Berita

Sekolah Lapang Manajemen Kebun Mangga Untuk Mendapatkan Akses Pasar Yang Lebih Baik

Pin It

Kegiatan Sekolah Lapang Manajemen Kebun Mangga adalah salah satu rangkaian kegiatan penelitian dalam Proyek SMAR 2007/173 “Quality management to enhance effective supply chains for mangoes and rambutans in Nusa Tenggara Barat (NTB), Indonesia” yang dilaksanakan oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTB sejak akhir Tahun 2009 dan akan berakhir pada bulan Mei 2012.

Dari kurun waktu penelitian tersebut telah banyak informasi, teknologi produksi, pengendalian hama penyakit, teknik pembungaan, off season,  pasca panen dan strategi pemasaran yang  diperoleh  yang  bertujuan meningkatkan harga jual mangga di tingkat lapangan sehingga agribisnis mangga lebih menguntungkan dan berkelanjutan.

Oleh karenanya hasil penelitian ini  dapat menjawab permasalahan mangga di lapangan yang terindikasi ada 5 jenis hama utama dan 2 jenis penyakit utama yang mengakibatkan tanaman kehilangan hasil dari 26%-100% .  Pengendalian ketujuh jenis hama dan penyakit tersebut  adalah wereng mangga (Idiocerus niveospartus), lalat buah (Bactocera dorsalis), pengorok buah (Norda albizonalis), kutu putih (Rastrococcus spinosus), ulat  pengorok biji mangga  (citripestis), penggerek pucuk dan ranting mangga (Sternochetus goneocnemis) dan 2 jenis penyakit penting yaitu penyakit antraknose (Colletotricum gloeosporiodes) mejadi focus materi pembelajaran disamping teknologi manipulasi pembuahan mangga di luar musim yang diharapkan akan menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan harga jual mangga.

Sekolah lapang dibuka langsung oleh Kepala BPTP NTB (Dr. Ir. Dwi Praptomo S., MS).  Dalam sambutannya Kepala Balai menyampaikan bahwa komoditas mangga masuk dalam jajaran komoditas unggulan disamping pisang. Sedangkan dalam jajaran  komoditas untuk tujuan ekspor masuk dalam kategori prioritas disamping manggis, pisang dan jambu air. Indonesia termasuk negara ke lima produsen terbesar mangga, tetapi sangat ironis karena  dalam jajaran 10 negara pengimpor mangga terbesar di dunia, Indonesia termasuk didalamnya.  Hal itu mengindikasikan bahwa masih banyak tantangan pelaku usaha agribisnis mangga untuk dapat merebut pasar ekspor mangga.

Inti penyampaian materi adalah pemaparan hasil penelitian mangga yang disampaikan oleh peneliti bidang budidaya (Ir. Muji Rahayu, MSi) kepada pelaku agribisnis mangga  di daerah sentra mangga di Kecamatan Kayangan dan Bayan Kabupaten Lombok Utara.  Penyampaian hasil penelitian yang juga dilengkapi dengan pembagian beberapa leaflet hasil  penelitian dilanjutkan dengan peragaan aplikasinya oleh petani yang dipimpin oleh penyuluh.  Peserta sejumlah 40 orang dibagi dalam 4 Kelompok untuk mengerjakan tahapan-tahapan kegiatan dari awal hingga proses pemanenan.  Selanjutnya karena hari itu adalah jadwal pemangkasan dan pemupukan maka seluruh petani mempraktekkan ilmu dan informasi dari peneliti untuk dapat langsung diterapkan di lapangan.

Teknologi-teknologi yang dijarkan  diantaranya:

Pembuahan mangga di luar musim menggunakan paklobutrazol dosis 10-20 ml/lt/pohon  yang bertujuan mendapatkan waktu panen buah mangga yang diperkirakan saat itu tidak ada buah mangga dipasaran sehingga akan didapatkan harga jual yang tinggi. Selain itu teknologi lain yg penting adalah : Pengendalian lalat buah, Pengendalian ulat buah, Pengendalian ulat biji buah, Pengendalian penyakit antraknose, Penanganan pasca panen dan Pengendalian buah duduk (malformasi) khusus pada mangga gedong gincu.

Dengan demonstrasi dan awal pelaksanaan sekolah lapang ini diharapkan pada setiap tahapan petani mangga dapat belajar dan memonitor hasilnya untuk kembali didiskusikan dengan petani, penyuluh dan petugas lapang lainnya langsung di lapangan.  Kegiatan semacam ini seyogyanya dilaksanakan disetiap lahan pengkajian agar di setiap lokasi pengkajian juga merupakan wadah pembelajaran agribisnis pedesaan.  (Sumber : Muji Rahayu).

Web Analytics