Berita

Studi Banding Petani Kentang Sembalun, Lombok Timur, Ke Jawa Tengah

Pin It

Dalam rangka meningkatkan pengetahuan para petani kentang di Sembalun Lombok Timur NTB di bidang perbenihan dan budidaya kentang serta mempertahankan kawasan Sembalun – Lombok Timur sebagai daerah bebas Nematoda Sista Kuning (NSK) dan mengantisipasi OPTK (Organisme Pengganggu Tanaman Karantina) lain yang akan mengancam keberlangsungan sistem budidaya kentang dan komoditas hortikultura lainya, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Nusa Tenggara Barat melalui kegiatan ACIAR Potato sesuai naskah projek kerjasama  nomor CP/2005/167 telah  memfasilitasi 3 (tiga)  petani senior dari Sembalun dan 1 (satu) pendamping dari BPTP NTB untuk studi banding ke PT Indofood Fritolay Makmur Semarang, Kebun Benih Hortikultura Kentang Kledung - Temanggung dan Penangkar Benih Kentang di Wonosobo dan Banjarnegara Jawa Tengah, selama 5 (lima) hari dari tanggal 23 s/d 27 Mei  2012.

  • Kunjungan di PT Indofood Fritolay Makmur Semarang

Telah dilakukan diskusi langsung dengan Purchasing Manajer Indofood Fritolay Semarang tentang peluang kapasitas produksi kentang dari Sembalun yang bisa diserap serta advokasi harga pembelian kentang produksi petani Sembalun. Diinformasikan bahwa kapasitas pabrik memerlukan kentang 50 ton/hari untuk pabrik Semarang dan 100 ton/hari untuk pabrik di Tangerang, sehingga diperlukan kentang 52.500 ton/tahun. Sementara  produksi kentang dari Sembalun tiga tahun terakhir masih kurang dari 3.000 ton/ musim/tahun, sehingga peluang untuk mengembangkan produksi kentang di Sembalun masih terbuka seluas-luasnya. Untuk advokasi harga pembelian juga telah disampaikan untuk dapat ditinjau ulang dari harga pembelian  Indofood dan disepakati akan diteruskan aspirasi ini ke Purchasing Manajer Pusat di Jakarta.

  • Kunjungan di Kebun Benih Hortikultura (KBH)  Kledung Temanggung serta Penangkar benih kentang di Wonosobo dan Banjarnegara

Di KBH Kledung dipaparkan langsung sistem perbanyakan benih kentang mulai dari kultur jaringan materi induk yang diperoleh dari Balitsa Lembang, kemudian cara perbanyakan planlet dan aklimatisasi, serta sistem produksi benih G0, G1, G2 yang selanjutnya KBH Kledung bermitra dengan penangkar untuk produksi G3 dan G4. KBH Kledung juga sudah mendapatkan lisensi akreditasi untuk produksi G0 sebagai syarat teknis penghasil benih penjenis.

Proses sertifikasi dimulai dari setiap produki klas benih dengan melibatkan  petugas BPSB TPH setempat sesuai persyaratan  dan aturan yang berlaku antara lain harus bebas virus dengan uji Elisa untuk G0 dan G1.

Pengendalian NSK diperbenihan baik di KBH Kledung maupun penangkar benih dimulai dari sertifikasi benih dengan mengambil sampel tanah diawal tanam, bila dilahan tersebut dinyatakan ”0” persen systa NSK baru boleh ditanami benih yang akan disertifikasi, kemudian disaat panen dilakukan pemeriksaan NSK lagi dan dinyatakan lulus setelah dinyatakan bebas NSK. Kendala dilapangan ditingkat petani adalah kesulitan mengimlementasikan rotasi tanam kentang dengan tanaman lain untuk mengeliminasi gangguan OPTK khususnya NSK, karena belum diketemukan komoditas lain yang bernilai ekonomis dan diminati petani.

Diharapkan dari kegiatan studi banding ini dapat menjalin dan meningkatkan link kerjasama petani Sembalun dengan Indofood Fritolay dan KBH Kledung maupun Penangkar Benih dari Wonosobo dan Banjarnegara serta dapat dipelajari sesuatu yang baru yang dapat meningkatkan pengetahuan dan kompetensi petani dan petugas dalam hal perbenihan dan budidaya kentang untuk dapat diadopsi di Sembalun. Semoga.......(Sumber : Sudjudi, BSc., SP)

Web Analytics