Berita

Budidaya Semangka, Alternatif Pengganti Usahatani Tanaman Palawija (Kaji tindak (action research) UPTB Kecamatan Lembar)

Pin It

Budidaya semangka, tanaman yang sering dilihat tetapi belum pernah dicoba oleh penyuluh di UPTB kecamatan Lembar, dengan luas lahan 0,75 ha.  Tindakan tersebut bisa dibilang  berani karena selama ini para penyuluh tidak memiliki pengalaman menanam semangka. Sumber dana diperoleh dari program FEATI kabupaten Lombok Barat dengan terlebih dahulu mengajukan proposal. Dari total dana yang diajukan sebesar Rp. 25.000.000,- setelah dilakukan verifikasi disetujui sebesar Rp. 22.000.000,-  Asal muasal budidaya semangka, penyuluh kecamatan Lembar di bawah komando Pak Saup, SP melakukan musyawarah dengan FMA-FMA program FEATI UPTB kecamatan Lembar. Pola tanam di kecamatan Lembar adalah padi-palawija-palawija. Tanaman palawija didominasi oleh tanaman jagung. Dalam musyawarah tersebut ada keinginan dari FMA untuk mencoba dan mempejari budidaya semangka pada musim tanam kemarau kedua (MKII). Hal ini dilakukan karena ada pengalaman petani yang pernah mencoba menanam semangka dan mengalami kegagalan. Kegagalan tersebut disebabkan kurang pemahaman tentang teknologi budidaya semangka. Dengan kegiatan kaji tindak (action research) tersebut para penyuluh bersama FMA (petani) belajar bersama tentang teknologi budidaya semangka. Teknologi yang dipelajari antara lain : pesemaian, media pesemaian, pengolahan tanah, pembuatan bedengan single row, polinasi, pemeliharaan tanaman (pemupukan, pengendalian OPT, pembalikan buah). Informasi teknologi tersebut diperoleh selain dari BPTP juga mengakses dari internet. Setiap fase komponen teknologi yang diterapkan selalu dikerjakan bersama dengan FMA. Penyuluh dan petani belajar dan memecahkan secara bersama-sama persoalan-persoalan yang timbul di lapangan. Kunci utama dalam budidaya semangka adalah kegiatan polinasi (persilangan) dan pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT). Polinasi dilakukan pada semangka mulai berumur 20 – 30 hari setelah tanam, yaitu tanaman tersebut sudah mulai berbunga. Dalam kegiatan polinasi setiap jam 17.00 bunga yang tumbuh sudah harus diidentifikasi dan besuk harinya jam 09.00 kegiatan polinasi dilakukan. Setiap tanaman, bunga yang dilakukan polinasi sebanyak 2-3 bunga dan calon buah yang jadi dipelihara sampai siap dipanen. Pemeliharan buah harus selalu dibolak-balik agar warna buah tidak belang. Hasil yang diperoleh sangat menggembirakan selain mendapatan pengalaman baru tentang teknologi budidya semangka keuntungan yang diperoleh lumayan besar. Setiap tanaman mampu menghasilkan 2 – 3 buah dengan berat rata-rata 4,5 kg/buah. Harga buah semangka dijual Rp. 2000,-/buah, sementara biaya produksi yang dikeluarkan sebesar Rp. 5400,-/tanaman. Secara analisa ekonomi  masih menguntungkan karena setiap tanaman memberi keuntungan sebesar Rp. 3600,- dan pasar siap menunggu. Pengalaman yang diperoleh tersebut sesuai dengan tujuan kaji tindak (action research) yang tertuang dalam panduan umum yang diterbitkan oleh Badan SDM yaitu : a). Meningkatkan kemampuan Tim Penyuluh Lapangan (TPL) untuk merakit teknologi spesifik lokasi, b). Meningkatkan kemampuan Tim Penyuluh Lapangan (TPL) untuk memfasilitasi UP-FMA, Penyuluh Swadaya dan Kelompok Pembelajar merakit teknologi spesifik lokasi. Dari kegiatan ini diharapkan Tim Penyuluh Lapangan (TPL) meningkat kapasitasnya sebagai fasilitator pengembangan agribisnis yang berbasis teknologi spesifik lokalita, mengembangkan agribisnis berbasis inovasi teknologi spesifik lokalita yang mempunyai basis usaha agribisnis yang jelas di BPP lokasi FEATI, Memanfaatkan BPP sebagai layanan informasi agribisnis (klinik agribisnis), dan memberikan pengalaman kepada Tim Penyuluh Lapangan. Implementasinya kegiatan kajitindak yang akan dilaksanakan oleh masing-masing BPP harus dipandang sebagai kegiatan investasi dan berkelanjutan.   (Sumber : Sudarto).

 

Web Analytics