Berita

Training of Trainers (TOT) Pertanian Konservasi dari FAO di BPTP NTB

Pin It

Food and Agriculture Organization (FAO) bekerjasama dengan Kementerian Pertanian RI mengembangkan program pengurangan resiko bencana akibat perubahan iklim melalui promosi pertanian konservasi di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Kebutuhan tenaga pendamping untuk pertanian konservasi dirasakan semakin meningkat, untuk mendampingi masyarakat yang sudah mengadopsi pertanian konservasi.

Untuk mendukung program tersebut, FAO menggelar kegiatan Training of Trainers (TOT) dengan tema Pertanian Konservasi, Selasa (11/11/2014) di ruang utama BPTP NTB. Kegiatan tersebut berlangsung selama 5 hari (11-15/11/2014). TOT dihadiri oleh 31 orang peserta terdiri dari perwakilan intansi pemerintah terkait, BPTP NTB, Perguruan Tinggi, Mahasiswa, LSM Pertanian dan Penyuluh Pertanian Lapangan.

Koordinator Program Pertanian Konservasi Wilayah NTB dan NTT, Ujang Suparman dalam pengantarnya menjelaskan bahwa pertanian konservasi bertujuan untuk meningkatkan hasil pertanian dengan mengurangi biaya produksi, menjaga kesuburan tanah, dan menjaga ketersediaan air. Hal tersebut merupakan suatu upaya untuk mencapai pertanian berkelanjutan dan memperbaiki kesejahteraan petani.

Lebih lanjut, Ujang mengharapkan agar dalam kegiatan ini peserta dapat menggali ilmu pegetahuan sebanyak-banyaknya dan dapat menyumbangkan saran serta pemikiran sehingga menghasilkan persepsi yang sama tentang pertanian konservasi. Harapan disampaikan kepada pemerintah agar dapat mengeluarkan kebijakan pendukung serta penyuluh pertanian lapangan dapat membina petani secara langsung.

Acara Training of Trainers (TOT) secara resmi dibuka oleh Kepala BPTP NTB, Dr. Ir. Dwi Parptomo S., MS . Dalam sambutannya Dwi Praptomo mengatakan, kegiatan TOT yang diinisiasi oleh FAO sangat bermanfaat untuk  petani yang mengelola pertanian pada lahan kering di NTB. Lahan kering di NTB yang luasnya sekitar 800.000 ha perlu ditangani dengan baik melalui konservasi pertanian. Lebih lanjut diungkapkan bahwa kondisi lahan di NTB sangat memprihatinkan karena penggunaan pupuk kimia yang berlebihan oleh sebagian petani.

“Ilmu pengetahuan dan pengalaman yang didapatkan dalam kegiatan TOT pertanian konservasi harus dapat di praktekkan oleh peserta di wilayah binaan masing-masing sehingga lahan petani bisa optimal, bernilai ekonomi tinggi, dan dapat meningkatkan produksi pertaniannya”, demikian ditekankan oleh Dwi Praptomo di akhir sambutannya.

Acara dilanjutkan dengan pemaparan materi tentang pentingnya pertanian konservasi, teknik penanaman dengan azas pertanian konservasi oleh Ujang Suparman dan John Weatherson.

Rangkaian acara dilanjutkan dengan diskusi serta menerima masukan dari peserta yang dipandu oleh Ujang Suparman. Peserta banyak mengajukan pertanyaan tentang keadaan struktur tanah, cara memanfaatkan bahan organik untuk perbaikan tanah, dan mengungkapkan pengalamannya di lapangan. Atas pertanyaan dan masukan tersebut, narasumber menjawab dan memberikan solusi yang dapat memuaskan peserta. Workshop dilanjutkan esok harinya dimana peserta akan mendapatkan materi dan praktek lapangan. (M Faesal Matenggomena & Farida Sukmawati M)

Web Analytics