Berita

Temu Lapang Model Percepatan Peningkatan Produksi Kedelai Ramah Lingkungan di Praya Barat, Lombok Tengah

Pin It

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Nusa Tenggara Barat (BPTP NTB) telah melaksanakan Temu Lapang Model Percepatan Peningkatan Produksi Kedelai Ramah Lingkungan di Desa Setanggor, Kecamatan Praya Barat, Kabupaten Lombok Tengah, Senin (27/10/14). Temu lapang diikuti oleh 150 orang peserta terdiri atas pejabat Dinas/Instansi terkait tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Kabupaten Lombok Tengah, Camat Praya Barat, Kepala Unit Pelaksana Teknis Badan (UPTB) Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Kecamatan (BP3K) dan PPL se Kecamatan Praya Barat, Komandan Rayon Militer Praya Barat, Kepala Desa Setanggor dan Tanak Rarang, Pengurus Gaabungan Kelompok Tani dan anggota kelompoktani se-Desa Setanggor dan Tanak Rarang, Kecamatan Praya Barat.

Acara Temu Lapang diawali dengan penjelasan teknis tentang Model Percepatan Peningkatan Produksi Kedelai Ramah Lingkungan oleh Penanggung Jawab Kegiatan Dr. Moh. Nazam. Dr. Moh. Nazam menjelaskan  bahwa kegiatan ini merupakan salah satu sub sistem Model Akselerasi Pembangunan Pertanian Ramah Lingkungan Lestari (MAP2RL2) di Nusa Tenggara Barat. Model ini dibangun dengan memanfaatkan potensi dan sumberdaya yang tersedia secara optimal yang diwujudkan dengan mengintegrasikan ternak sapi, padi dan kedelai. Desa Setanggor merupakan salah satu basis peternakan sapi di Lombok Tengah. Di desa ini  telah dibangun sekitar 117 unit instalasi biogas skala rumah tangga yang memanfaatkan kotoran ternak sapi untuk menghasilkan energi biogas. Lebih jauh disampaikan bahwa menurut petani setiap instalasi biogas cukup dioperasikan dengan kotoran dari 1-2 ekor ternak sapi yang akan menghasilkan gas metan setara dengan 6-9 kg gas elpiji/bulan. Pemanfaatan biogas ini dapat menghemat pengeluaran rumah tangga sekitar  Rp.40.000 – 60.000/bulan. Adapun limbah padat intalasi biogas sangat baik digunakan sebagai pupuk untuk memperbaiki struktur tanah. Setiap unit insatalsi biogas dapat menghasilkan 2 ton kompos/tahun dan cukup untuk 1 ha sawah, sehingga dapat mengurangi penggunaan pupuk urea 50 kg/ha. Di lain sisi, limbah tanaman berupa jerami padi dan berangkasan kedelai sebanyak 7 ton/ha/musim dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak sapi 1-2 ekor setahun.

Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian NTB Dr. Ir. Dwi Praptomo S., MS dalam sambutannya menyatakan bahwa BPTP NTB sesuai tugas dan fungsinya menyediakan berbagai teknologi unggulan yang diperlukan antara lain teknologi pengolahan limbah ternak menjadi kompos  dan pengolahan limbah tanaman untuk pakan ternak. Demikian pula teknologi untuk meningkatkan produktivitas padi dan kedelai juga sudah banyak berkembang di NTB diantaranya teknologi tanam padi jajar legowo yang telah terbukti dapat meningkatkan produktivitas padi hingga 20%. Penerapan jarak tanam teratur pada kedelai merupakan salah satu syarat untuk mencapai tingkat produktivitas sesuai dengan daya hasil varetas.

Pada acara Temu Wicara yang dipandu langsung oleh Kepala BPTP NTB, para petani mengungkapkan berbagai permasalahan yang dihadapi antara lain terkait pengaturan air irigasi, hama penyakit, masalah harga kedelai yang selalu jatuh ketika panen raya serta masalah yang terkait dengan penyusunan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) . Persoalan tersebut telah direspon dengan baik oleh pejabat berwenang, antara lain dari Dinas PU dan ESDM Kabupaten Lombok Tengah, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi NTB dan peneliti BPTP NTB. Terkait masalah pengaturan air, para petani diminta untuk menaati pola tanam yang telah ditentukan, sedangkan masalah harga kedelai saat ini sudah ada harga pembelian pemerintah (HPP) yang diatur berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan tahun 2014 dimana HPP Kedelai ditetapkan Rp 7.600,-/kg. Para petani berharap agar kegiatan temu lapang seperti ini dapat diperbanyak frekuensinya sebagai wahana yang sangat baik untuk menyampaikan aspirasi kepada pemerintah.

Pada akhir temu acara, Camat Praya Barat selaku penguasa wilayah mengajak masyarakat, khususnya petani untuk senantiasa bersyukur atas segala bantuan dan perhatian pemerintah selama ini dengan melaksanakan program pemerintah dan anjuran teknologi dari BPTP NTB bersama PPL dengan sebaik-baiknya. Pada kesempatan tersebut Camat Praya Barat menyampaikan terima kasih kepada BPTP NTB yang selama ini telah membina petani di wilayahnya, dan berharap kiranya bimbingan peneliti dan penyuluh BPTP NTB dapat terus dilanjutkan untuk kesejahteraan petani dan keluarganya. (Moh. Nazam).

Web Analytics