Berita

Sekolah Lapang Pembibitan Dan Pembuatan Kompos Bagi Peserta M-KRPL Di Pulau Sumbawa

Pin It

Sebagai tindak lanjut dari kegiatan sosialisasi Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (M-KRPL) di Pulau Sumbawa maka dilaksanakan Sekolah Lapang (SL) pembibitan dan pembuatan pupuk kompos. Kegiatan ini bertujuan memberikan pengetahuan kepada petani peserta M-KRPL tentang teknis pembibitan tanaman di Kebun Bibit Desa (KBD) dan secara mandiri di lahan pekarangan masing-masing anggota dan pemanfaatan limbah tanaman dan ternak menjadi kompos sebagai media tanam.

Kegiatan SL ini dilaksanakan secara berurutan di 3 (tiga) lokasi M-KRPL di Pulau Sumbawa dimulai dari Desa Rempe Kec. Seteluk Kabupaten Sumbawa Barat (7/7), Desa Nusa Jaya Kec. Manggelewa Kab. Dompu (12/7) dan Desa Tumpu Kec. Bolo Kab. Bima (13/7). Para peserta di tiga wilayah tersebut sangat antusias mengikuti SL tersebut. Hadir dalam SL ini penanggung jawab kegiatan M-KRPL BPTP NTB Dr. H. Moh Nazam yang menekankan pentingnya memanfaatkan pekarangan sebagai sumber pendapatan keluarga, serta pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi, karena manusia adalah makhluk jasmaniah, yang tidak bisa hidup tanpa kalori dan protein (makan). Lebih lanjut ditegaskan bahwa untuk mencapai tujuan tersebut maka teknologi yang digunakan harus tepat dan ditunjang dengan sarana dan prasarana yang memadai.

SL dibagi menjadi dalam 2 (dua) sessi, yaitu: penjelasan teoritis dan praktik lapangan. Teknologi pembibitan tanaman dipandu oleh Eni Fidyawati, SP, sedangkan teknik pembuatan kompos dipandu oleh Ir. H. Sahram, MM. Teknologi yang diajarkan bersifat spesifik lokasi yaitu berdasarkan kondisi dan karakteristik lokasi masing-masing. Sebagai contoh di Kab. Bima, jenis tanahnya liat berdebu, sehingga untuk memperbesar porositas media pembibitan perlu penambahan pasir.

Demikian pula bahan pembuatan kompos adalah bahan-bahan yang banyak tersedia di lokasi, seperti kotoran ayam, itik, kambing, atau sapi, maupun limbah tanaman, seperti jerami, limbah jagung, dan sampah organik rumah tangga. Untuk mempercepat proses fermentasi digunakan katalisator yang mengandung mikroorganisme seperti: bacillus dan trichoderma. Proses fermentasi kompos dapat berlangsung antara 2-3 minggu tergantung bahan yang digunakan. Prosessing kompos dengan metode ini tidak perlu membalik bahan selama proses fermentasi.

Antusiasme peserta SL ini terlihat dari rasa keingin-tahuan mereka yang terungkap melalui pertanyaan-pertanyaan yang diajukan serta semangat mereka untuk mengikuti rangkaian kegiatan SL ini mulai awal sampai akhir. Yang sangat menggembirakan bahwa di Kabupaten Bima dilibatkan anak-anak SD setempat bersama guru mereka ikut sebagai peserta dalam SL ini. Harapan mereka dengan diselenggarakannya SL ini membuka wawasan mereka dan sebagai langkah awal membangun M-KRPL yang baik sekaligus merubah pandangan mereka tentang pekarangan yang selama ini dianggap “biasa” dan tidak bermanfaat menjadi salah satu pilar usaha keluarga yang memberikan dampak positif secara ekonomi dan sosial.  (Sumber : Eni F dan Nazam)

Web Analytics