Berita

Panen Padi Inpari-30 dan Temu Lapang di Kota Bima

Pin It

Upaya untuk mempertahankan swasembada pangan, terutama beras, dengan target surplus beras 10 juta ton secara nasional masih menjadi tumpuan harapan seluruh masyarakat Indonesia, termasuk di Nusa Tenggara Barat (NTB). Demikian halnya di Kota Bima, meskipun lahan pertaniannya tidak terlalu luas, namun dalam upaya mendukung target surplus beras di NTB, telah dilakukan berbagai upaya terutama dengan peningkatan produktivitas, karena peningkatan luas areal tanam di wilayah kota jelas tidak memungkinkan lagi.

Berkaitan dengan hal itu, BPTP NTB telah melaksanakan kegiatan demplot Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi di Kota Bima bekerjasama dengan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Bima dan Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKP2) Kota Bima. Kegiatan demplot ini dilaksanakan di kelompoktani Morisama II, di Kelurahan Rabadompu, Kecamatan Raba di areal seluas 1 ha, menggunakan VUB padi varietas Inpari-30 Ciherang Sub-1. Teknologi PTT yang diterapkan menggunakan sistem tanam jajar legowo 4:1, dengan 1-3 bibit tanaman per lubang, ditanam pada tanggal 24/04/2014 dengan umur semai 18 hari. Rekomendasi pemupukan menggunakan pupuk Urea 200 kg/ha, pupuk NPK Phonska 200 kg/ha, pengendalian OPT dengan prinsip PHT dan pemantauan intensif.

Pada hari Kamis (24/07/2014) dilakukan acara panen dan temu lapang di lokasi demplot PTT padi, dengan panen simbolis oleh Walikota Bima, diwakili Asisten III, Kepala BPTP NTB, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kota Bima, dan Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Kota Bima, disaksikan para undangan dan penyuluh pertanian serta para petani.

Selesai panen, dilanjutkan dengan sambutan dari Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kota Bima, Ir, Syamsuddin, yang pada prinsipnya menyampaikan bahwa kegiatan demplot oleh BPTP NTB ini sangat diperlukan oleh petani di kota Bima, baik dari aspek teknologinya, maupun diseminasi varietas unggul baru dalam rangka meningkatkanĀ  produktivitas padi di Kota Bima.

Kepala BPTP NTB, Dr.Ir. Dwi Praptomo S, MS, dalam sambutannya menjelaskan bahwa sudah menjadi tugas BPTP NTB untuk selalu menyiapkan teknologi bagi para petani di seluruh NTB, termasuk di Kota Bima. Setiap tahun, BPTP NTB melaksanakan demplot PTT padi, jagung, dan kedelai di tiap kabupaten/kota di NTB, bekerjasama dengan Dinas yang menangani pertanian dan Badan Pelaksana Penyuluhan setempat. Demplot PTT padi di Kota Bima ini memperkenalkan VUB padi Inpari-30 Ciherang Sub-1, yang mempunyai beberapa keunggulan, diantaranya: umurnya pendek (110 hari), potensi produktivitas tinggi hingga 9,6 ton/ha GKG, rasa nasi pulen, tahan rendaman (sampai 15 hari), dan rendemen beras giling sekitar 70%. Dr.Ir. Dwi Praptomo S, MS, selanjutnya mengharapkan agar teknologi PTT terus dikembangkan, terutama dengan sistem tanam jajar legowo, juga VUB Inpari-30 Ciherang ini yang mempunyai banyak keunggulan, dalam rangka peningkatan produktivitas, pendapatan petani, dan swasembada pangan.

Walikota Bima yang diwakili Assisten III, Ir. Hamdan, dalam sambutanya menjelaskan bahwa 19% masyarakat Kota Bima masih mengandalkan sektor pertanian sebagai mata pencahariannya, ini berarti masih cukup banyak penduduk yang bekerja di sektor pertanian di kota. Seperti halnya dengan kota-kota lainnya, masalah utama yang dihadapi adalah alih fungsi lahan pertanian ke penggunaan lain, meskipun di Kota Bima sudah ada Perda tentang tata ruang yang juga dikaitkan dengan pengaturan alih fungsi lahan pertanian. Diharapkan semua, fihak ikut mengawasi masalah alih fungsi lahanĀ  pertanian, sehingga dukungan sektor pertanian, terutama dalam mempertahankan swasembada pangan dapat terus dilestarikan. Ir. Hamdan menyampaikan banyak terima kasih kepada BPTP NTB dalam mendiseminasikan teknologi baru, termasuk vaietas-varietas baru di Kota Bima dan mengharapkan agar SKPD terkait sektor pertanian dapat menyebar-luaskan teknologi ini di seluruh pelosok Kota Bima, melalui para penyuluh pertanian.

Di akhir acara temu lapang diadakan temu wicara antara fihak Pemerintah dengan para petani dan penyuluh pertanian. Beberapa hal yang mengemuka dalam temu wicara antara lain masalah penerapan sistem tanam jajar legowo yang tidak mudah, karena yang menanam adalah buruh tani, masalah keterlambatan sarana produksi (terutama benih dan pupuk), masalah kekurangan alsintan, dan infrastruktur yang belum memadai (saluran irigasi, dam, jalan usahatani. (DPS)

Web Analytics