Berita

Workshop Internasional Tentang Perubahan Iklim Global di Mataram

Pin It

BPTP NTB bekerjasama dengan Asia-Pasific Networks for Global Change Research (APN) melaksanakan workshop di hotel Jayakarta Mataram, selama 4 hari (6-9/01/2014) dengan tema “Building scientific capacity in Seasonal Climate Forecasting (SCF) for improved risk management decisions in a changing climate ”. APN merupakan jaringan dari 22 Negara Anggota yang mempromosikan penelitian perubahan iklim global di kawasannya, meningkatkan keterlibatan negara berkembang dalam bidang penelitian, dan memperkuat interaksi antara penelitian dan pembuat kebijakan. Kegiatan yang dimotori Prof. Yahya Abawi sebagai project leader ini bertujuan untuk memantapkan pengelola dan penggunaan data-data iklim baik pembuat kebijakan (pihak pemerintahan), peneliti, maupun komunitas petani se-Asia Tenggara. Pada workshop APN kali ini difokuskan untuk 3 Negara yaitu Indonesia, Bangladesh dan Filipina dimana masing-masing Negara diwakili oleh 3 unsur yaitu dari pihak pemerintah, peneliti, dan instansi pemerintah yang menangani data iklim seperti BMKG di Indonesia.

Selain Negara collaborator, APN workshop juga diikuti oleh beberapa SKPD terkait di tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat seperti BLHP, BAPPEDA, PU, BMKG Kediri Kabupaten Lombok Barat dan BMKG Bali serta BPTP sebagai peserta sekaligus penyelenggara. Pada acara pembukaan Prof. Yahya menyampaikan apresiasinya yang sangat besar kepada BPTP NTB yang telah bersedia membantu menyelenggarakan workshop ini. Sesi kedua dilanjutkan dari Kepala BPTP NTB Dr. Ir. Dwi Praptomo S., MS Dalam sambutannya menyampaikan bahwa perubahan iklim yang dampaknya sudah sangat dirasakan di sektor pertanian harus diatasi melalui perencanaan yang matang, dilanjutkan dengan program aksi melalui tindakan nyata oleh semua pihak. Kegiatan ini merupakan salah satu strategi adaptasi Sektor Pertanian terutama tanaman pangan. Inti dari kegiatan yang dilaksanakan selama 4 hari ini adalah agar software Seasonal Climate Forecasting (SCOPIC dan FLOWCAST) lebih dikenal dan digunakan untuk memprediksi pola iklim di wilayah masing-masing sehingga ketahanan pangan bisa terjaga.

Pada hari ketiga kegiatan dirangkaikan dengan field trip mengunjungi kantor Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kediri di Kediri Kabupaten Lombok Barat sebagai salah satu stasiun iklim yang sudah mengaplikasikan software flowcast untuk memprediksi pola iklim pada bulan-bulan berikutnya. Hampir seluruh peserta khususnya yang berasal dari Filipina dan Bangladesh antusias dan merasa puas atas kegiatan kunjungan ini, karena mereka menyatakan mendapatkan sesuatu yang baru setelah melihat langsung hasil dari penggunaan flowcast dan mendapatkan penjelasan dari petugas BMKG Kediri.

Hari terakhir kegiatan diisi dengan presentasi dari perwakilan masing-masing Negara yang diawali oleh Mrs. Jovencia Bere Ganub dari Filipina, Dr. Md. Abdul Manan dari Bangladesh dan diakhiri oleh Adi Ripaldi dari BMKG Kediri yang mewakili Indonesia. Masing-masing presenter menyampaikan gambaran kondisi iklim di wilayah mereka secara global dan hasil analisa prediksi setelah menggunakan software. Terlihat pada sesi diskusi terjadi timbal balik antara peserta dengan presenter dan timnya.

Tujuan akhir dari workshop tersebut adalah untuk melakukan studi validasi dan mengidentifikasi faktor pendorong utama iklim yang mempengaruhi iklim di daerah masing-masing dan memberikan pelatihan dalam penggunaan Peramalan Iklim Musiman (SCF) dengan menggunakan perangkat lunak (SCOPIC dan FLOWCAST) untuk memprakirakan curah hujan minimal 2 bulan kedepan. (Sumber : Fitria Zulhaedar).

Web Analytics