Berita

Panen Padi VUB dalam rangka produksi Benih Sumber UPBS BPTP NTB

Pin It

Padi merupakan salah satu komoditas strategis, karena sebagai sumber pangan terbesar di Indonesia. Dalam memenuhi kebutuhan pangan, kebijakan pemerintah sejak tahun 2007 melalui progam P2BN terus ditingkatkan. Keberhasilan program P2BN akan di tentukan tahun 2014 yaitu dengan target surplus 10 juta ton beras.

Salah satu kontribusi Badan Litbang Pertanian dalam mendukung program P2BN adalah menyediakan benih sumber berkualitas. Hasil penelitian benih berkualitas dari varietas unggul mampu meningkatkan produktivitas sebesar 16%. Dalam penyediaan benih sumber padi di lingkup Badan Litbang Pertanian telah dibentuk Unit Pengelola Benih Sumber (UPBS) di BPTP, yang bertugas memproduksi dan mendistribusikan benih sumber dari varietas unggul baru. Alur benih yang dibuat UPBS BPTP NTB untuk percepatan penyebaran VUB padi di NTB adalah produksi benih sumber kelas FS dan SS, kemudian didistribusikan ke penangkar, pada tahap berikutnya diharapkan penangkar dapat mengembangkan benih varietas unggul baru dalam skala luas untuk varietas-varietas yang mendapat respon positif dari petani.

Untuk membantu kebutuhan benih padi di NTB, UPBS BPTP NTB tahun 2014  memprogramkan produksi benih sumber varietas unggul baru sebanyak 45 ton dari 10 varietas unggul baru. Kegiatan produksi benih dilakukan melalui model kerjasama dengan mitra dan sistem sewa lahan. Panen perdana calon benih sumber UPBS BPTP NTB tahun 2014 telah dilaksanakan, Senin (14/04/2004) melalui kegiatan sewa lahan di Dusun Plulan Utara Desa Kuripan Utara Kecamatan Kuripan Kabupaten Lombok Barat seluas 0,3 Ha dengan varietas Inpari 19 sebanyak 1.800 kg GKP. Menurut Tim UPBS varietas Inpari 19 merupakan salah satu varietas unggul baru yang telah dipromosikan UPBS BPTP NTB tahun 2013 dan mendapat respon petani paling banyak, karena memiliki umur genjah dan produksi tinggi.

Panen padi dilakukan dengan dua model, yaitu dengan tenaga kerja manusia (Gebot) dan  menggunakan mesin alsintan Combine Harvester. Kegiatan panen ini sengaja dilakukan untuk mengetahui efisiensi tenaga kerja sekaligus sebagai promosi teknologi alat mesin pertanian (alsintan) yang selama ini kurang diminati petani. Berdasarkan fakta di lapangan, panen padi menggunanakan mesin Combine Harvester sangat efektif, karena selain waktu jauh lebih cepat, sistem kerja alat mesin Combine Harvester yaitu memotong, merontok, mensortir dan benih padi langsung masuk karung goni. Efisiensi lainnya dengan menggunakan alsintan Combine Harvester adalah limbah jerami langsung tersebar sehingga mengurangi biaya penyebaran jerami yang pada umumnya dikeluarkan petani NTB sebesar Rp 700 ribu per Ha.

Berdasarkan hasil kegiatan panen di Dusun Plulan Utara, petani sangat tertarik dengan alat panen Combine Harvester, karena tingkat efisiensinya sangat tinggi, hal ini sangat didukung dengan kondisi sekarang di lokasi panen, yaitu tenaga kerja manusia sangat sulit. Sementara terhadap performan varietas Inpari 19, petani sangat tertarik, hal ini dapat dilihat dari banyaknya petani yang memesan benih tersebut untuk usahataninya.   (Sumber : MFM dan SU)

Web Analytics