Berita

Panen Jagung Di Laboratorium Lapang Model Percepatan Pembangunan Pertanian Di Lahan Kering Iklim Kering (m-P3-LKIK) Kabupaten Bima

Pin It

Upaya Badan Litbang Pertanian untuk mendiseminasikan hasil-hasil penelitian dan pengkajian, serta pengembangannya secara luas terus ditingkatkan. Salah satu kegiatan yang diinisiasi Forum Komunikasi Profesor Riset (FKPR) adalah pengembangan di wilayah Lahan Sub Optimal (LSO) dan wilayah perbatasan, di 6 provinsi di Indonesia, yang dimulai akhir tahun 2012 lalu. Salah satu lokasi kegiatan FKPR tersebut adalah di Desa Mbawa Kecamatan Donggo Kabupaten Bima, NTB. Di daerah ini sedang dibangun model Percepatan Pembangunan Pertanian Lahan Kering Iklim Kering (m-P3-LKIK). Kegiatan persiapan dilakukan di akhir tahun 2012, kemudian pada tahun 2013 mulai dilaksanakan survai, PRA, pertemuan koordinasi, workshop, pembangunan dam parit, saluran irigasi, introduksi varietas unggul padi, jagung, kacang tanah, kedelai, kacang hijau, hijauan makanan ternak, manajemen pemeliharaan sapi, pembuatan kompos dan inovasi teknologi lainnya.

Kegiatan ini dilanjutkan pada tahun 2014 dengan terus memvalidasi model, inovasi teknologi baru, termasuk dengan membangun laboratorium lapang seluas 10 ha, dengan ditanami padi gogo pada musim hujan (MH), dan dilanjutkan dengan tanaman jagung dan kacang tanah. Pada hari Selasa (16/09/2014) telah dilakukan panen jagung oleh Bupati Bima, didampingi Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Asisten Deputi Produksi Riptek Strategis Kemenristek, Kepala BPTP NTB, disaksikan para petani, penyuluh pertanian, petugas, masyarakat setempat. Selesai panen dilanjutkan dengan tanam tugal kacang hijau di areal bekas tanaman jagung.

Acara dilanjutkan dengan temu lapang dan temu wicara, dihadiri para pejabat lingkup Badan Litbang Pertanian, Kepala Balai Penelitian Komoditas terkait, Kemenristek, FKPR, BPTP NTB dan BPTP NTT, Bupati dan jajaran SKPD Pemerintah Kabupaten Bima, Ketua DPRD Kabupaten Bima, penyuluh pertanian, petani, dan masyarakat tani.

Kepala BPTP NTB, Dr. Dwi Praptomo dalam laporannya menyampaikan bahwa model P3-LKIK ini merupakan kerjasama antara Badan Litbang Pertanian (FKPR) dengan Pemkab Bima (Bappeda) yang telah berjalan dua tahun. Kerjasama ini bertujuan untuk mensinergikan kegiatan dalam membangun model P3-LKIK sehingga model ini dapat direplikasi di daerah lain yang sama kondisi agroklimatnya. Hingga sekarang telah dibangun 3 unit dam parit yang dapat mengairi sawah sekitar 25 ha, dan meningkatkan Indek Pertanaman (IP) dari 100 menjadi 300. Varietas padi gogo (inpago) telah dintroduksikan, juga jagung komposit, kacang tanah, kedelai, dan kacang hijau. Manajemen pemeliharaan sapi dengan perkandangannya, penanaman hijauan makanan ternak, dan pembuatan kompos sudah dilakukan.

Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Dr. Dedi Nursyamsi, M.Agr, dalam sambutannya, menjelaskan bahwa adalah tugas Badan Litbang Pertanian Kementerian Pertanian terus-menuerus mendiseminasikan hasil-hasil penelitian dan pengkajian, hingga pengembangannya. Kegiatan ini merupakan salah satu upaya diseminasi sekaligus pengembangan model P3-LKIK yang diinisiasi FKPR, dengan bersinergi dengan Pemda Kabupaten Bima melalui SKPD terkait. Dalam m-P3LKIK, faktor air menjadi kunci utama keberhasilan program ini, sehingga model pengelolaan air sungai secara efisien dengan membangun beberapa dam parit sebagai titik ungkit keberhasilan m-P3LKIK.

Bupati Bima, H. Syafrudin, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Badan Litbang Pertanian, FKPR dan BPTP NTB yang telah membantu membangun Kabupaten Bima melalui berbagai kegiatan, termasuk dalam kegiatan m-P3-LKIK di Desa Mbawa Kecamatan Donggo. Bupati mengharapkan agar SKPD terkait dibawah koordinasi Bappeda dapat bersinergi dengan baik dalam program dan kegiatan ini, sehingga m-P3-LKIK menjadi model yang dapat direplikasi di daerah-daerah lain di Kabupaten Bima. Pemkab Bima akan membantu menyiapkan dana dan bahan-bahan yang diperlukan, misalnya semen dan pasir, dalam rangka membangun 30 dam parit yang diperlukan masyarakat di daerah ini.

Acara selanjutnya temu wicara yang dipandu oleh Kepala BPTP NTB. Dalam temu wicara para petani banyak menanyakan masalah-masalah terkait dengan ketersediaan pupuk dan harganya, sumber air yang terbatas, pengembangan benih jagung dan kedelai, perbaikan kesuburan lahan, dan permintaan berbagai teknologi yang diwujudkan dalam demplot dan gelar teknologi lainnya.

Atas berbagai pertanyaan tersebut, nara sumber dari FKPR, Balit Komoditas, Puslitbang/ Balai Besar, BPTP NTB, dan SKPD terkait memberikan jawaban dan respon yang cukup memuaskan bagi para petani. Semoga kegiatan ini bermanfaat bagi para petani, terutama di daerah lahan kering beriklim kering. (DPS)

Web Analytics