Berita

Temu Lapang Dan Panen Raya Kedelai Di Kecamatan Ampenan Kota Mataram

Pin It

Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), menduduki peringkat ke 3 (tiga) sebagai provinsi penyangga kedelai nasional setelah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Diramalkan  di tahun mendatang posisi NTB akan menduduki peringkat 1(satu) nasional, mengingat laju alih fungsi lahan di kedua provinsi di Jawa tersebut cukup tinggi. Oleh karena itu, BPTP NTB sebagai kepanjangan tangan Kementerian Pertanian, berupaya meningkatkan produksi kedelai di NTB, salah satunya melalui kegiatan demplot PTT kedelai.

Demplot PTT Kedelai ini dilaksanakan di Lingkungan Pelembak Kelurahan Ampenan Utara Kecamatan Ampenan Kota Mataram, Kamis (10/10/2013) dengan kegiatan temu lapang dan panen raya di lokasi tersebut. Demplot tersebut merupakan salah satu bentuk dari kegiatan BPTP NTB dalam mengawal kegiatan SL-PTT kedelai di setiap kabupaten/kota di Provinsi NTB guna mencapai swasembada kedelai tahun 2014. Selain Demplot PTT Kedelai dengan luas ± 1 ha, juga terdapat kegiatan Uji Multilokasi dari galur-galur baru kedelai yang dilaksanakan oleh tim Peneliti dari Balai Penelitian Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi) Malang, yang berdampingan dengan lokasi SL-PTT kedelai.

Acara tersebut dihadiri oleh Badan Litbang Pertanian (yang diwakili oleh Tim peneliti dari Balitakabi) yang dipimpin Oleh Dr. Muchlis Adie, Kepala BPTP NTB (Dr. Ir. Dwi Praptomo S., MS), Kepala Sekretariat Bakorluh Prov. NTB, Kepala Disperta Prov. NTB, Kepala BBI Prov. NTB, Kepala BP4K Kota Mataram, Camat Ampenan, penyuluh se – Kota Mataram, Asbenindo Kota Mataram, dan Gapoktan dan poktan serta ± 100 petani di lingkungan demplot PTT Kedelai. Acara dibuka dengan kegiatan penen bersama di lokasi demplot PTT, dilanjutkan dengan sambutan dari Kepala BPTP NTB yang menjelaskan tentang introduksi teknologi PTT yang dilaksanakan. Dalam penjelasannya Kepala BPTP NTB menyampaikan varietas yang digunakan adalah anjasmoro yang merupakan varietas yang paling adaptif dan disukai di NTB dengan potensi hasil ± 3,7 t/h, tanpa olah tanah (TOT), cara tanam dengan ditugal dengan jarak tanam 15 x 40 cm, dengan aplikasi pupuk NPK 50 kg/ha dan kombinasi pupuk organik cair, dan pengendalian hama secara terpadu. Kedelai ditanam pada tanggal 23 Juli 2013 dan pada saat acara berlangsung tanaman sedang berumur antara 80 - 82 HST. Dari hasil ubinan diperoleh produksi di demplot PTT sebesar 2,4 t/ha, di LL sebesar 1,5 t/ha, dan lokasi SL 1,3 t/ha. Lebih lanjut kepala BPTP NTB menjelaskan jika teknologi PTT kedelai diterapkan secara tepat oleh petani maka produksi kedelai anjasmoro bisa mencapai 3 t/ha.

Narasumber dari Balitkabi (Dr. Muchlis Adi) menambahkan, impor kedelai yang dilakukan oleh pemerintah bukan tanpa alasan, kebutuhan kedelai di Indonesia tinggi karena jumlah penduduk besar, sedangkan daya dukung lahan untuk pemenuhan pangan tiap orang di Indonesia seluas ± 350 m2/pangan/perkapita hal tersebut sangat jauh dibandingkan dengn Negara Thailand yang mencapai 5400 m2/pangan/perkapita. Ditambah dengan produksi kedelai yang jauh dari potensi hasilnya sehingga petani enggan menanam kedelai, sehingga strategi yang diterapkan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan kedelai nasional dengan impor. Oleh karena itu pemerintah melalui Kementrian Pertanian menugaskan Badan litbang (Balitkabi dan BPTP) berupaya meningkatkan produksi dengan melepas varietas baru. Hingga saat ini Badan Litbang Pertanian sudah melepas 77 VUB kedelai dan BPTP bertugas merakit teknologi spesifik lokasi untuk VUB yang adapif dikembangkan di NTB sehingga dapat dihasilkan kedelai dengan produksi tinggi di NTB, seperti yang terbukti di lokasi Demplot PTT dan uji multilokasi tersebut. Lebih lanjut, Narasumber dari Sekretariat Bakorluh Prov. NTB menyampaikan, potensi kedelai untuk dikembangkan di NTB cukup besar dan hal tersebut merupakan peluang usaha untuk petani di NTB, mengingat agroekosistem di NTB adaptif untuk pengembangan kedelai, apalagi teknologi adaptif sudah dirakit oleh BPTP dan buktinya terlihat dari panen dilokasi demplot, dan adanya jaminan pemerintah berupa HPP kedelai Rp.7.000/kg, dan diperkuat dengn kesediaan Bulog untuk membeli kedelai petani sesuai MoU yang ditandatangani antara Kepala BULOG Divre NTB dengan kelompok tani Desa Sukarara pada tanggal 29 September 2013 di Desa Sukarara Kecamatan Jonggat Kabupaten Lombok Tengah beberapa waktu lalu.

Acara ditutup dengan diskusi antara narasumber dengan petani yang bertanya tentang jaminan harga serta keluhan tentang luas sawah yang terus menurun di lingkungan Kota Mataram, sehingga petani kesulitan melaksanakan kegiatan pertanian. Hal tersebut ditanggapi oleh Dinas Pertanian Prov. NTB dan pejabat terkait dilingkungan Pemkot Mataram dengan akan membuat Perda tentang kawasan hijau berkelanjutan sehingga alih fungsi lahan dapat diminimalisir. Kemudian acara ditutup dengan penyerahan  peralatan keamanan dalam pengendalian OPT dari PT. FMC kepada petani kooperator kedelai dari Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat. Harapannya dengan kerjasama antara pemerintah, swasta, dan petani yang baik dilingkup Prov. NTB maka harapan menjadikan Provinsi NTB sebagai provinsi utama penyangga kedelai nasional akan dapat tercapai. (Eni F. dan H.Noor Inggah)

Web Analytics