Berita

Pratek Kerja Lapang Penyuluh Pertanian Di UPBS BPTP NTB

Pin It

Peningkatan produksi dan produktivitas tanaman pangan khususnya padi terus menjadi  program utama Pemerintah, karena komoditi tersebut merupakan sumber pangan utama penduduk di Indonesia. Salah satu kegiatan  penting untuk meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman adalah perlunya penguatan sumber daya manusia (SDM) dalam mengawal program pemerintah. Balai Pendidikan Dan Pelatihan Pertanian Mataram sejak (17-23/02/2013) mengadakan Pelatihan Teknis Agribisnis Padi Bagi Penyuluh Pertanian  yang di ikuti  oleh 30 orang peserta Penyuluh  Pertanian Lapangan dari Balai Penyuluhan Pertanian Kabupaten/Kota  Se – NTB.

Selama pelatihan peserta mendapat materi dari narasumber di dalam kelas selama 4 hari (17-20/02/2013),  tentang teknis budidaya sampai prosesing, pemasaran dan analisis usahatani, selebihnya pada (21-23/02/2013) adalah pratek kerja lapang tentang pengendalian OPT, panen dan pasca panen, menekan kehilangan hasil dilaksanakan di lokasi BPTPH Provinsi NTB, dan PKL pengendalian agroekosistem perbenihan, penanaman, pengairan sistem basah kering, dan pemupukan  dilakukan di lokasi perbenihan UPBS BPTP NTB di Desa Plulan Kecamatan Kuripan Kabupaten Lombok Barat,  dilanjutkan kunjungan ke Kebun Percobaan BPTP Narmada dan Gudang UPBS BPTP NTB. Materi dalam Pratek Kerja Lapang di lokasi perbenihan UPBS BPTP NTB di pandu oleh  Sabar  Untung, Ir. Nanang dari PT Petro Kimia  dan Candra dari PT Petrosida Gresik. Dalam pengantarnya Sabar Untung menyampaikan peran UPBS BPTP dalam sistem perbenihan di daerah adalah sebagai penyedia dan mendesiminasikan benih sumber dari varietas unggul baru, kemudian direkomendasikan ke penangkar atau produsen lokal, untuk diketahui potensi, daya adaptasi, dan sesuai dengan preferensi petani untuk dikembangkan dalam skala yang lebih besar. Selain menyampaikan tupoksi UPBS juga di informasikan varietas yang di kembangkan di lokasi kunjungan adalah dalam rangka memeperkenalkan beberapa   VUB  padi yaitu Inpari 7, Inpari 10, Inpari 13 dan Cigeulis, sehingga petani bisa menilai langsung keunggulan dan kelemahan masing-masing varietas.

Selain uji adaptasi varietas pada kegiatan produksi benih UPBS BPTP NTB juga disampaikan tentang teknologi produksi benih dengan cara tanam jajar legowo. Menurut Sabar Untung, UPBS BPTP terus mengembangkan Legowo 2;1 karena teknologi tersebut sangat realistis dan mudah dipahami oleh petani yang datang berkunjung, yaitu tanaman berada pada posisi pinggir yang sudah diyakini petani setiap tanaman pinggir selalu lebih baik dari tanaman tengah karena menerima sinar matahari lebih intensif. Yang perlu diketahui langsung oleh peserta praktek bahwa populasi legowo 2;1 lebih banyak dibanding  dengan tanam jajar biasa. Untuk legowo 2;1 =30 %, legowo 3;1 =25% legowo 4;1= 20% dan legowo 5;1 sekitar 16%. Selain teknologi legowo 2;1 pada kegiatan produksi benih UPBS BPTP juga melakukan pengkajian dengan beberapa perlakuan seperti penggunaan bahan organik, anorganik, dan bahan pembenah tanah sebagai  rekomendasi pada kegiatan berikutnya. Hal yang lain sampaikan pada kunjungan tersebut adalah kerjasama UPBS BPTP NTB  dengan PT Petrokimia dalam produksi benih sumber  yang di wakili oleh Ir. Nanang dan Candra . Menurut Nanang kebutuhan petani terhadap pupuk urea di NTB sangat tinggi, sementara jatah dari pusat sudah ditentukan, sehingga sering terjadi kelangkaan pupuk pada saat dibutuhkan. Untuk mengatasi kondisi tersebut petani perlu mendapatkan informasi tentang manfaat dan dampak dari penggunaan pupuk urea yang berlebihan. Petro kimia telah merekomendasikan untuk pemupukan di NTB sebanyak 500 kg petroganik, 300 kg phonska  dan 200 kg urea, kalau paket tersebut dilakukan maka NTB tidak akan terjadi kelangkaan pupuk urea.  Sementara itu Candra dari Petrosida yang merupakan anak perusahaan Petrokimia menyampaikan produk yang dihasilkan oleh Petrosida berupa; Insektisida, Herbisida, Akarisida, Fungisida. Pupuk Super Green dan Petroganik, Produk BIO, Rodentisida, dan Zat perangsang tumbuh. Pada kegiatan kerjasama dengan UPBS Petrosida memperkenalkan insektisida  Sidacin 50 WP, Sidabas 500 EC dan Sidafur 3 gr. Dari hasil diskusi dilapangan beberapa petugas lapang berharap Petrosida memperbanyak Demplot masing-masing kabupaten untuk mempercepat dikenalnya produk Petrosida oleh masyarakat tani NTB.

Kegiatan praktek langsung di lanjutkan ke gudang UPBS dan Kebun Percobaan BPTP NTB. Peserta pada lokasi tersebut dapat melihat langsung pertanaman yang ada di KP. Varietas padi yang sedang dikembangkan di KP Narmada adalah varietas Sarinah, berdasarkan diskripsi Sarinah merupakan varietas yang cocok untuk daerah dataran tinggi. Pada kunjungan di gudang  UPBS BPTP NTB peserta dapat melihat stok VUB Padi terbaru seperti Inpari 16,18,19, 20, 21, 22, 23, 24, 25 dan 28 yang ditampilkan dalam bentuk kemasan. Peserta banyak yang menanyakan jumlah varietas, stok dan cara menjadi penangkar serta untuk membangun kerjasama dengan UPBS BPTP. Petugas dari Ropang Sumbawa, Ikhsan ingin mengembangkan VUB yang cocok di daerahnya dengan ketinggian diatas 600 M dari permukaan laut, dan lansung di respon oleh petugas UPBS dengan disarankan mencoba inpari 28. Sementara penyuluh dari kabupaten Bima  Suryani dan Hj. Atika akan mengembangkan Inpari 10 seluas 4 Ha, dan Situbagendit seluas 1.5 Ha. (Sumber : Sabar Untung)

Web Analytics