Berita

Panen Raya Kedelai Bersama Menteri Pertanian Di Desa Sukarare Kabupaten Lombok Tengah

Pin It

Akhir-akhir ini masalah kedelai menjadi semakin hangat dengan kenaikan harga yang cukup signifikan, sehingga pengrajin tahu dan tempe banyak yang bangkrut. Ada anggapan bahwa hal ini disebabkan karena kelangkaan kedelai nasional. Untuk menangkal anggapan itu, Menteri Pertanian Dr. Ir. Suswono., MMA menyempatkan diri melakukan kunjungan kerja ke Nusa Tenggara Barat dan memimpin panen raya kedelai bersama para pejabat pusat dan daerah. Minggu, (29/9/2013) Panen raya kedelai dilakukan di Desa Sukarare Kecamatan Jonggat Kabupaten Lombok Tengah di hamparan kelompoktani “Panutan” dengan luasan tanaman kedelai sekitar 3.000 ha. Di dalam hamparan ini terdapat demfarm PTT Kedelai seluas 2 ha menggunakan varietas Anjasmoro dan Argomulyo yang dikawal oleh para peneliti dan penyuluh BPTP NTB. Rata-rata hasil ubinan tercatat 2,3 ton per ha, suatu prestasi yang cukup membanggakan. Sementara itu rata-rata hasil petani masih rendah yaitu antara 0,5 – 1,0 ton per ha. Panen raya kedelai dilakukan oleh Menteri Pertanian Dr. Ir. Suswono., MMA, didampingi Dirjen Tanaman Pangan Ir. Udhoro Kasih Anggoro, Kepala Badan Litbang Pertanian yang diwakili Dr. Hasil Sembiring, Gubernur NTB Dr. TGH. M. Zainul Majdi., MA, dan Bupati Lombok Tengah, H. M. Suhaili FT., SH.

Selesai panen raya, acara dilanjutkan dengan Sambutan Selamat datang dari Bupati Lombok Tengah. Dalam sambutannya Bupati Lombok Tengah melaporkan areal tanam dan produksi kedelai yang terus meningkat. Masyarakat Lombok Tengah masih terus menanam kedelai, cuma karena harga jual kedelai yang fluktuatif dan cenderung rendah, ini menjadi masalah bagi petani.

Gubernur NTB dalam sambutannya menyatakan bahwa NTB, khususnya Kabupaten Lombok Tengah semakin maju pembangunan pertaniannya. Untuk NTB, luas dan produksi kedelai ada kecenderungan menurun karena harga jual kedelai yang rendah. Namun akhir-akhir ini harga kedelai sangat bagus, berkisar antara Rp 8.500,- hingga Rp 9.000,- per kg, sehingga semangat petani untuk menanam kedelai  tumbuh kembali. Dengan HPP Rp 7.000,- per kg, ini sangat menolong petani kedelai. Jika harga jual kedelai di bawah Rp 7.000,- per kg akan dibeli BULOG. Melalui kesempatan ini Gubernur Nusa Tenggara Barat meminta agar Menteri Pertanian juga dapat memberikan tambahan quota pupuk jika Nusa Tenggara Barat masih kekurangan.

Menteri Pertanian dalam sambutannya menyatakan bahwa kedelai merupakan salah satu komoditas penting karena kebutuhan nasional yang cukup tinggi. Karena produksi kedelai nasional belum mencukupi, sementara ini Pemerintah masih tetap membuka kran impor. NTB sebagai provinsi penghasil kedelai nomor 3 nasional diharapkan tetap konsisten untuk meningkatkan produksinya. Teknologi kedelai seperti yang ditunjukkan dari demfarm yang baru saja dipanen harus dikembangkan di tempat lain. Diharapkan peran PPL untuk menyebar-luaskan teknologi ini. Petani jangan lagi menanam kedelai dengan cara disebar, tetapi ikuti teknologinya dengan cara ditugal.

Selain acara sambutan, juga dilaksanakan penandatangan MoU antara Perum BULOG Divre NTB dengan 3 kelompoktani dalam rangka pembelian kedelai petani. Pada kesempatan tersebut Menteri Pertanian memberikan benih kedelai sumber (BS) kepada Gubernur Nusa Tenggara Barat sebanyak 1 ton untuk dikembangkan. Menteri Pertanian juga menyerahkan handtracktor sebanyak 50 buah untuk Kabupaten Lombok Tengah. Terakhir Menteri Pertanian menyerahkan bantuan PUAP senilai Rp 100 juta untuk Gapoktan Sesuta Maju di Desa Sesuta Kecamatan Janapria Kabupaten Lombok Tengah.

Acara diakhiri dengan temu wicara antara Menteri Pertanian dengan kelompok tani se Kabupaten Lombok Tengah. Dalam temu wicara banyak ditanyakan masalah kendala air, pupuk, dan alsintan. Beberapa petani juga menanyakan tentang harga kedelai, pembinaan PPL yang masih kurang, dan usulan agar SL-PTT Kedelai ditingkatkan luasnya untuk Kabupaten Lombok Tengah, sementara benihnya sebaiknya diadakan dari penangkar benih setempat.  (Sumber : DPS)

Web Analytics