat biaya dan efisien. Pemahaman peternak mengenai keuntungan dari perbaikan pakan, dimana perbaikan pakan akan meningkatkan pertumbuhan dan menurunkan biaya produksi persatuan berat badan masih rendah masih rendah selain itu peternak juga enggan mengambil resiko dan tidak punya alat bantu dan pengetahuan untuk melakukan formulasi pakan sederhana berdasarkan prinsip nutrisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbaikan kualitas pakan pada sapi Ongole menghasilkan pertambahan berat badan harian sebesar 0,9 Kg dan keuntungan meningkat dari Rp. 15.770 menjadi Rp. 24.180/ekor/hari.  Disetiap daerah terdapat limbah pertanian dan industri yang merupakan sumber energi dalam campuran pakan namun informasi efektivitas pemanfaatannya sering kali belum tersedia. Namun penelitian dasar pemanfaatan limbah pertanian dan industri untuk pakan sudah banyak dilakukan  dengan demikian hanya dibutuhkan beberapa penyesuaian untuk penggunaannya karena ada perbedaan sumber pakan lainnya yang tersedia disetiap daerah. Untuk memperbaiki kondisi tersebut diatas maka perlu dikembangkan pembuatan pakan sederhana yang murah dan efektif  diberbagai daerah dengan menggunakan bahan pakan yang tersedia didaerah tersebut, membuat kalkulator pakan untuk memudahkan pengguna menggantikan bahan pakan yang tertera dalam ransum dengan bahan pakan yang tersedia atau murah disuatu tempat atau pada waktu tertentu . Salah satu pembatas dalam pembuatan pakan adalah pakan sumber energi yang murah dan tersedia dilokasi. Oleh karena itu perlu di identifikasi dan ditemukan pakan sumber energi dan cara penggunaan dan pencampurannya dengan bahan pakan lain yang tersedia di lokasi setempat.

Tujuan

Tujuan umum dari penelitian adalah meningkatkan keuntungan dari kegiatan penggemukan skala kecil melalui pengembangan ransum pakan sederhana yang hemat biaya sedangkan tujuan khususnya adalah menyusun ransum sederhana yang hemat biaya dengan efisiensi konversi pakan yang lebih tinggi dari yang digunakan peternak sekarang, melakukan intervensi teknologi pembuatan pakan dengan campuran bahan pakan yang terbaik bersama peternak skala kecil dan menengah secara partisipatif dan melakukan analisaekonomi terhadap intervensi dan adopsi yang dilakukan dan melakukan dokumentasi dampak ekonomi dan sosial pada  anggota dan rumah tangga yang terlibat

Materi dan Metode Penelitian

Untuk menjawab tujuan penelitian maka di BPTO-NTB rencanakan sebanyak 3 penelitian yang meliputi  Live weight gain response curve of Bali bulls sourced from dry (low body condition score bulls) or wet (high body condition score bulls) regions of NTB, Live weight gain response of Bali bulls to cassava or rice bran as a supplement to various forage feeding systems (UM) dan body condition score (BCS) response of cow at calving and 100 days post-calving to least cost ration supplement (Bali cows)

Penelitian live weight gain response curve of Bali bulls sourced from dry (low body condition score bulls) or wet (high body condition score bulls) regions of NTB dilakukan di Pototano Sumbawa Barat. Seleksi sapi sesuai dengan kebutuhan penelitian sudah dilakukan pada bulan Oktober dan November 2017. Pada akhir bulan November 2017 didapatkan sebanyak 48 ekor sapi jantan muda sesuai dengan kebutuhan penelitian yaitu 24 ekor sapi jantan yang berasal dari daerah basah yang diasumsikan sebagai wilayah cukup pakan dan 24 ekor sapi jantan berasal dari daerah kering yang diasumsikan sebagai wilayah  dengan ketersediaan pakan terbatas. Sapi ini kemudian secara acak dibagi kedalam kandang dan kemudian sapi dari masing-masmg wilayah secara acak dialokasikan kedalam perlakuan pakan.  Perlakuan pakan untuk kedua kelompok sapi yang berasal dari daerah yang berbeda adalah:

  1. Jerami jagung sebanyak 0,5%  berat badan + lamtoro adlibitum (kontrol, P0)
  2. Jerami jagung sebanyak 0,5% berat badan + ubi kayu 0,5% berat badan + lamtoro adlibitum (P1)
  3. Jerami jagung sebanyak 0,5% berat badan + ubi kayu 1,0% berat badan + lamtoro adlibitum (P2)
  4. Jerami jagung sebanyak 0,5% berat badan + ubi kayu 1,5% berat badan + lamtoro adlibitum (P1)

Jumlah sapi untuk setiap perlakuan pakan dari wilayah yang berbeda masing-masing sebnayak 6 ekor sebagai ulangan.

Selain diberi pakan sesuai dengan perlakuan semua sapi diberikan mineral berupa mineral mix ditambah garam. Pemberian mineral dilakukan pagi hari sebelum pemberian pakan. Pakan pertama yang diberikan adalah jerami jagung kemudian diikuti dengan pemberian ubi kayu. Pemberian ubi kayu dilakukan 2-3 kali tergantung kecepatan sapi mengkonsumsinya. Setelah pemverian ubi kayu pertama sapi diberikan lamtoro, untuk yang pertama dipagi hari diberikan dengan jumlah terbatas 2-3 kg/ekor dan sisanya diberikan sore hari sehingga ternak mempunyai pakan sepanjang malam. Penimbangan dilakukan setiap minggu dan pengukuran pakan dilakukan setiap hari setelah selesai periode adaptasi kandang dan pakan.

Berat awal keseluruhan sapi sebelum diperlakukan adalah 116,5 ± 12,7 Kg dengan skor kondisi tubuh 2,44 ± 0,4.4. Berat badan setelah periode adaptasi terhadap kandang dan pakan berat sapi pada masing-masing perlakuan untuk daerah basah dan kering adalah;

No

Perlakuan

Basah (Kg)

Kering (kg)

Keterangan

1

P0 (kontrol)

121,2 ± 11,18

117,5 ± 13,37


2

P1

121,9 ± 14,62

118,0 ± 13,37


3

P2

120,8 ± 11,55

115,0 ± 11,38


4

P3

123,5  ±  6,16

116,4 ± 13,18


Adaptasi terhadap pakan perlakuan untuk masing-masing ternak sangat berbeda. Secara umum ternak tidak mengalami permasalahan yang berarti untuk beradaptasi terhadap pakan jerami jagung kering, namun untuk pakan lamtoro dan ubi kayu kemampuan adaptasi sangat bervariasi terdapat ternak yang memerlukan waktu lebih dari 3 minggu untuk dapat beradaptasi terhadap pakan lamtoro dan sebagian membutuhkan waktu adaptasi sampai lebih dari 4 minggu untuk pakan ubi kayu terutama ternak yang mendapatkan perlakuan pakan ubi kayu sebesar 1,5% dari berat badan.


Web Analytics