Berita

Temu Lapang dan Panen Perdana VUB Padi Inpari 19 di Kota Mataram

Pin It

Padi merupakan komoditas yang sangat strategis, karena sebagai sumber pangan utama bagi rakyat Indonesia. Ketahanan pangan menjadi sangat penting untuk stabilitas nasional, sehingga pemerintah terus melakukan program yang  berkesinambungan dalam meningkatkan sasaran produksi pangan. Meningkatan produktifitas padi dengan komponen teknologi varietas unggul baru baru (VUB) merupakan salah satu alternatif yang selama ini paling efektif dan besar kontribusinya terhadap capaian produksi beras nasional, demikian pengantar sambutan Kepala BPTP NTB Dr. Dwi Praptomo S, MS, pada acara Temu Lapang dan Panen Perdana VUB Padi Inpari 19, di Kelurahan Jempong Baru, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram, Sabtu (16/11/2013). Kegiatan tersebut di hadiri sekitar 180 orang peserta diantaranya; Sekretaris Bakorlu Provinsi NTB, Kepala BP4K Kota Mataram, Dinas Pertanian Kota Mataram, Camat Sekarbela, Lurah Jempong, Penyuluh se kota Mataram, Anggota Gapoktan, Koptan, dan mitra kerja dari FMC.

Di hadapan peserta pertemuan Kepala BPTP NTB mengajak untuk tidak ragu-ragu dengan penggunaan VUB padi. Badan Litbang Pertanian (Pemerintah) telah banyak melepas VUB padi yang memiliki keunggulan satu dengan yang lain berbeda dan perlu di ketahui oleh petani. Hari ini kita menyaksikan langsung hasil riil VUB Inpari 19 sebanyak 9,16 ton per ha GKP, ada peningkatan lebih dari 2 ton per ha dari produktifitas padi pada tahun-tahun sebelumnya. Kalau diuangkan petani mendapat kelebihan hasil diatas 8 juta, dari penggunaan satu komponen teknologi yaitu VUB, tentu ini luar biasa. Badan Litbang Pertanian saat ini sedang menggalakan teknologi PTT dan Jajar legowo (Jarwo) untuk komoditi padi. Karena dengan Jarwo populasi tanaman bertambah, pemeliharaan tanaman mudah, dan secara teknis sirkulasi udara semakin baik, penyinaran matahari lebih optimal, maka tidak mustahil kalau peningkatan produktifitasnya akan meningkat. Teknologi ini diharapkan bisa di tangkap oleh rekan-rekan penyuluh di daerah untuk dikembangkan ke petani secara luas.

Lebih lanjut Kepala BPTP NTB memaparkan tugas BPTP NTB selaku lembaga pemerintah yang menghasilkan teknologi pertanian di NTB, terus berupaya menyediakan teknologi baru yang bisa bermanfaat bagi warga NTB. Teknologi yang di siapkan di BPTP cukup lengkap, sesuai mandat BPTP, dari sektor pertanaian, perkebunan, dan peternakan. BPTP siap berbagi pengalaman kepada siapa saja yang membutuhkan silakan bisa langsung datang ke kantor  BPTP NTB di jln Raya Peninjauan Narmada. Menurut Kepala BPTP NTB keberhasilan kegiatan Demplot Inpari 19 ini, tidak lepas dari kerjasama BPTP, Penyuluh Pertanian, Kelompok Pelaksana dan Pihak Mitra. Pada akhir sambutannya Kepala BPTP NTB atas nama Badan Litbang menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Penyuluh, Petani pelaksana kegiatan dan Mitra FMC. Semoga kegiatan ini bisa memicu ditempat lain, sehingga NTB tetap sebagai lumbung pangan nasional.

Sementara itu sekretaris Bakorlu NTB Dr. Ir. Mashur, MS, dalam mengawali sambutannya mengajak bersyukur dengan hasil panen padi Inpari 19 sebanyak 9,16 ton per ha. Menurut Dr. Ir. Mashur, MS hasil kegiatan demplot Inpari 19 ini bagus karena ada kerjasama antara lembaga penelitian,  Badan Penyuluhan, dan faktor petani yang rajin. Jadi pendampingan oleh petugas dan dukungan fasilitas dari FMC sangat besar perannya dalam peningkatan produksi dan produktifitas padi. Kalau mau bagus hasilnya maka perlakuan budidaya juga harus bagus. Lebih jauh Dr. Ir. Mashur memaparkan kinerja teknologi yang didampingi oleh petugas terus menunjukan hasil yang lebih baik, seperti kedelai di Karangpule dari 1,3 menjadi 2,4 ton per ha, dan hari ini produktifitas padi dari 7 menjadi 9,16 ton per ha,  ini menunjukan bahwa kita  bekerja, petugas harus berada ditengah-tengah petani, sehingga tahu kebutuhan petani. Sebagai petugas harus siap memfasilitasi kebutuhan petani, karena petani saat ini sangat butuh informasi, seperti modal, teknologi dan infomasi lainya. Dalam mengakhiri sambutannya Dr. Ir. Mashur berpesan kepada semua yang hadir, bahwa hasil panen Inpari 19 harus di sebar luaskan ke kelompok lain, sehingga peningkatan produksi dan produktifitas padi di NTB akan lebih baik.

Kegiatan panen demplot Inpari 19 di akhiri dengan acara diskusi yang di pandu oleh Kepala BP4K Kota Mataram. Bererapa pertanyaan yang muncul adalah permasalahan;1. keberadaan benih Inpari19, sifat kerebahannya pada MH, dan pengedalian penggerek batang. 2 Pembinaan Tenaga tanam khusus untuk tanam tandur jajar legowo, bantuan alsintan (alat panen padi). Pada kesempatan tersebut Kepala BPTP NTB menjelaskan Bahwa Stok Inpari 19 sampai tanggal 16 November sesuai informasi dari UPBS BPTP NTB sebanyak 50 kg, dari stok awal 1300 kg, ini menunjukan Inpari 19 sangat di minati petani, untuk kebutuhan benih Inpari 19, silakan berkomonikasi dengan UPBS BPTP NTB dan mengenai kerebahan Inpari 19 memiliki ketahanan terhadap rebah, tetapi untuk antisipasi harus ada perbaikan budidaya pada MH, yaitu dengan mengurangi unsur N (urea). Pengendalian penggerek batang menurut pihak FMC dapat dicegah secara efektif dengan perlakuan furadan saat dipesemaian sebanyak 4 kg, dan 17 kg per ha pada umur 12-15 hari setelah tanam. Tahap selanjutnya tentu pengamatan intensip terhadap ancaman hama penggerek batang.

Pembinaan regu tanam khusus tanam jarwo menurut Dr. Ir. Mashur memang perlu dilakukan karena adopsi teknologi jarwo sangat ditentukan oleh regu tanam setempat. Lambannya adopsi teknologi Jarwo bukan dari penolakan petani, tetapi dominan dari  Regu Tanam karena dianggap rumit dan lama, sehingga perlu pendekatan kedua belah pihak antara petani pemilik dengan regu tanam. Selain tambahan ongkos juga perlu pendamping tenaga tanam trampil sistem legowo, sehingga pembelajaran antara mereka akan berjalan secara alami. Dan Mengenai bantuan Alsintan dari pihak Dinas Pertanian Kota Mataram, membuka peluang kepada Gapoktan, atau Koptan untuk membuat proposal, dan akan ditindaklanjuti untuk perencanaan program tahun 2014. (Sumber : Sabar Untung)

Web Analytics