Berita

Workshop Perencanaan Pengembangan Benih Sumber Varietas Unggul Baru (VUB) Padi dan Kedelai di Nusa Tenggara Barat

Pin It

Salah satu rangkaian acara Pekan Agroinovasi dalam rangka HUT Badan Litbang Pertanian ke-40 dan 20 tahun lahirnya BPTP NTB yang diselenggarakan oleh BPTP NTB pada Rabu, (20/8/2014) adalah Workshop Perencanaan Pengembangan Benih Sumber Padi dan Kedelai. Bertempat di Aula UPBS BPTP NTB Workshop Pengembangan Benih Sumber Padi dan Kedelai  diikuti 30 orang peserta dari BBI, BBU, BPSB-TPH, penangkar, dan petani mitra se Pulau Lombok.

Kegiatan workshop perencanaan pengembangan benih sumber padi dan kedelai di buka oleh Kepala Seksi Kerjasama dan Pelayanan Pengkaian BPTP NTB Dr. drh. Nurul Hilmiati mewakili Kepala BPTP NTB. Dalam kata pengantarnya Nurul Hilmiati menegaskan pentingnya benih VUB dalam usahatani padi dan kedelai. Benih VUB menurut Nurul Hilmiati memberi peluang untuk meningkatkan produksi, karena VUB memiliki sifat unggul yang belum ada pada varietas yang sudah dilepas oleh pemerintah. Acara workshop menyajikan 4 materi, yakni 1) Ketersediaan benih sumber padi dan kedelai di NTB yang disampaikan oleh Ir. L. Rachmat dari BBI Provinsi NTB, 2) Kebijakan Sistem Pengawasan dan Mutu Benih di NTB yang di sampaikan Kepala BPSB TPH  Provinsi NTB.  Sukimin, SP, 3)  Kebijakan Perbenihan di NTB yang disampaikan oleh Ir. Fadliah Ali., MSi mewakili Dinas Pertanian Provinsi NTB, dan 4) Model pengembangan benih sumber padi dan kedelai di NTB oleh Sabar Untung, SP.

Dalam pemaparan materi BBI di tegaskan bahwa kesiapan BBI sampai bulan Oktober untuk benih sumber kelas SS mencapai 90 ton, dan benih kelas FS 6.000 kg, tetapi benih kelas FS akan mati label pada bulan Oktober. Dan untuk benih SS pada akhir tahun 2014 akan bertambah, karena saat ini sedang dalam proses di tingkat lapangan. Untuk sistem pengawasan sertifikasi BPSB masih mengacu pada UU perbenihan yakni Permentan dan Kepmentan. Berdasarkan kondisi saat ini BPSB TPH NTB telah menunjuk BBI sebagai institusi yang memproduksi benih sumber kelas FS, dan SS, sedangkan penangkar diharapkan fokus pada penyediaan benih ES. Menurut Ir. Fadliah Ali selaku narasumber yang mewakili dari Dinas Provinsi NTB menyampaikan bahwa program peningkatan produksi tetap menjadi program prioritas, untuk itu Ir. Fadliah Ali berharap peran serta penangkar dan insan perbenihan lebih baik lagi dalam mengelola benih. Peningkatan luas areal tanam untuk memenuhi produksi sulit  dilakukan, karena alih fungsi lahan sulit di kendalikan, sehingga peranan benih berkualitas dan peningkatan dominasi varietas unggul baru perlu ditingkatkan.

Sementara itu yang disampaikan BPTP NTB yang di wakili oleh Sabar Untung, menekankan bahwa peran BPTP dalam mendukung program pembangunan pertanian di NTB adalah memberikan rekomendasi spesifik lokasi. Salah satu wujud nyata yang telah dilakukan BPTP saat ini adalah merekomendasikan varietas unggul baru. Saat ini BPTP NTB melalui UPBS dan kegiatan pendampingan SLPTT telah banyak merekomendasikan benih varietas unggul baru (VUB). Hasil dari kegiatan display dan perbanyakan benih Inpari 19,22,30, memiliki potensi yang baik untuk dikembangkan di NTB. Sabar Untung menyampaikan bahwa varietas Inpari 22 merupakan varietas yang memiliki sifat unggul tahan terhadap penyakit blast, sehingga kedepan akan dikembangkan karena saat ini di NTB menjadi ancaman utama pada pertanaman petani di NTB.

Saran- saran dan masukan dari pengawas benih dan tanaman di NTB, Penangkar, serta Peneliti dan Penyuluh di NTB agar kebijakan Sistem Perbenihan lebih merespon kondisi di lapangan. Workshop di tutup dengan kesepakatan akan ditindaklanjuti hasil – hasil diskusi dengan penyesuaian kebijakan oleh pemangku kebijakan masing-masing institusi terkait.  (Farida Sukmawati M)

Web Analytics