Berita

Temu Lapang Demonstrasi Inovasi Pertanian Feromon Exi, Sebagai Perangkap Ngengat Jantan (Spodoptera exigua Hbn)

Pin It

Temu lapang dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 24 September 2011 di Desa Parangina , Kecamatan Sape kabupaten Bima. Peserta yang menghadiri acara tersebut adalah perwakilan dari Dinas Pertanian, Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan, Kepala Wilayah Kecamatan Sape, Kepala Desa Parangina, BPP Kecamatan Sape, Petugas Penyuluh Lapangan, petani bawang merah dari Kecamatan Sape, Belo, dan Lambu. Selain itu,  juga dihadirkan peneliti dari BB Biogen yaitu Ir. Yadi Suryadi, MS dan Ir. Wakhid Maulana.  Jumlah peserta  yang hadir sebanyak 90 orang.

Acara sambutan pengantar dari BPTP NTB disampaikan oleh Ir. Muzani, bahwa kegiatan demonstrasi inovasi pertanian tersebut sudah dilakukan mulai tahun anggaran 2010 yaitu dengan system usahatani berbasis bawang merah. Bawang merah oleh petani biasanya ditanam pada musim kemarau pertama dan  kemarau kedua. Pada musim hujan petani umumnya membiarkan lahannya bera, karena selama ini varietas padi yang diketahui oleh petani umurnya  panjang sehingga mengganggu saat tanam bawang merah yang dimulai pada bulan Maret-April. Pada kegiatan ini, BPTP NTB telah mengintroduksikan padi varietas unggul baru yaitu Inpari 13 yang memiliki umur panen 105 hari. Melalui introduksi varietas tersebut, sekarang petani dapat menerapkan pola tanam padi-bawang merah-bawang merah. Pada usahatani bawang merah, lebih ditekankan pada kegiatan perbaikan kualitas produksi, salah satu diantaranya pemasangan perangkap feromon exi untuk menangkap ngengat jantan Spodoptera exigua. Setelah pengantar dari BPTP kemudian dilanjutkan uraian pengalaman dari petani kooperator dan penyuluh  lapangan tentang penggunaan feromon exi. Pengalaman dari petani kooperator disampaikan  oleh Abdullah, yang menceritakan penggunaan feromon exi sangat membantu petani dalam mengatasi masalah ulat bawang. Jumlah ngengat jantan yang terperangkap sangat banyak, sehingga menurunkan populasi ulat. Penggunaan feromon exi juga ramah lingkungan karena dapat mengurangi jumlah penggunaan pestisida.

Sementara itu  Nasrudin dari BPP Kecamatan Sape menceritakan, berdasarkan pengamatan yang dilakukan penggunaan feromon exi membantu untuk mengurangi populasi hama. Banyak ngengat jantan yang terperangkap . Setelah menggunakan feromon exi, jumlah pestisida yang digunakan jauh berkurang, karena pestisida digunakan untuk tindakan pencegahan atau preventif saja bukan untuk membasmi hama ulat. Penggunaaan  feromon exi juga ramah lingkungan dan membuat musuh alami tidak mati.

Acara diskusi berlangsung  menarik, dengan moderator Ir. Muzani dari BPTP NTB. Pertanyaan disampaikan oleh peserta temu lapang dengan nara sumber dari BB Biogen dan BPTP NTB. Dari diskusi terlihat bahwa petani sangat menyambut baik adanya feromon exi ini. Penggunaan feromon exi dapat mengurangi pemakaian pestisida untuk memberantas hama, khususnya ulat bawang yang merupakan hama penting karena dapat menurunkan produksi bawang merah  bila tingkat serangan tinggi. Mereka sangat antusias dan mengharap tersedia feromon exi dalam jumlah yang mencukupi. Selain itu, feromon exi mudah didapat sehingga dapat diaplikasikan di lahan pertanian mereka.  (Sumber : Yurista Sulistyawati).

Web Analytics