Berita

Lokakarya Gelar Teknologi Tepat Guna (TTG) Provinsi Nusa Tenggara Barat XII Tahun 2014

Pin It

Sebagai bagian dari acara Gelar Teknologi Tepat Guna (TTG) Provinsi Nusa Tenggara Barat XII Tahun 2014, Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (BPMPD) Provinsi NTB menggelar acara Lokakarya Pengembangan dan Penerapan TTG, bertempat di Ruang Rapat Kenari Kantor Walikota Mataram pada Kamis (8/5/2014). Acara tersebut dihadiri oleh perwakilan Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa seluruh kabupaten/kota di NTB. Acara dibuka oleh Ir. Tadjuddin Erfandy, MSc, Kepala BPMPD Provinsi NTB.  Hadir sebagai narasumber pada kesempatan tersebut Kepala Bappeda Kota Mataram Lalu Martawang, SE,M.Si, Irfan Dilaga, SH,MH dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Mardiana, SP dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTB dan Ir. Muhammad Ridho dari PNPM Perdesaan NTB.

Dalam sambutannya, Tadjudin mengungkapkan pentingnya acara Gelar TTG dilangsungkan sebagai upaya menjembatani antara keberhasilan penemuan dengan kebutuhan masyarakat terhadap teknologi khususnya TTG. Tadjudin berharap acara Gelar TTG dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh seluruh peserta yang berasal dari seluruh daerah di Provinsi NTB.  Adapun Lalu Martawang dalam pemaparannya yang berjudul “Membangun Daya Ungkit Terhadap Peningkatan Produk Unggulan Daerah Melalui Pengembangan Teknologi Tepat Guna” menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Mataram berupaya mengembangkan TTG untuk mendukung aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat, agar dapat lebih maju dan mandiri, dengan terus memacu kreativitas dan inovasi masyarakat. Pemerintah Kota Mataram menyadari bahwa sumberdaya alam yang dimiliki sangat terbatas sehingga harus mengoptimalkan pengembangan Sumberdaya Manusia (SDM). Dengan demikian, pengembangan TTG diarahkan untuk memacu pertumbuhan industri yang menjadi unggulan Kota Mataram yaitu kerajinan mutiara, emas dan perak (MEP), kerajinan kayu dan cukli, kerupuk kulit, tahu dan tempe, kerajinan logam, konveksi dan bordir, kerajinan kulit kerang dan tanduk, serta makanan olahan.

Mardiana dalam pemaparannya yang berjudul “Teknologi Pemanfaatan Lahan Pekarangan Dan Pengolahan Hasilnya Mendukung Pengembangan Agribisnis Skala Rumah Tangga” menyampaikan bahwa sesuai Instruksi Presiden RI, Kementerian Pertanian melalui BPTP NTB telah mengembangkan Program Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (MKRPL) sebagai upaya membangun ketahanan pangan mulai tingkat rumah tangga dengan mengoptimalkan pemanfaatan lahan pekarangan. Sebagai bagian penting yang tidak terpisahkan dari pemanfaatan pekarangan tersebut, BPTP telah menyiapkan berbagai paket TTG mulai dari budidaya tanaman, pengolahan hasil, hingga pengolahan limbah rumah tangga menjadi kompos.  Melalui program pemanfaatan pekarangan yang berbasis TTG, usaha-usaha baru akan bermunculan sehingga mampu mengurangi pengeluaran dan meningkatan pendapatan keluarga.

Senada dengan apa yang disampaikan Mardiana, Muhammad Ridho menyampaikan bahwa PNPM Perdesaan NTB juga telah melakukan upaya pengembangan sumberdaya manusia dengan meningkatkan kapasitas melalui penguasaan TTG.  Berbagai paket TTG khususnya pengolahan hasil pertanian telah dikenalkan kepada masyarakat desa, walaupun diakui oleh Ridho bahwa hal tersebut tidak jarang menemui kendala karena terkait birokrasi di tingkat daerah.  Pada kesempatan tersebut, LIPI yang diwakili oleh Irfan Dilaga menyampaikan bahwa birokrasi harus dibuat sederhana agar pengembangan TTG dapat berjalan optimal. Harus ada keberanian dalam membuat terobosan agar birokrasi tidak selalu menjadi hambatan dalam pengembangan TTG. Sebagai salah satu juri yang beberapa tahun menilai peserta Gelar TTG, Irfan juga menyorot kualitas peserta TTG dari berbagai daerah, dan Irfan berharap bahwa harus ada peningkatan setiap tahunnya mengingat kebutuhan masyarakat terhadap TTG yang terus berkembang.

Acara selanjutnya diisi dengan diskusi. Secara umum baik pemateri maupun para peserta mengakui bahwa masalah dana masih menjadi kendala dalam upaya pengembangan TTG.  Selain dana yang terbatas, masalah kebijakan juga sangat berpengaruh terhadap pengembangan TTG karena terkait dengan kerjasama antar instansi yang membawahi TTG.  Harus ada koordinasi dan komunikasi intensif antar stakeholder agar bidang TTG tidak dijadikan sebagai “anak tiri”.  Berbagai peraturan diharapkan dapat lebih disederhanakan agar pertanggungjawaban pelaksanaan kegiatan menjadi lebih mudah.  Kota Mataram dalam hal ini dapat dijadikan sebagai contoh yang baik bahwa bidang TTG mendapat dukungan penuh dari pemerintah.  Terlihat dari perhelatan Gelar TTG dimana Kota Mataram menjadi tuan rumah, acara berlangsung cukup semarak. Acara ditutup dengan kesepakatan diantaranya tempat acara Gelar TTG tahun mendatang akan dilaksanakan di Kota Bima. (Sumber : Mardiana).

Web Analytics