Berita

Terobosan Baru Percepatan Produksi dan Penggunaan Kompos untuk Usaha Tani yang Lebih Baik (Pengkajian Percepatan Adopsi Teknologi oleh BPTP NTB)

Pin It

Selasa, 20 September 2011 suasana berbeda terlihat di kelompok tani ternak “Bareng Kangen” Desa Pengadangan Kecamatan Pringgasela Kabupaten Lombok Timur. Para petani dan petugas lapang berkumpul  di lokasi tersebut untuk mengikuti kegiatan pembelajaran dalam rangka pengkajian percepatan adopsi teknologi pengolahan limbah kotoran sapi melalui jejaring kelompok kandang kumpul dalam upaya membangun 17 unit produksi kompos di Kabupaten Lombok Timur.  Pengkajian ini merupakan satu dari 5 pengkajian kompetitif yang dibiayai oleh Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian.

Dalam sambutannya kepala BPTP NTB, Dr. Dwi Praptomo, MS menyampaikan tentang peran utama BPTP sebagai lembaga penyedia teknologi pertanian bagi peningkatan pengetahuan dan pendapatan petani yang lebih baik. Melalui sentuhan teknologi limbah kotoran sapi dapat dijadikan sebagai pupuk organik yang merupakan input terpenting untuk memperbaiki kesuburan tanah yang mulai berkurang karena penggunaan pupuk an organik yang berlebihan. Sementara itu kepala Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP4K) Kabupaten Lombok Timur Ir. L. Wirantanus dalam sambutannya menyampaikan terima kasih atas kesempatan yang diberikan bagi para PPL untuk mendampingi petani agar dapat memanfaatkan limbah kotoran sapi yang selama ini menjadi masalah bagi kesehatan lingkungan ternyata bila dimanfaatkan dapat menjadi berkah bagi petani untuk menerapkan sistem pertanian yang berkelanjutan. Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Lombok Timur Ir. L. Khalid Tarmizi mengingatkan kembali tentang filosofi “ngaro-ngarat-ngaji” dalam konsep integrasi antara pertanian, peternakan dan pembelajaran yang sudah lama ditinggalkan petani.

Kegiatan ini diikuti oleh 50 orang peserta yang terdiri dari 1 orang petani dan 1 orang PPL pendamping dari desa masing – masing. Dalam kegiatan ini melibatkan 17 kecamatan yang diwakili oleh 1 desa yang yang memiliki kelompok tani ternak terpilih sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan seperti memiliki kandang kumpul, kepengurusan dalam keadaan aktif, masih memiliki ruang di sekitar kandang sebagai tempat pembuatan kompos dan berada di sekitar areal pertanian sebagai tempat aplikasi kompos yang telah dihasilkan.

Pengkajian ini direncanakan dilaksanakan dalam 5 kali pertemuan dengan ruang lingkup pembelajaran antara lain: teknis pelaksanaan pengkajian, pengenalan tentang pupuk organik, teknis pembuatan pupuk kompos, prospek pengembangan kompos dan aplikasi kompos pada areal pertanaman serta terbentuknya asosiasi produsen kompos di Kabupaten Lombok Timur.

Konsep pengkajian yang diterapkan yaitu pola laboratorium Lapang (LL) sebagai tempat pembelajaran dan kelompok ternak masing – masing sebagai tempat Sekolah Lapang (SL), sehingga dengan pola ini diharapkan dapat terjadi kesinambungan pembelajaran bagi petani ternak. Kelompok tani ternak “Bareng Kangen” terpilih sebagai lokasi LL karena letak yang cukup strategis, memiliki kepengurusan yang aktif, sarana pembelajaran yang memadai dan memiliki balai pertemuan yang dapat dijadikan sebagai tempat pembelajaran bagi petani ternak desa lainnya. Kelompok ini diketuai oleh Nurahadi dengan jumlah anggota 50 orang dengan jumlah sapi pada kandang kumpul sebanyak 150 ekor didukung oleh areal pertanian anggota seluas 24 Ha.

Selama 2 hari pembelajaran telah dipaparkan tentang tujuan teknis pengkajian, dan teknis pembuatan kompos yang dilanjutkan dengan praktek langsung pembuatan kompos. Setelah 2 hari pembelajaran di lokasi LL, petani dan PPL pendamping masing – masing desa diberikan tugas untuk membuat Rencana Tindak Lanjut (RTL) kegiatan yang akan dilaksanakan dikelompok masing – masing antara lain terkait jadwal pembuatan kompos, teknis pelaksanaan pembuatan serta  aplikasi pada tanaman yang spesifik lokasi. Dalam pengkajian ini masing – masing kelompok tani ternak telah mendapatkan bahan stimulan untuk membuat kompos sehingga tujuan pembelajaran di lokasi LL dapat langsung diterapkan setelah pembelajaran di lokasi LL dilaksanakan.

Diskusi menarik terkait penggunaan dekomposer yang dapat digunakan dalam pembuatan kompos yang akan menentukan kualitas dari kompos yang dihasilkan.

Respon  dari pemerintah setempat sejak awal pengkajian sangat mendukung bagi keberlanjutan dari pengkajian yang akan dilaksanakan, sehingga pada akhirnya diharapkan dapat terbentuk asosiasi produsen kompos yang akan mensuplai kebutuhan kompos bagi petani itu sendiri bahkan untuk skala luas dapat mendukung program pemerintah lainnya yang sinergis.  Di akhir pengkajian diharapkan terdapat 50 orang terampil membuat kompos yang tersebar pada 17 unit produksi, dan diaplikasikan pada beberapa komoditas tanaman semusim. (Sumber: Hiryana Windiyani dan Achmad Muzani)

Web Analytics