Berita

Panen Jangkrik Di Kelompok Tani Mandiri, Desa Bengkaung Kabupaten Lombok Barat

Pin It

Program Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) merupakan bentuk fasilitasi bantuan modal usaha bagi petani anggota, baik petani pemilik, petani penggarap, buruh tani maupun rumah tangga tani yang dikoordinasikan oleh Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan). Sesuai Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor: 01/Permentan/OT.140/1/2014 tentang Pedoman Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan Tahun Anggaran 2014 bahwa salah satu tujuan PUAP adalah mengurangi kemiskinan dan pengangguran melalui penumbuhan dan pengembangan kegiatan usaha agribisnis di perdesaan sesuai dengan potensi wilayah.

Terkait dengan bantuan permodalan ini, pemerintah telah berupaya antara lain dengan menyediakam penguatan modal bagi Gapoktan melalui penyediaan kredit program dan bantun langsung masyarakat (BLM). Fasilitas bantuan permodalan tersebut diharapkan dapat menjangkau jumlah petani yang semakin banyak, dan salah satu pendekatan adalah dengan menggulirkan bantuan tersebut diantara petani. Salah satu harapan bagi terselenggaranya pengelolaan modal ini pada upaya yang lebih produktif adalah melalui kelompok tani atau gabungan kelompok tani (Gapoktan). Gapoktan dapat mengembangkan berbagai aktivitas diantaranya mengelola usaha ternak jangkrik. Salah satu bentuk usaha yang dilakukan Gapoktan “Banuwara Bersatu” Desa Bengkuang Kecamatan Batu Layar di Kabupaten Lombok Barat adalah budidaya jangkrik sebagai pakan burung yang telah dilakukan oleh Kelompok Tani Mandiri yang tergabung dalam Gapoktan Banuara Bersatu, Desa Bengkaung, Kecamatan Batu Layar Kabupaten Lombok Barat. Budidaya jangkrik ini sudah dijalankan selama 2 bulan. Pada Kamis (10/4/2014) dilakukan panen jangkrik di Gapoktan Banuara Bersatu. Panen Jangkrik ini dihadiri oleh Kepala BPTP NTB, Dr. Ir. Dwi Praptomo S.,MS beserta H. Sahram sebagai anggota Tim PUAP Provinsi, kemudian dihadiri pula oleh perwakilan Dinas Pertanian Provinsi NTB, PPL Desa Bengkaung, PMT Kabupaten Lombok Barat, pengurus dan anggota Gapoktan Banuara Bersatu, serta wartawan dari Lombok Post yang ikut meliput kegiatan panen jangkrik di Gapoktan Banuara Bersatu ini.

Gapoktan Banuara Bersatu merupakan salah satu Gapoktan di Provinsi NTB yang telah menerima Dana PUAP pada Tahun 2013. Usaha yang sedang marak digaung-gaungkan oleh Gapoktan Banuara Bersatu ini adalah usaha budidaya jangkrik untuk pakan burung yang diusahakan oleh salah satu anggota Gapoktan Banuara Bersatu yakni Kelompok Tani Mandiri. Usaha yang baru dilakukan selama 2 bulan ini berawal dari keahlian yang dimiliki oleh Sanusi, Ketua Kelompok Tani Mandiri, Desa Bengkaung, setelah sempat menjadi pekerja dalam usaha budidaya jangkrik di Jawa Timur. Dibekali kemampuan dan pengetahuan tentang budidaya jangkrik ini, maka Sanusi kembali ke kampung halamannya di Desa Bengkaung untuk melakukan budidaya jangkrik secara mandiri. Namun, adanya kendala dalam permodalan membuatnya mencari pinjaman untuk meneruskan usaha tersebut. Adalah dana PUAP yang merupakan dana bantuan dari Kementerian Pertanian untuk membantu modal usaha Gapoktan. Berbekal kemampuan budidaya jangkrik maka dibentuklah Kelompok Tani Mandiri yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani Banuara Bersatu yang mendapatkan kucuran dana PUAP sehingga bisa berkembang hingga saat ini.

Diawali dari 1 box untuk tempat budidaya jangkring yang perlahan bertambah sedikit demi sedikit hingga saat ini dapat membuat sebanyak 40 box dengan jumlah yang sudah mampu diisi oleh jangkrik sebanyak 21 box. Dalam 1 box mampu memuat 20 kg jangkrik dewasa yang berasal dari 2,5 ons telur jangkrik.

Budidaya jangkrik ini sebenarnya cukup sederhana, hanya membutuhkan box untuk tempat hidup jangkrik, trai bekas tempat telur untuk menaruh telur-telur jangkrik, serta pakan berupa hijauan dari limbah pasar berupa kulit sawi dan kol serta berbagai jenis sayuran lainnya. Jangkrik hanya diberikan makan 2 kali sehari yakni pada pagi dan sore hari. Bahkan kini anggota Gapoktan sudah berkreasi menciptakan konsentrat untuk pakan jangkrik yang terdiri dari limbah pasar berupa kulit sawi dan kol yang sudah tidak terpakai dan hanya dibuang-buang saja, kulit kacang hijau, jagung, kedelai, serta daun sirih untuk mengurangi bau amis jangkrik.

Harga yang diperoleh saat pertama kali panen adalah seharga Rp. 75.000,- per kg jangkrik untuk pakan burung. Jangkrik ini dipasarkan di Pasar Sindu sebagai pakan burung. Melihat kebutuhan pasar yang angat besar yakni sebanyak 150 kg jangkrik per hari, maka Kelompok Tani Mandiri melalui Gapoktan Banuara Bersatu ini terus mengasah kemampuan untuk bisa meningkatkan hasil panen. Bahkan saat ini para anggota kelompok tani tersebut sedang belajar untuk membuat indukan sendiri sehingga telur jangkrik tidak perlu lagi dibeli dari Pulau Jawa agar dapat mengurangi biaya.

Adapun kendala yang dihadapi saat ini adalah belum tersedianya telur jangkrik di pasaran local sehingga setiap kali ingin memulai budidaya harus mendatangkan telur dari Pulau Jawa yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit yakni sebesar Rp. 900.000,- per kg. Kendala lain yang masih terasa adalah terbatasnya ruangan yang bisa digunakan untuk menampung box jangkrik tersebut, mengingat ukuran box yang tidak bisa dibilang kecil yakni 2,4 x 0,5 meter.

Selain budidaya jangkrik, usaha lain yang telah dilakukan oleh Gapokan antara lain: pembuatan kompos dari limbah ternak sapi, dimana kotoran sapinya diberdayakan,  bekerjasama dengan BPTP NTB, budidaya lebah yang menghasilkan madu trigona (madu propolis), produksi tusuk sate, serta unit simpan pinjam. Budidaya Lebah Madu Trigona ini diusahakan oleh Kelompok Tani An-Nahl yang merupakan salah satu anggota Gapoktan Banuara Bersatu. Saat ini, Adapula Poktan Sinar Rembulan yang menhasilkan madu dari lebah gunung dan sudah dapat mengemas madunya menggunakan label sendiri.    (Sumber : Sylvia K. Utami dan H. Sahram ).

Web Analytics