Berita

Workshop Model Kawasan Rumah Pangan Lestari di Kota Mataram

Pin It

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTB telah melaksanakan workshop Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (MKRPL) untuk wilayah Kota Mataram, Selasa (9/12/2014). Bertempat di Aula Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kelautan (BP4K) Kota Mataram, workshop diikuti oleh 40 orang peserta dari unsur petani, Penyuluh, Kasiter Korem 162/Wira Bhakti beserta staf, Sekretaris BP4K Kota Mataram, Bhayangkari Polda NTB, dan Tim Penggerak PKK Kota Mataram. Acara dibuka oleh Kepala BPTP NTB, Dr. Ir. Dwi Praptomo S, MS. Dalam arahannya Kepala BPTP NTB menyatakan bahwa kegiatan workshop ini sangat penting sebagai wahana untuk menyampaikan berbagai pengalaman, keberhasilan, manfaat serta permasalahan yang dihadapi dalam implementasi MKRPL di Kota Mataram dalam tiga tahun terakhir. Lebih jauh disebutkan bahwa dalam pengembangan MKRPL di NTB, BPTP NTB telah menjalin kerjasama dengan TNI dan Bhayangkari Polda NTB untuk mempercepat pengembangan MKRPL. Melalui workshop ini diharapkan dapat dibangun komunikasi dan kerjasama yang baik dengan berbagai stakeholder yang terkait, baik TNI, Polri, Tim Penggerak PKK, Dinas/instansi terkait, Penyuluh dan tokoh masyarakat.

Dalam acara workshop yang dipandu oleh Bq. Tri Ratna Erawati, SP.M.Si, disampaikan tiga materi terkait perkembangan MKRPL dan hasil-hasilnya, yaitu: (1) Perkembangan MKRPL di Kota Mataram oleh Ir. Achmad Muzani, (2) Hasil MKRPL dan permasalahannya oleh Dr. Moh. Nazam, SP.M.Si dan Pengalaman Penerapan MKRPL di Lingkungan Bhayangkari oleh Ketua Bhayangkari Polda NTB yang diwakili ibu Leny Nasution. Dalam paparannya Achmad Muzani menjelaskan latar belakang lahirnya konsep MKRPL serta tujuan dan manfaatnya bagi ketahanan pangan rumah tangga. Dikatakan bahwa ketahanan pangan harus di mulai dari rumah tangga melalui peningkatan peran rumah tangga dalam menyediakan aneka ragam pangan yang dibutuhkan. Salah satu upaya yang dapat dikembangkan adalah dengan mengoptimalkan pemanfaatan lahan pekarangan dengan budidaya aneka tanaman, ternak dan atau ikan.

Selanjutnya Moh. Nazam menjelaskan bahwa penerapan MKRPL memberikan kontribusi yang cukup baik bagi pemenuhan pangan dan gizi rumah tangga terutama sayuran dan bumbu masak kebutuhan sehari-hari, termasuk mengatasi gejolak harga cabai yang saat ini mencapai Rp. 80.000 per kg. Disebutkan bahwa hasil pengamatan di lapangan menunjukkan sekitar 62,5% hasil MKRPL untuk konsumsi langsung, 25% untuk sosial (diberikan kepada tetangga), dan 12,5% dapat dijual untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga. Pemenuhan kebutuhan rumah tangga dari hasil MKRPL mampu menghemat pengeluaran rata-rata Rp. 215.000 per bulan. Permasalahan utama dalam pengembangan MKRPL antara lain terkait kondisi biofisik lahan pekarangan, serangan organisme pengganggu tanaman, keterbatasan air, rendahnya konsolidasi kelembagaan KRPL dan kurangnya partisipasi anggota.

Sementara itu, Leni Nasution memaparkan pengalamannya membina KRPL di lingkungan Bhayangkari. Menurutnya MKRPL di Lingkungan Bhayangkari sudah berkembang ke daerah-daerah. Hasil MKRPL selain untuk konsumsi juga dapat dijual dan dijadkan sebagai salah satu alternatif sumber pendapatan untuk menambah Kas Bhayangkari.

Dalam acara diskusi muncul berbagai tanggapan dan harapan para peserta agar KRPL terus dikembangkan mengingat manfaatnya yang begitu besar bagi ketahanan pangan rumah tangga. Tim Penggerak PKK Kota Mataram menyatakan bahwa pengembangan KRPL tidak bisa dilepas begitu saja tanpa dukungan pembinaan yang kontinyu dari aparat, baik penyuluh pertanian maupun Dinas/Instansi terkait. Untuk itu Tim Penggerak PKK Kota Mataram mengharapkan peran BPTP NTB agar lebih ditingkatkan. Di sisi yang lain, disebutkan bahwa  Tim Penggerak PKK Kota Mataram siap bekerjasama dalam pembinaan KRPL di Kota Mataram.  (M Nazam)

Web Analytics