Berita

Workshop Dan Temu Lapang Sistem Pertanian Terpadu Lahan Kering Iklim Kering (SPT-LKIK) Di NTB

Pin It

Lahan kering iklim kering merupakan salah satu sumberdaya lahan sub-optimal yang sangat potensial dan sangat penting untuk dikembangkan. Selain karena potensi luasnya yang cukup besar dibandingkan lahan sawah, secara umum tingkat kesejahteraan petani di lahan ini masih sangat rendah dan berada di wilayah tertinggal. Disamping itu, sebagian besar penduduk NTB berada pada lahan tersebut yang merupakan sumber penghidupannya. Dukungan terobosan inovasi pertanian dalam bentuk teknologi maupun manajemen terus diupayakan oleh Badan Litbang Pertanian. Salah satunya melalui Workshop dan temu lapang pengembangan Sistem Pertanian Terpadu Lahan Kering Iklim Kering (SPTLKIK) yang dilaksanakan di Bima NTB. Kegiatan yang berlangsung selama 3 hari ini (17-19/11/2013), dihadiri oleh Kepala BBSDLP, Puslitbangtan, Puslitbangnak, Puslitbangbun, Ditjen PSP, Biro Perencanaan Kementerian Pertanian, BB Pustaka, BB Padi, Balittanah, Balitsereal, Balitkabi, Balitsa, Balitbu, Balittas, FKPR, para peneliti lingkup Badan Litbang Pertanian, SKPD terkait lingkup Pemda Provinsi NTB, dan lingku Pemda Kabupaten Bima.

Acara diawali dengan sambutan Kepala BPTP NTB sebagai tuan rumah, dilanjutkan dengan penyampaian konsep kegiatan oleh Kepala BBSDLP, dan arahan Bupati Bima yang diwakili Asisten II (H. M. Taufik H.AK), sekaligus membuka workshop. Dalam sambutannya H. M. Taufik H.AK menyampaikan apresiasi yang cukup tinggi terhadap perhatian Badan Litbang Pertanian karena telah memilih Kabupaten Bima sebagai lokasi pengembangan system pertanian lahan kering iklim kering. H. M. Taufik H.AK menyatakan siap membantu demi tercapainya peningkatan kesejahteraan petani di lahan kering Kabupaten Bima.

Secara garis besar acara ini bertujuan untuk mengevaluasi perkembangan kegiatan SPTLKIK yang sudah dilaksanakan di NTB dan NTT, sekaligus menyusun grand design pengembangan lahan kering iklim kering dalam skala luas.

Hari kedua dilanjutkan dengan field trip mengunjungi lokasi Laboratorium Lapang (LL), Dam Parit, dan hamparan lahan petani yang akan dijadikan lokasi pengembangan system pertanian terpadu lahan kering iklim kering minimal seluas 1.000 ha di Desa Mbawa Kecamatan Donggo Kabupaten Bima. Di akhir kunjungan diadakan temu wicara antara tim Badan Litbang Pertanian dengan petani Desa Mbawa membahas kendala-kendala yang selama ini dialami petani dalam ushataninya dan perencanaan pengembangan pertanian lahan kering iklim kering. Diskusi berlangsung cukup hangat dimana terjadi timbal balik antara petani dengan tim Badan Litbang Pertanian yang diwakili Bepala Balai Besar Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) Dr. Muhrizal Sarwani, Kepala BPTP NTB Dr. Ir. Dwi Praptomo S, Profesor Irsal Las, Profesor Suyamto dan Profesor Kusumo. Secara garis besar petani mengeluhkan tentang keterlambatan turunnya benih yang menyebabkan mereka terlambat tanam sehingga tidak selaras dengan musim. Tim memberikan motivasi kepada para petani agar tidak tergantung lagi pada benih bantuan, tetapi mampu menghasilkan benih sendiri yang tentu saja mengacu pada sistem perbenihan yang akan dibangun di daerah tersebut.

Pemaparan success story oleh BPTP NTT dan NTB disampaikan pada sesi acara berikutnya sebagai acuan dalam mengevaluasi model pengembangan SPT-LKIK. Penanggung jawab SPT-LKIK NTT menyampaikan bahwa telah terjadi peningkatan pemanfaatan lahan atas penggunaan sumber air di Oebola yaitu dari 0,5 ha menjadi 4,6 ha. Teknologi irigasi dengan sistem TAMREN (Teknologi Tampungan Air Mini Renteng) dikatakan sangat meringankan tenaga kerja untuk menyiram dan ketersediaan air sepanjang tahun juga terpenuhi. Selain itu penerapan model kandang granti di Oebola dinyatakan mampu menghemat tenaga kerja untuk pemeliharaan ternak, mempermudah pengontrolan, menghasilkan ketersediaan bahan baku pupuk kandang. Hal senada juga telah dilakukan di NTB, dari hasil pemaparan Kepala BPTP NTB Dr. Dwi Praptomo diketahui bahwa terjadi peningkatan produksi benih jagung komposit varietas srikandi kuning di wilayah Jeringo dari 520 kg (tahun 2011) menjadi 5.326 kg (tahun 2012).

Sesi terakhir acara diisi dengan penyusunan rumusan hasil dari masukan dan umpan balik dari stakeholder dan pemangku kepentingan tentang grand design pengembangan pertanian lahan kering iklim kering di Desa Mbawa Kecamatan Donggo pada khususnya dan Indonesia pada skala luas yang mengacu pada kearifan lokal. Beberapa rumusan yang dihasilkan diantaranya akan dibuatnya pembagian wilayah secara spasial lahan yang perlu dipriotitaskan untuk areal budidaya tanaman pangan, tumpangsari tanaman pangan dan tanaman tahunan serta areal konservasi untuk kelestarian lingkungan. Dalam skala luas pengembangan SPT-LKIK akan diawali dengan identifikasi dan pemetaan sumber daya lahan (SDL) dan sumber daya alam (SDA) yang potensial, identifikasi restruksi wilayah terkait dan dilanjutkan menyusun grand design yang mengakomodir potensial SDL, SDA, kepentingan masyarakat dan pemda setempat.  (Sumber: Fitria Zulhaedar).

Web Analytics