Berita

Pendampingan Kegiatan Kaji Tindak FEATI di Lima Lokasi Kabupaten Lombok Barat

Pin It

Kegiatan pendampingan kaji tindak FEATI dilakukan di lima lokasi BPP yang ada di kabupaten Lombok Barat sejak Agustus 2011. Adapun BPP yang dikunjungi adalah BPP Batu Layar, BPP Gerung, BPP Kebon Ayu, BPP Gunung Sari dan BPP Lingsar dengan komoditas masing-masing bawang merah, cabai rawit, melon, cabai rawit dan cabai besar.

Kunjungan hari pertama dilakukan di BPP Batu Layar dengan komoditas bawang merah.  Kegiatan pendampingan dilakukan di lahan pertanaman bawang merah bersama para PPL dan didampingi oleh kepala BPP setempat. Pada saat kunjungan tanaman baru berumur 17 hari. Kendala yang mereka hadapi adalah tanaman terserang penyakit daun pucuk layu, kemudian menguning dan rebah. Gejala tersebut tampak pada saat tanaman berumur >20 HST saat umbi mulai terbentuk. Bedengan memakai mulsa jerami dan selama ini untuk mengatasi masalah penyakit di lapang menggunakan pestisida kimia baik yang sistemik maupun kontak.

Kunjungan berikutnya dilakukan di BPP Gerung dengan komoditas cabai rawit. Di sini benih baru disemai dengan umur semai 21 hari. Menanam cabai terhitung baru untuk BPP Gerung, sehingga BPP belum memiliki pengalaman dalam teknologi pemeliharaan dan pengendalian OPT yang ditemukan di lapang. Untuk itu, adanya kegiatan pendampingan ini sangat disambut baik terutama oleh PPL. Kendala yang dihadapi tanaman dengan umur semai kurang dari tiga minggu ini adalah benih tumbuh lambat dan tidak seragam, dan daun terpotong sehingga yang tertinggal hanya batangnya saja. Pengalaman PPL di petani dalam pengendalian hama terpadu yaitu dengan pengamatan agro ekosistem, dalam arti pengendalian terhadap OPT dilakukan jika terdapat serangan di atas ambang batas ekonomi. HPT yang di temukan PPL berdasarkan keluhan petani di lapang adalah Fusarium, Antraknose, busuk akar dan batang, thrips, aphids, ulat grayak, dan lalat buah.

Ibarat pepatah lain ladang lain belalang, demikian pula dengan OPT yang dihadapi oleh BPP-BPP di Kabupaten Lombok Barat. Di BPP Gunung Sari dengan komoditas yang sama dengan BPP Gerung yaitu cabai rawit menghadapi masalah yang berbeda. Masalah yang dihadapi oleh PPL adalah pada saat persemaian, pemupukan dan pengendalian HPT. Berdasarkan kelayakan usaha, ketersediaan bahan baku, ketersediaan fasilitator, serta kekurang-mampuan penyuluh dan pendamping dalam memfasilitasi FMA sehingga terpilihlah cabai rawit sebagai komoditas dalam kegiatan kaji tindak ini. Point terakhir dalam penentuan komoditas kaji tindak yaitu kekurang-mampuan penyuluh dan pendamping dalam memfasilitasi FMA menjadikan budidaya komoditas ini (cabai rawit) sebagai tantangan bagi PPL.

BPP Kebon Ayu dengan komoditas melon menghadapi masalah utama keriting daun pucuk yang disebabkan oleh virus dimana thrips sebagai vektornya. Serangan OPT ini dapat menyebabkan kegagalan panen hingga 100%. Pestisida sistemik dan kontak telah digunakan untuk mengatasi masalah ini dengan penyemprotan 1-3 kali seminggu. Hampir semua pestisida kimia telah digunakan namun belum mampu mengatasi masalah. Umur tanaman baru 15 HST. Bila pucuk telah mengeriting maka pertumbuhan terhambat sehingga tidak terjadi pembungaan dan pembentukan buah.

BPP terakhir yang dikunjungi adalah BPP Lingsar dengan komoditas cabai besar yang ditumpangsarikan dengan tanaman tomat. Jagung telah diaplikasikan sebagai pagar untuk komoditas utama (cabai besar), namun hanya satu lapisan saja (saran penggunaan tanaman jagung sebagai pagar sekitar 4 - 5 lapis). Penanaman jagungpun relatif terlambat, karena tujuan utama penanaman jagung sebagai pagar adalah sebagai penarik perhatian bagi serangga OPT. Hal ini dapat optimal dilakukan bila tanaman jagung sebagai pagar berbunga pada saat tanaman utama mulai berkembang, sehingga tujuan pencegahan lebih efektif. Namun demikian, masalah OPT yang ditemukan di lapang tidak begitu berarti atau hanya sekitar 2% dan tidak sampai mempengaruhi produksi. Masalah OPT tersebut juga telah mampu diatasi sendiri oleh PPL baik dengan membasmi (membuang dan membakar) tanaman yang terlihat terserang penyakit agar tidak menjangkiti tanaman lainnya, maupun dengan penggunaan pestisida nabati dan kimia.

Dari lima BPP yang dikunjungi diperoleh beberapa harapan, dimana yang paling utama diharapkan adalah kunjungan semacam ini sering dilakukan untuk mengetahui perkembangan dan masalah yang dihadapi oleh PPL di lapang sehingga PPL mendapatkan solusi untuk masalah-masalah tersebut. Diharapkan pula hasil-hasil kajian di BPTP NTB dapat dijadikan panduan dan pembanding bagi PPL dan petani di lapang.   (Sumber : Fitrah).

 

Web Analytics