Berita

Seminar Pertanian Dan Peternakan: “Using Leucaena for Livestock Fattening”

Pin It

Proses Lahirnya sebuah teknologi baru sampai diadopsi oleh pengguna memerlukan waktu yang relatif panjang, mulai dari proses penelitian, penelitian adaptif, pengkajian yang kemudian diikuti dengan kegiatan diseminasi agar inovasi teknologi yang dihasilkan dapat sampai kepada pengguna. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Nusa Tenggara Barat (BPTPNTB) dengan Fak. Peternakan Univ. Mataram bekerjasama dengan Univ. Queensland Australia mengembangkan Pengkajian Model Pengembangan (PMP) penggemukan sapi berbasis pakan hijauan legume pohon. Sebagai langkah awal yang baik dalam proses diseminasi kegiatan tersebut maka dilaksanakan seminar dengan tema “Using Leucaena for Livestock Fattening” sekaligus sosialisasi terhadap kegiatan kerjasama penelitian “Improving cattle fattening system based on forage tree legumes in eastern Indonesia and northern Australia”. Seminar bertempat di Gedung Serbaguna Pasca Sarjana  Fak. Peternakan Univ. Mataram, kamis, 14 April 2011 yang dihadiri akademisi, peneliti dari BPTP, Sarjana Membangun Desa (SMD) dan Mahasiswa. Pembicara pada seminar ini adalah Assoc. Prof. Harry Max Shelton dari Universitas Queensland – Australia dan dipandu oleh peneliti senior BPTP NTB, Dr. Tanda Panjaitan.

Prof. Shelton mempaparkan keunggulan forage tree legume Lamtoro sebagai pakan ternak dan terjadinya keracunan subklinis pada sebagian ternak kambing dan sapi yang mengkonsumsi Lamtoro yang dapat berdampak pada terganggunya pertumbuhan ternak. Lamtoro merupakan tanaman legume pohon yang mengandung mimosine yaitu berupa asam amino non-protein yang sangat beracun. Apabila ternak memakan Lamtoro, maka mimosine ini segera diurai oleh enzim yang berasal dari tanaman dan oleh mikroba rumen menjadi dihydroxypyridone (DHP). Racun mimosine segera hilang namun DHP tetap dalam tubuh yang mengakibatkan terjadinya pembengkakan pada  kelenjar gondok, menurunnya nafsu makan, terganggunya reproduksi ternak, menurunnya pertambahan berat badan harian. Proses keracunan DHP berjalan secara perlahan dan kumulatif sehingga kondisi ternak terus semakin memburuk dan baru terlihat 2-3 bulan kemudian. Oleh karena tanda-tanda keracunan DHP biasanya tidak kelihatan maka disebut subclinical. Sebagian ternak mempunyai mikroba rumen yang dapat mengurai DHP menjadi sumber protein tubuh sehingga dapat mengoptimalkan efektivitas penggunaan Lamtoro sebagai pakan ternak. Identifikasi mikroba dan mensiasati cara pengembangannya agar ternak yang tidak mempunyai mikroba pengurai DHP dapat mempunyai mikroba tersebut merupakan bagian dari kegiatan kerjasama penelitian ini. Di kepulauan Nusa Tenggara terdapat daerah dimana petani menggemukan sapi berbasis Lamtoro dengan sangat baik seperti daerah Amarasi di kab. Kupang dan daerah Rhee di Kab. Sumbawa yang nanti diharapkan menjadi sumber mikroba pengurai DHP tersebut.  

Kagiatan seminar ini menjadi sangat menarik setelah dibuka dengan diskusi. Dalam diskusi berkembang berbagai masukan dan pertanyaan diantaranya kekhawatiran terhadap tingkat toksisitas tanaman Lamtoro. Seminar ini memberi informasi terbaru hasil-hasil penelitian Lamtoro untuk pakan ternak. Semoga kegiatan kerjasama penelitian ini akan memberi manfaat dalam usaha penggemukan sapi potong yang pada akhirnya meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani. (Sumber : Nani Herawati, Bq Nurul Hidayah).

Web Analytics