Berita

Sosialisasi Hasil Identifikasi Dampak Pengolahan Emas Secara Tradisional Terhadap Kualitas Produk Pertanian di Lahan Sawah

Pin It

Proses pengolahan batuan bijih emas secara tradisional dan tanpa ijin resmi pemerintah sudah menjamur dikawasan Kabupaten Lombok Barat dan Kabupaten Lombok Tengah Provinsi Nusa Tenggara Barat. Pengolahan bijih emas secara tradisional dengan istilah penggelondongan ditambah usaha tong menghasilkan limbah yang mengandung logam berat seperti merkuri, dan senyawa berbahaya yaitu sianida. Logam berat dan senyawa tersebut termasuk dalam kelompok bahan berbahaya dan beracun (B3). Biasanya limbah proses pengolahan dibuang dan dialirkan ke selokan, parit, kolam atau sungai.  Jenis-jenis logam berat tersebut tidak bisa dihancurkan, sehingga bisa menjadi bagian dari apapun, dan berpotensi mencemari udara, air, tanah dan tanaman. Akibat dari pencemaran ini areal pertanian dan penduduk lokal sekitar tempat pemrosesan harus berhadapan dengan perusakan lingkungan yang luar biasa karena limbah B3 tersebut.

Berdasarkan masalah tersebut, BPTP NTB pada tahun 2013 melakukan pengkajian yang bertujuan untuk mengidentifikasi kadar bahan berbahaya dan beracun di lingkungan perairan dan lahan pertanian  maupun hasil budidaya pertanian sekitar lokasi pemrosesan batuan bijih emas secara tradisional sebagai dasar pertimbangan pemangku kebijakan dalam pengendalian keamanan pangan dan lingkungan. Pada Jum’at (13/12/2013) bertempat diaula BPTP NTB diadakan acara sosialisasi hasil kegiatan pengkajian identifikasi dampak pengolahan emas secara tradisional terhadap kualitas produk pertanian di lahan sawah Pulau Lombok Nusa Tenggara Barat. Sosialisasi dihadiri berbagai instansi terkait yaitu dari BLH Propinsi NTB, BLH Kabupaten Lombok Barat, KLH Kabupaten Lombok Tengah, Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Lombok Barat dan Lombok Tengah, serta berbagai BPP di Kabupaten Lombok Barat dan Lombok Tengah.

Acara ini bertujuan untuk mensosialisasi hasil yang diperoleh dari pengkajian yang telah dilaksanakan selama 1 (satu) tahun pada 2013. Berdasarkan hasil pengkajian yang dilakukan disimpulkan bahwa lingkungan lahan pertanian yang berada disekitar usaha pengolahan biji emas secara tradisional telah melampaui ambang batas yang ditetapkan baik oleh AS FDA dan WHO untuk kadar mercury. Untuk lingkungan perairan dan tanaman terutama padi yang dihasilkan untuk kandungan mercury dan sianida masih dibawah ambang batas, namun hal ini cukup menghawatirkan bila dipikirkan akumulasi yang terjadi terhadap konsumen yang mengkonsumsinya. Dalam sosialisasi juga menghadirkan narasumber yang berasal dari peneliti Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) Pati, Jawa Tengah Triyani Dewi, SP.,MSi. Dalam pemaparannya disampaikan bahwa terdapat teknologi yang dapat dijadikan sumber rujukan bersama dalam penangulangan pencemaran yang telah terjadi yaitu dengan menggunakan :

  1. Fitoremediasi yaitu pengunaan tanaman akumulator yang dapat menyerap logam berat. Jenis tanaman yang berpotensi adalah Mendong, Akar Wangi, Enceng Gondok dan Haramay.
  2. Bioremediasi yaitu mengunakan aktifator biologi seperti mikroorganisme, tanaman dan enzimnya yang dapat diandalkan untuk mengubah valensi serta meningkatkan kelarutan, ketersediaan hayati dan sekuestrasi logam. Contoh bakteri pelarut fosfat, azotobacter dan fungi mikoriza arbuskula (FMA).
  3. Kemoremediasi yaitu pemanfaatan amelioran bahan organik untuk mengendapkan logam berat agar tidak terserap oleh tanaman, meningkatkan daya serap tanah sehingga dapat mempengaruhi immobilisasi unsur logam berat menjadi bentuk yang tidak larut dan tidak tersedia bagi tanaman. Contoh asam humat, bahan organik (pupuk kandang dan kompos), zeolit, arang aktif dan biochar.

Dalam sosialisasi, Kepala Laboratorium BPTP NTB Sudjudi, BSc,SP juga menambahkan dampak Mercuri terhadap kesehatan manusia. Terhadap manusia dapat merusak sistem saraf pusat, kerusakan ginjal, kerusakan paru-paru, dan meningkatkan kematian. Dampak akan berbeda tergantung pada waktu yaitu jika terekspos/terlihat 10 tahun, jika kadar tinggi dan jenis yang diakumulasi yang paling beracun.

Dengan sosialisasi Hasil Pengkajian yang dipimpin langsung oleh kepala BPTP NTB Dr. Ir. Dwi Praptomo S.,MS ini diharap dapat dijadikan sebagai dasar awal untuk menentukan kebijakan dalam menentukan tindakan dan pemilihan teknologi yang tepat untuk bersama-sama mengatasi pencemaran lahan, air dan tanaman yang telah terjadi di wilayah masing-masing.  (Sumber: Titin Sugianti)

Web Analytics