Berita

Panen Dembul Padi Hibrida Di Sumbawa

Pin It

Kebutuhan pangan di Indonesia terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah penduduk yang sulit dikendalikan. Padi sebagai sumber bahan pangan terbesar masyarakat Indonesia terus menjadi fokus perhatian pemerintah. Upaya peningkatan produksi padi menjadi program rutin pemerintah pusat maupun daerah. Pada program surplus 10 juta ton beras nasional tahun 2014, Provinsi Nusa Tenggara Barat ditugasi pemerintah pusat  untuk menyumbang produksi padi sebesar 2,3 juta ton GKG. Untuk memenuhi target tersebut salah satu peluang paling besar di NTB adalah peningkatan produktivitas melalui padi hibrida. Pengembangan padi hibrida telah lakukan oleh Provinsi NTB salah satunya melalui BPSB Provinsi NTB dalam bentuk DEMBUL PADI hibrida dan untuk mensosialisasikan dan memasyaraktkan padi hibrida telah dilakukan temu lapang pada Selasa (3/92014) di Desa Berare Kec. Moyo Hulu Kabupaten Sumbawa, NTB. Kegiatan temu lapang di hadiri oleh Diperta Provinsi, Diperta Kabupaten, BPSB, BPTP, BUMN, Swasta, BP3K Kabupaten Sumbawa dan petani setempat.

Acara temu lapang diawali dengan kunjungan lapangan di pandu oleh petugas BPSB Kabupaten Sumbawa Lintang Susanto. Dalam kunjungan lapangan peserta dipersilakan untuk memberikan penilaian terhadap keragaan dari 10 varietas padi hibrida yang di perkenalkan. Varietas - varietas yang di demontrasikan adalah; (1). Chandra, (2). Sembada 168, (3). Sembada B9, (4). DG 1 SHS, (5). Hipa Jatim, (6). Hipa 5 Ceva, (7). Hipa 7, (8). Hipa10, (9). Hipa 11, dan (10). Hipa 14. Selain informasi keragaan varietas pada acara kunjungan lapangan  peserta juga dapat data dosis pupuk, tanggal semai, tanggal tanam, dan luas lahan yang di gunakan.

Kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh masing-masing narasumber. Kesempatan pertama disampaikan oleh Ir. Hj. Nur Ilmiati mewakili Kadis Pertanian Provinsi NTB. Dalam sambutannya Ir. Hj Nur menyampaikan program perbenihan di NTB. Fokus kebijakan perbenihan Provinsi NTB adalah meningkatkan produktivitas untuk mempertahankan ketahanan pangan. Sementara itu program perbenihan kab Sumbawa disampaikan oleh sekretaris dinas pertanian Kabupaten Sumbawa oleh Ir. Rahman. Menurut Rahman Kabupaten Sumbawa sampai saat ini kabupaten yang surplus pangan, meskipun produktiftas masih rendah yaitu 4,9 ton per ha. Tetapi menurut Rahman fakta di lapangan beberapa lokasi produktifitasnya sudah mencapai 7 – 8 ton per ha. Kebijakan kabupaten Sumbawa dalam mempertahankan Swasembada pangan adalah menata penggunaan lahan pertanian ke non pertanian. Dan diharapkan kegiatan Dembul yang dilaksanakan di Kabupaten Sumbawa dapat sebagai pemacu masyarakat untuk mengembangkan padi hibrida sepulang dari temu lapang.

