Berita

Workshop Pemetaan dan Perencanaan Kebutuhan Benih VUB di Kabupaten Lombok Timur

Pin It

Sejak program P2BN tahun 2007, perbenihan  merupakan program prioritas Badan Litbangtan, karena dari sektor  benih  varietas ungul baru diyakini mampu memberikan peningkatan produktifitas yang signifikan, sehingga program swasembada pangan khususnya beras bisa teratasi, Demikian disampaikan oleh Dr. M. Nazam yang mewakili Kepala Balai dalam kata pengantar Workshop Pemetaan dan Perencanaan Kebutuhan Benih VUB Padi di Kabupaten Lombok Timur. Sementara Itu sambutan dari Kepala BP4K Kab. Lombok Timur dalam pembukaan mengingatkan agar dalam memetakan varietas betul-betul data yang bersumber dari unit terkecil yaitu desa agar datanya lebih valid, untuk itu peran penyuluh sangat dibutuhkan informasinya, karena kondisi riil desa harus dikuasai oleh para Penyuluh setempat. Hal lain dalam pengantar diskusi Workshop Kepala BPTP NTB Dr. Dwi Praptomo S, MS menyampaiakn peran BPTP dalam Konsep Perbenihan hanyalah sebatas Desiminasi Varietas, bukan mengarah pada usaha komersialisasi, dengan maksud VUB yang dilepas oleh Pemerintah cepat sampai ke petani, karena hasil penelitian menunjukan dimasa lalu varietas unggul baru sangat lamban diterima petani, padahal disisi lain VUB  membawa keunggulan tertentu yang dimungkinkan dapat meningkatkan produksi pangan kita.

Workshop yang telah terlaksana di Selong tanggal 15 Desember yang dihadiri peserta  38 orang terdiri dari berbagai unsure; Koordinator penyuluh se kabupaten Lombok Timur, Penangkar dan BP4K, Menghasilkan berapa masukan, saran dan kesepakatan bersama dalam membangun system Perbenihan di Kabupaten Lombok Timur.

Beberapa hal penting yang terungkap dalam diskusi workshop pemetaan dan perencanaan benih VUB padi antara lain ; varietas yang dominan di wilayah Kabupaten Lombok Timur adalah Ciherang, Cigeulis, Cilosari, IR64 dan IR66, sementara beberapa varietas yang disenangi seperti Tukad Balian dan Bondoyudo sulit didapatkan benih sumbernya karena di wilyah lain benih tersebut tidak dikembangkan oleh produsen benih.

Dominasi Organisme Pengganggu Tanaman padi di wilayah Lombok Timur adalah Tungro, Blast, dan Hawar Daun.

Produsen benih atau penangkar cenderung mengembangkan benih kelas dasar ke benih pokok dengan alasan petani mengunakan benih kelas SS (benih pokok) dalam usahataninya. Penyediaan benih BLBU secara umum di Kabupaten Lombok Timur, tidak tepat varietas, waktu dan kualitas, sehingga menurunkan animo petani kepada benih bersertifikat. Perlu adanya pemetaan varietas dan waktu tanam terhadap wilayah pengembangannya, sesuai hasil kegiatan pengkajian BPTP. (Sumber : Sabar Untung)

Web Analytics