Berita

Workshop Pemetaan Varietas dan Kebutuhan Benih VUB di KLU

Pin It

Kabupaten Lombok Utara (KLU) merupakan Kabupaten  termuda di NTB, dari segala ini  fasilitas infrastrukturnya, masih relatif minim. Di bidang pertanian wilayah KLU juga terbilang belum maksimal, oleh karena itu mewakili Dinas Pertanian  menyampaikan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada BPTP NTB yang mempercayakan KLU sebagai tuan rumah workshop, demikian kata-kata sambutan Kepala Bidang Penyuluhan dan Ketahanan Pangan KLU Mirahim,SP. Lebih lanjut Mirahim SP, mengatakan, workshop ini merupakan kegiatan yang pertama kali dilaksanakan di KLU oleh kegiatan Pusat/ Provinsi, mudah-mudahan melalui workshop ini sistem perbenihan di KLU akan lebih baik. Kesempatan ini harus bisa dimanfaatkan oleh penyuluh dan para pengembang benih, karena di KLU selama ini kebutuhan benih masih disuplai dari luar kabupaten, demikian dalam mengakhiri sambutan workshop hari senin, 19 Desember 2011 yang di ikuti oleh 24 peserta dari berbagai unsur yaitu Badan Penyuluhan, BPSB, BBI Santong, Kepala UPTD, Koordinator Penyuluh, dan para Penangkar Benih Padi se Kabupaten Lombok Utara.

Dr. M Nazam dari BPTP NTB menyampaikan bahwa benih memegang peranan yang sangat penting dalam usaha budidaya tanaman pangan. Hasil penelitian Bank Dunia dinyatakan bahwa dalam kondisi terpisah peningkatan produktifitas melalui benih berkualitas mencapai 15 %. Besarnya kontribusi benih terhadap produktifitas tanaman pangan khususnya padi mendapat perhatian khusus dalam kebijakan Pemerintah melalui Program Produksi Beras Nasional (P2BN) untuk pengamanan pangan kita. Hal lain ditekankan oleh Dr. M Nazam dalam workshop Pemetaan Varietas dan Perencanaan Benih VUB padi di Kabupaten Lombok Utara, adalah terkait dengan terbentuknya UPBS di BPTP NTB, adalah untuk mempercepat sebaran VUB ditingkat petani, karena belajar dari masa lalu varietas yang telah dilepas oleh Pemerintah sangat lama dimanfaatkan petani, padahal sejak tahun 2002 Pemerintah telah  melepas  banyak varietas unggul baru yang memiliki potensi cukup menjanjikan baik dari sisi keunggulan produktifitas maupun ketahanan terhadap cekaman hama & penyakit. Selain itu Dr. Yohanes Geli Bulu dari BPTP NTB juga memaparkan alur benih masa lalu dan masa kini.

Lebih lanjut menurut Dr. Yohanes, peran BBI yang memiliki tugas dan fungsi menyediakan benih sumber bagi para penangkar diwilayah kerjanya teridentifikasi tidak akan mampu melayani permintaan karena terkait dengan target PAD. Disisi lain saat ini telah banyak VUB hasil Litbangtan yang dilepas Pemerintah. Maka UPBS bentukan Badan Litbangtan yang berada di setiap BPTP adalah merupakan solusi terbaik. Karena tugas dan fungsi UPBS hanyalah untuk mensosialisasikan setiap VUB ke jenjang yang familiar yaitu menjadikan varietas yang komersial di tingkat petani.

Hal lain terungkap  berbagai masalah melalui diskusi workshop antara lain sebagai berikut ; Pola pengadaan benih SLPTT melalui PSO baik dari Pertani maupun SHS cenderung menghambat peningkatan produktifitas padi, karena kecepatan varietas, waktu dan mutu benih tidak pernah terpenuhi, pola bansos lebih tepat BLT ke kelompok dengan syarat mefungsikan peran penyuluh sebagai kontrol yang tegas. Rendahnya mutu benih dilapangan menjadi tanggungjawab siapa, BPSB atau penangkar sebagai produksen benih. Inpari 4 memiliki peluang terbesar berkembang di KLU karena tingkat produktifitas dan performan dilapangan  mendekati karakter vareitas ciherang. Peran pedagang beras atau pedagang tebasan di lapangan sangat tinggi, karena pemahaman pedagang tebasan terhadap VUB padi sangat minim, pedagang tebasan hanya membeli padi varietas ciherang dan IR64, disisi lain sistem usahatani petani setempat cenderung melalui sistem tebasan. Beberapa tahun terakhir terjdi penyimpangan musim sehingga penurunan produktifitas sangat nyata terhadap varietas dominan di KLU yakni ciherang dan IR64, untuk itu perlu varietas alternatif yang masih memiliki hubungan genetik dengan varietas adaptif di wilayah KLU. Benih sumber kelas FS maupun SS yang komersial sangat sulit didapatkan oleh penangkar KLU, diharapkan BPTP bisa melayani kebutuhan benih sumber. Perlu adanya Demfarm untuk mempercepat adopsi VUB di setiap BPP atau wilayah BPP yang dikawal secara intensif oleh PPL dan BPTP NTB.  (Sumber : Sabar Untung).

Web Analytics