Berita

Pengembangan Benih Sumber Oleh UPBS BPTP NTB Di Kecamatan Kuripan Kabupaten Lombok Barat

Pin It

Sampai Bulan Agustus produksi benih sumber padi oleh UPBS BPTP NTB baru mencapai 18 ton, jumlah ini belum mencapai 50% dari yang ditargetkan yaitu 40 ton. Menurut Tim UPBS target benih 40 ton produk UPBS BPTP NTB diperkirakan akan terealisasi sampai akhir Desember 2013, karena sampai saat ini masih dalam proses pengolahan dan sebagian masih di pertanaman. Berdasarkan  jadwal kalender tanam di Nusa Tenggara Barat puncak kebutuhan benih pada bulan November sampai Januari. Upaya yang terus dilakukan UPBS BPTP NTB untuk memenuhi permintaan benih yang bersifat kontinyu, yaitu dengan menyediakan benih VUB sepanjang tahun. Untuk memenuhi kondisi tersebut, kegiatan produksi benih VUB padi UPBS BPTP NTB secara otomatis  dirancang sesuai permintaan pelanggan, tidak mengacu pada pola tanam. Desa Plulan Kecamatan Kuripan Kabupaten Lombok Barat merupakan lokasi kegiatan pengembangan Benih Sumber UPBS BPTP NTB dengan luas 1,3 Ha. Kegiatan penanaman pada MK 2 telah dilakukan (2 September 2013) dengan varietas Cigeulis, Mekongga, Inpari 16, 23, 24, dan Inpari 25 sebagai calon benih sumber kelas Stoek Seed (SS). Pengawalan tanam dilaksanakan  langsung oleh Manajer Produksi UPBS BPTP NTB Ir. M. Zairin, M.Si dan Tim UPBS. Pengembangan benih sumber  di lokasi ini merupakan kegiatan sewa lahan UPBS dan kerjasama kemitraan dengan petani setempat. Perbanyakan varietas Inpari 23,24, dan Inpari 25, untuk memenuhi permintaan dari beberapa lokasi yang telah mengetahui penampilan dari VUB tersebut, pada kegiatan uji adaptsi VUB oleh UPBS di Kabupaten Lombok Utara dan Lombok Barat pada musim tanam MKI. Sementara produksi varietas unggul komersil untuk membantu pemenuhan permintaan yang belum bisa dipenuhi oleh penangkar lokal dan lembaga Perbenihan yang ada. Selain mengenalkan VUB padi, dalam sistem produksi benih sumber, kegiatan UPBS juga mengenalkan beberapa Teknologi unggulan yang direkomendasikan Badan Litbang Pertanian seperti, sistem Legowo 2:1, bibit muda, dan uji dosis pupuk. Dari kegiatan UPBS sebelumnya, telah tiga kali produksi benih sumber kegiatan UPBS di lokasi ini, ada berapa teknologi yang sudah dan telah diadopsi oleh petani sekitar seperti penggunaan VUB Inpari 7, tanam bibit muda dan penanaman dengan sistem legowo 2;1. Salah satu kendala dalam memasyarakatkan teknologi legowo 2:1 adalah belum pahamnya para regu tanam tentang Sistem Legowo 2:1, disisi lain pemilik lahan sangat tergantung dari  keinginan Regu Tanam. Upaya yang telah dilakukan UPBS dalam mempercepat adopsi sistim Jarwo 2:1 adalah dengan mendatangkan beberapa tenaga tanam yang sudah paham dengan sistem Jarwo 2:1 dari lokasi lain sebagai pendamping. Biasanya pada musim berikutnya Regu Tanam baru merespon dan mau untuk menanam dengan sistem Jarwo 2:1 pada musim atau tahun berikutnya. Penanaman dengan menggunakan sistem jajar legowo 2:1 dengan jarak tanam 10, 20, 40 berdasarkan pengalaman sebelumnya memberikan keunggulan dari segi penampilan yang lebih baik, dan hasil yang optimal, sehingga para petani yang berasal dari sekitar pertanaman ini mencontoh dan melakukan hal yang sama. Semoga kegiatan pengembangan benih sumber ini dapat memberikan manfaat lebih bagi petani.    (Sumber : Sabar Untung dan Nani H)

Web Analytics