Sambutan lainnya dari Kepala BPSB Provinsi NTB Sukimin, SP, dalam pengantarnya Sukimin menjelaskan bahwa prospek padi hibrida sangat baik untuk dikembangkan di Sumbawa, khususnya dilokasi Dembul. Upaya Provinsi NTB untuk meningkatkan produksi melalui pengembangan VUB padi Inbrida cukup banyak endala, selain banyaknya varietas yang dilepas saat ini, dan ditambah penamaan varietas dengan sistem seri. Apabila salah satu varietas yang dikembangkan tidak sesuai dengan preferensi petani, maka petani akan memvonis semua Inpari tidak baik. Tahun ini Provinsi NTB mengembangkan padi hibrida di kabupaten Sumbawa seluas 1000 ha dengan varietas Sembada. Menurut Sukimin tujuan dembul selain untuk memasyarakatkan padi hibrida, juga untuk mencari varietas lain yang berpotensi dan adaptasi lebih baik dari Sembada sebagai alternatif. Sambutan dari BPTP NTB disampaikan oleh Lalu Wirajaswadi, MEd mewakili Kepala BPTP NTB menyatakan untuk meningkatkan produksi, peluang yang paling mudah adalah meningkatkan produktifitas tanaman padi. Varietas merupakan salah satu komponen yang sangat murah dan mudah dan tidak perlu di bayar. Saat ini Badan Litbang pertanian telah melepas varietas padi cukup banyak dengan berbagai karakter. Ini sangat penting untuk diketahui oleh petani, karena selama ini pemahaman petani ke varietas cukup negatif. Padi sawah dari Inpari 1 sampai 33 memiliki keragaman karakter yang berbeda, sehingga petani tinggal menyesuaikan mana yang terbaik di lokasi petani. Kegiatan Dembul yang saat ini sedang dilaksanakan BPSB dan display VUB oleh BPTP NTB di setiap kecamatan se NTB merupakan rangkaian kegiatan untuk meningkatkan produksi padi di NTB, karena melalui kegiatan tersebut akan keluar rekomendasi varietas dari BPTP untuk dikembangkan oleh petani. Selain padi Inbrida menurut Lalu Wirajaswadi, pengembangan varietas padi hibrida juga sangat diperlukan, karena potensi padi hibrida relatif lebih tinggi dibandingkan padi Inbrida. Lalu Wirajaswadi juga tidak lupa menyampaikan terimakasih Kepada BPSB yang telah mendiseminasikan padi Hibrida (HIPA) produk Badan Litbang Pertanian.

Lebih lanjut Lalu Wirajaswadi menekankan untuk menghasilkan produksi yang tinggi harus memerlukan energi / nutrisi yang tinggi, sehingga potensi itu akan keluar sesuai yang dimiliki. Pemahaman tentang manajemen usahatani padi hibrida sangat perlu di sosialisasikan ke petani, karena selama ini petani belum paham arti potensi, sehingga memperlakukan padi hibrida dan Inbrida dalam usahataninya selalu sama. Kalau kondisi itu tidak berubah maka pengembangan padi hibrida akan sulit direalisasikan. Kendala lainnya adalah masalah harga benih hibrida lebih mahal dibanding benih Inbrida. Kelemahan lainnya yang sulit dihindari adalah dengan hibrida maka petani akan tergantung pada produsen benih, karena benih hibrida merupakan benih F1/ benih sebar.

Acara dembul diakhiri dengan diskusi, dalam diskus penangkar benih Kabupaten Sumbawa yang diwakili oleh Junaidi dan Asbenindo Provinsi NTB yang disampaikan oleh H. Drs. Amrulloh menaruh harapan yang besar terhadap pengembangan padi hibrida di NTB dan khususnya di Sumbawa. Keduanya menanyakan mekanisme kerjasama pembuatan benih hibrida, dan analisa ekonomisnya. Dari pertanyaan tersebut ditanggapai oleh Ir. L. Sukaryadi, MM perwakilian dari PT. Biogen. Dalam penjelasannya akan di konsultasikan dengan pusat. L. Sukaryadi mencontohkan kegiatan kerjasama di Ngawi Jawa Timur, petani di Ngawi calon benihnya di hargai 15.000/kg, dan benih jantan/konsumsi diserahkan ke petani, sehingga diperkiraan pendapatan kotor petani dalam usaha penangkaran benih hibrida sekitar 60 juta per ha. Untuk itu L. Sukaryadi akan menindaklanjuti hasil pertemuan ini dengan pihak pusat kemudian hasilnya akan disosialisasikan kembali ke petani. (Sabar Untung)

Web Analytics