Berita

Temu Lapang Dan Panen Kegiatan Perbenihan Jagung Varietas Srikandi Kuning Oleh Bupati Bima

Pin It

Temu lapang perbenihan jagung varietas Srikandi Kuning di Kabupaten Bima  dilaksanakan September 2012 di Kabupaten Bima tepatnya di kecamatan Sanggar. Kegiatan perbenihan jagung komposit merupakan kegiatan pelaksanaan scaling up komponen C BPTP NTB melalui program FEATI. Acara temu lapang dihadiri langsung oleh Bupati Bima (Ferry Zulkarnaen, ST), para kepala SKPD kabupaten Bima, para pengusaha jagung, Muspika kecamatan Sanggar, para penyuluh lapangan dan anggota kelompok tani. Selain itu hadir juga Kepala Balit Serelia Maros - Sulawesi Selatan dan seorang peneliti komoditas jagung. Kepala BPTP NTB, Dr. Ir. Dwi Praptomo S., MS dalam sambutannya menyatakan bahwa Propinsi Nusa Tenggara Barat memiliki program unggulan yang harus didukung oleh semua instansi terkait yaitu program peningkatan produksi saPI, Jagung dan Rumput laut (PIJAR). Program ini sudah mulai menampakkan hasilnya dengan meningkatnya luas tanam, produktivitas dan produksi khususnya jagung setiap tahunnya.

Disamping hasil positif yang dicapai, ada masalah mendasar yang dialami petani yaitu petani terlalu bergantung pada benih jagung hibrida yang sering kurang tersedia pada saat dibutuhkan, kalaupun tersedia banyak petani yang tidak mampu membelinya karena harga yang cukup mahal antara Rp. 50.000 kg– Rp. 80.000 kg, artinya bahwa petani membutuhkan dana antara Rp. 1.000.000 – Rp. 1.600.000/ha hanya untuk keperluan benih saja. Hal ini sebagai akibat dari kurangnya informasi dan promosi terhadap benih jagung komposit (bersari bebas) yang sesungguhnya lebih sesuai dengan kondisi ekonomi dan agroekologi sebagian besar petani di pulau Sumbawa. Masalah yang sama juga terjadi pada pupuk, dimana saat dibutuhkan tidak tersedia padahal jagung hibrida pengaruhnya sangat signifikan terhadap produktivitasnya jika salah dan kurang tepat dalam aplikasi pemupukan. Masalah lainnya, bila usahatani dilakukan pada agroekosistem lahan kering yang notabene sangat bergantung pada curah hujan dan hari hujan, maka kesesuaian jenis jagung yang akan dikembangkan juga harus diperhatikan. Dalam kondisi keterbatasan tersebut di atas, maka alternatife yang paling relaistis adalah penggunaan jagung komposit (bersari bebas). Jagung komposit sangat toleran terhadap kekeringan, sesuai pada wilayah dengan topografi bergelombang, kebutuhan pupuk sedikit dan petani dapat menyediakan benih sendiri dengan seleksi yang benar. Harga benih jagung komposit juga relatife murah antara Rp. 15.000 – Rp. 20.000/kg.

Untuk itu pada tahun 2012 (MK. I) program FEATI komponen C BPTP NTB bekerja sama dengan BP4K (kegiatan program FEATI) kabupaten Dompu dan Bima, Dinas Pertanian dan BPSB melakukan kegiatan pengembangan usaha perbenihan jagung komposit varietas Srikandi kuning di desa Talopo kecamatan Sanggar kabupaten Bima.

Luas perbenihan jagung dimasing-masing kabupaten adalah sebagai berikut :

Kecamatan Sanggar,

  • Penangkaran label putih varietas Srikandi Kuning seluas 2,5 ha, diperkirakan akan menghasilkan benih bersertifikat sebanyak 7,5 ton (untuk kebutuhan 375 ha) dan jagung produksi sebanyak 9 ton. Benih tersebut dapat dikembangkan lagi pada musim hujan dilahan kebun/lading untuk mencukupi benih pada MK. I dilahan sawah.
  • Penangkaran label ungu varietas Srikandi Kuning seluas 13 ha, diperkirakan akan menghasilkan benih 39 ton (untuk kebutuhan 1950 ha) dan jagung konsumsi 52 ton.
  • Penangkaran label ungu varietas Lamuru seluas 2 ha, diperkirakan akan menghasilkan benih sebanyak 6 ton (untuk kebutuhan 300 ha) dan jagung konsumsi 8 ton.

Bupati Bima pada acara tersebut tidak menyampaikan sambutannya dan langsung melakukan dialog dengan para petani. Pemda  kabupaten Bima memberi apresiasi kepada BPTP NTB yang telah memfasilitasi dan membimbing secara langsung kepada petani dalam kegiatan perbenihan jagung komposit. Untuk pengembangan dan keberlanjutan program tersebut diharapkan Dinas Pertanian Kabupaten Bima menindaklanjuti upaya yang telah dilakukan, karena para petani sudah bertambah ketrampilannya dalam membuat benih jagung sendiri. Hal ini tentunya akan sangat membantu khususnya Pemda Kabupaten Bima, disaat bantuan pemerintah dihentikan petani sudah mampu membuat dan menyediakan benih sendiri dengan tepat waktu sesuai dengan kebutuhannya. Kepala Balit Serelia  Dr. Ir. Herman Subagyo, MS dalam penjelasannya mengatakan bahwa Balitser siap mendukung benih sumber untuk keperluan Provinsi NTB, baik jagung hibrida maupun komposit. Kalau perlu di Kabupaten Bima ini bias dijadikan lokasi perbenihan dengan terlebih dahulu menyiapkan SDM yang kompentensi terutama dalam hal pemuliaan tanaman. Setelah acara dialog dengan petani, kemudian dilakukan pemanenan perdana kegiatan perbenihan jagung komposit tersebut.  (Sumber : Sudarto).

Web Analytics