Berita

Temu Lapang Gelar Teknologi Manajemen Pemeliharaan Sapi Terpadu di Sembalun Lawang

Pin It
Sembalun Lawang berada di kaki gunung Rinjani, dengan keinggian sekitar 1.600 m dari permukaan laut, merupakan suatu lokasi yang cukup unik. Pada beberapa tahun yang lalu daerah ini cukup di kenal sebagai salah satu daerah penghasil bawang putih di Indonesia. Sekarang walaupun komoditas bawang putih sudah mulai berkurang, namun komoditas baru yang sedang “naik daun” saat ini adalah kentang. Selama ini daerah Sembalun dikenal sebagai daerah penghasil berbagai jenis tanaman hortikultura seperti cabe keriting, cabe merah, paprika, kubis, bawang merah, bawang putih, wortel. Sayur-sayuran yang dihasilkan adalah untuk memenuhi kebutuhan di dalam wilayah NTB maupun ke luar daerah seperti Jawa Timur dan lainnya.
Di balik itu masih ada komoditi yang cukup berpotensi, yang selama ini kurang mendapat perhatian karena lebih terfokus pada tanaman hortikultura, yaitu ternak sapi. Populasi sapi di Sembalun kurang lebih sekitar 5.000 ekor, yang dipelihara secara ekstensif, semi intensif dan intensif. Daerah pegunungan yang cukup luas dan tidak digunakan untuk lahan pertanian, menjadi tempat menggembala sebagian besar ternak-ternak sapi. Penduduk Sembalun yang bermata pencaharian sebagai petani tidak memiliki cukup waktu untuk memelihara sapi-sapi mereka secara intensif, sehingga sapi-sapi lebih banyak digembalakan di sekitar pegunungan. Hanya sebagian kecil yang dipelihara secara intensif di sekitar pekarangan rumah dan jumlahnya relatif sedikit 1-5 ekor per kandang. Sedangkan bagi mereka yan memiliki sapi puluhan ekor bahkan sampai ratusan ekor per orang, tentunya tidak memeiliki cukup waktu dan tenaga untuk menyediakan pakan.
Ternak mendapatkan suplai makanan dari hijauan yang tumbuh di tempat mereka digembalakan. Sapi-sapi hidup secara berkelompok untuk mencari makanan maupun untuk mencari air untuk minum di samping itu sebagian besar daerahnya yang berbukit-bukit, sehingga bagi sapi yang lemah tidak mampu untuk mengikuti kelompoknya sehingga menjadi salah satu penyebab tingginya angka kematian terutama anak-anak sapi. Ketersediaan rumput yang terbatas ketika musim kemarau juga engakibatkan pedet yang lahir tidak mendapatkan nutrisi yang mencukupi sehingga kondisi lemah dan terjadi kematian yang tinggi. Menurut penuturan salah seorang pemilik sapi bahwa kematian bisa mencapai 50%.
Sejak tahun 2008 BPTP NTB melaksanakan kegiatan “Gelar Teknologi Model Manajemen Terpadu Sapi Bali dengan Sistem Lepas dan Sistem Kandang di Desa Sembalun Lawang Lombok Timur” yang dibiayai oleh Proyek Peningkatan Pendapatan Petani Melalui Inovasi (P4MI). Kegiatan ini berakhir pada tahun ini, dan sebagai akhir kegiatan dilaksanakan Temu Lapang, untuk menyampaikan hasil kajian kepada masayarakat di sekitar dan Stakeholder lainnya.
Temu Lapang dihadiri oleh Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan, Kabupaten Lombok Timur, sekaligus mewakili Bupati Lombok Timur, Ir. L. Khalid Tarmizi, MT. Selain itu dihadiri pula Kepala Dinas Peternakan Propinsi NTB, Ir. H. Abdul Samad. Undangan lain terdiri dari masyarakat sekitar Sembalun Bumbung, PPL wilayah Lombok Timur, Ketua kelompok tani ternak di wilayah Lompok Timur. Acara dibuka oleh Kepala BPTP NTB Dr. Ir. Dwi Praptomo, S.MS, yang dilanjutkan oleh sambutan Bupati.
Rangkaian acara setelah temu wicara, adalah kunjungan di sekitar lokasi Temu Lapang untuk melihat langsung beberapa hasil kegiatan Gelar seperti, penyuntikan sapi untuk memperbaiki kondisi akibat kurang pakan saat musim kemarau (vitamin dan obat cacing), penyapihan, pembuatan kompos, aplikasi kompos pada tanaman sayuran dan juga ada pameran hasil olahan dari hasil pertanian sekitar sembalu seperti manisan tomat, manisan paprika, keripik kentang, kacang buncis goreng.
Perlu diketahui bahwa petani Sembalun sangat membutuhkan pupuk organik (kompos) untuk tanaman sayuran mereka khususnya kentang. Sehingga sebelumnya mereka harus mendatangkan kompos dari luar wilayah Sembalun, mereka tidak memiliki bahan baku untuk membuat, karena sapi-sapi digembalakan dan sulit untuk mengumpulkan kotorannya. Namun dari hasil mengikuti pembinaan BPTP, mereka telah mencoba untuk membuat kompos sendiri, dengan memanfaatkan kotoran dari kandang-kandang, sedangkan bagi yang menggembalakan sapinya sekali waktu sapi-sapi diturunkan dari tempat penggembalaan untuk dikumpulkan di penampungan (bara) selama beberapa hari. Cara ini juga bermanfaat untuk sekaligus dapat memeriksa kesehatan sapi-sapinya dan panen sapi. Biasanya sapi jantan yang sudah lepas sapih atau dewasa, sebelum dijual digemukkan dulu selama beberapa bulan.
Dalam kegiatan Gelar, juga diterapkan cara kastrasi sesuai teknik kesehatan hewan. Selama ini peternak melakukan kastrasi pada sapi yang sudah berumur dewasa sekitar 2 tahun. Cara tradisional menggunakan besi atau batu untuk menghancurkan testisnya, sehingga sapi-sapi jantan bisa mengalami pingsan saat kastrasi dilakukan. Telah didemonstrasikan cara-cara yang lebih baik yaitu melalui pembedahan dan mengeluarkan testisnya kemudian memotongnya dengan pisau yang tajam. Kastrasi disamping bertujuan untuk penggemukan sapi jantan, juga sangat penting artinya untuk seleksi pejantan bagi sapi yang digembalakan agar hanya pemacek (sapi jantan yang ianggap unggul) yang dapat mengawini betina-betina. (Sas)
Web Analytics