Berita

Panen Padi Inpari-13 Di Puyung, Lombok Tengah, Inisiasi Petani Yang Membanggakan

Pin It

Sekretaris Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), H. Muhammad Nur, SH, mewakili Gubernur NTB melakukan panen padi Inpari 13 dan mencoba mesin panen di hamparan sawah Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) “Bismillah” di Desa Puyung, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah. Panen didampingi Sekda Kabupaten Lombok Tengah, Ketua DPRD Lombok Tengah, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi NTB, dan Kepala BPTP NTB. Dalam kata sambutannya Sekda Provinsi NTB menyatakan bahwa produksi padi di NTB harus terus ditingkatkan, karena NTB merupakan salah satu provinsi produsen beras nasional, yang sampai sekarang juga NTB  telah surplus beras dan mengirim kelebihan beras ke provinsi lainnya. Peningkatan produksi padi dan beras yang utama dilakukan tentunya dengan peningkatan produktivitas, termasuk dengan introduksi varietas padi unggul dari BPTP NTB. Oleh karena itu panen di Puyung ini perlu dicontoh dan dikembangkan di daerah-daerah lain untuk mempercepat upaya peningkatan produksi padi. Pemprov NTB sudah berkomitmen untuk membangun NTB yang beriman dan berdaya saing, oleh karenanya semua unsur pembangunan pertanian, baik petani, gapoktan, varietas padi juga harus unggul. Tiga pilar pembangunan pertanian, yaitu Pemerintah, Pengusaha, dan petani, harus bersatu dan menyamakan persepsi untuk memajukan sektor pertanian di NTB.

Sekda Kabupaten Lombok Tengah, Drs. H. Lalu Supardan dalam sambutannya menyatakan bahwa Lombok Tengah mempunyai potensi sawah yang terluas di NTB dan juga produsen padi terbesar di NTB. Tentunya perhatian Pemkab dalam pengembangan padi juga sangat serius, termasuk dalam mengintroduksi teknologi-teknologi yang dihasilkan BPTP NTB. Dinas Pertanian dan Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, beserta para PPL menjadi aktor utama dalam meneruskan teknologi BPTP kepada para petani.

Sementara itu kepala BPTP NTB, Dr. Dwi Praptomo, dalam laporannya menjelaskan bahwa panen raya ini diprakarsai oleh Gapoktan “Bismilah” secara swadaya. Fihak BPTP, Dinas Pertanian, dan mitra swasta bersifat mendampingi dan membantu fasilitasi. Yang patut diberi apresiasi tinggi adalah inisiasi para petani dalam menerapkan teknologi Badan Litbang Pertanian, terutama dalam sistem tanam jajar legowo. Rekomendasi Badan Litbang Pertanian adalah sistem 2:1, namun petani mengkreasikan dengan sistem 2:1, 3:1, dan 4:1, ditambah lagi penyisipan tanaman tidak saja di baris luar tanaman, tetapi juga di baris dalamnya. Ini merupakan pembelajaran penting bagi para petani lainnya, bahwa teknologi bisa dikembangkan sendiri, sehingga lebih sesuai dengan kondisi masing-masih daerah.

Acara panen padi dilanjutkan dengan temu wicara, dimana beberapa petani menanyakan dan mengusulkan beberapa hal, antara lain masalah ketersediaan benih Inpari 13, dan Inpari lainnya, masalah penyakit blast, masalah irigasi yang rusak, RDKK, pembelian gabah oleh BULOG, dana hasil cukai tembakau, keamanan dan lain-lain.

Hasil ubinan di petak sawah petani untuk varietas padi Inpari 13 sangat menggembirakan, yakni 10,9 ton/ha gabah kering panen. Ini merupakan prestasi yang sangat membanggakan, karena kerja keras dan kemandirian petani dalam menerapkan dan mengembangkan teknologi. (Sumber: Farida Sukmawati M).

Web Analytics