Berita

"Field Day" Jamu Tradisional Untuk Penggemukan Sapi

Pin It
Kegiatan pengkajian pemberian jamu tradisional untuk penggemukan ternak sapi potong telah selesai dan telah diperoleh hasilnya. Kegiatan yang dibiayai melalui Program Peningkatan Pendapatan Petani Melalui Inovasi (P4MI) ini dilaksanakan pada kelompok peternak "Demen Girang" di desa Tebaban, Kecamatan Suralaga Kabupaten Lombok Timur. Salah satu bentuk menyebaran informasi kepada masyarakat sekitarnya dan petugas lapangan yaitu melalui Temu Lapang yang dilaksanakan pada hari Rabu, 14 Oktober 2009 di lokasi pengkajian.
Hasil pengkajian telah membuktikan bahwa jamu tradisional yang disebut "Lo-Loh" (Bahasa Sasak) dapat meningkatkan pertambahan bobot badan ternak sapi. Bagi masyarakat peternak, jamu ini sudah tidak asing lagi namun tidak semua orang bisa membuat. Jamu ini dibuat menggunakan berbagai bahan lokal yang diramu oleh pembuatnya. Selain itu, masih ada empat kegiatan serupa yang dibiayai P4MI melalui aktivitas penjaringan Inisiatif Lokal tahun 2009 diantaranya yaitu penetasan telur ayam menggunakan drum bekas, pembuatan telur asin aneka rasa, pemanfaatan daun kelapa untuk pengendalian penyakit busuk buah kakao, serta pemanfaatan lahan bekas tanaman pisang sakit dengan manajemen usaha tani skala kecil.
Temu Lapang dihadiri oleh Bapak Drs Zohrowardi (Kabid Ekonomi Bappeda  - Kabupaten Lombok Timur) yang juga adalah salah satu anggota tim Evaluator, Bagian Kredit dari BRI Cabang Selong, ketua-ketua kelompok tani, PPL setempat dan Keswan serta anggota kelompok Demen Girang. Dalam kesempatan ini, Bapak Ir. M. Sofyan Souri selaku pejabat yang mewakili Kepala BPTP NTB menyampaikan akan pentingnya pemberdayaan sumber daya lokal dan insiatif langsung dari pelaku dan pemerhati pertanian di Kabupaten Lombok Timur untuk menggali potensi yang ada dan dapat memanfaatkan sebesar-besarnya untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Ditambahkan oleh Drs. Zohrowardi, kearifan lokal dapat dijadikan solusi bagi berbagai permasalahan pertanian dimasa mendatang terutama dikaitkan dengan semakin seringnya terjadi anomali iklim akhir-akhir ini sebagai akibat pemanasan global yang sudah tidak bisa dihindari lagi.
Drs. Zohrowardi (Kabid Ekonomi) juga menyarankan petani untuk memilih komoditas pertanian yang lebih variatif dengan mempertimbangkan kondisi lahan dan pasar. Merunut pada data kondisi lahan yang didominasi lahan kering mencapai 70%, maka salah satu komoditas andalan yang mendapat perhatian serius Pemda adalah pisang melalui gerakan "sejuta pisang". Sedangkan untuk lahan basah, kemungkinan pengembangan kacang tanah sangat perlu dijajaki mengingat harganya jauh lebih stabil dibandingkan dengan tembakau dan cabai. Tentunya belajar dari petani di Kecamatan Pringgarata - Kabupaten Lombok Tengah yang sukses mengembangkan kacang tanah dalam kemitraan dengan PT. BMT untuk mensuplai Garuda Food. Dengan demikian, untuk mencapai kesejahteraan dibutuhkan kerjasama yang luas antara petani, swasta dan pemerintah terkait termasuk sektor perbankan.
Yusrin dari Bank Rakyat Indonesia (BRI), sebagai lembaga keuangan yang selama ini telah banyak mengucurkan dana bersubsidi melalui KKPE-BRI untuk membantu permodalan petani atau kelompok tani dimana petani hanya menanggung 6% bunga pinjaman per tahun. Namun prosesnya yang dianggap lama oleh petani seperti yang diutarakan oleh Bapak Masri'in yang telah mengajukan kredit dua bulan yang lalu, walaupun ia mengakui persayaratan dan prosedurnya sangat mudah. Ternyata dari pihak BRI terkendala pada sumber daya karyawannya yang terbatas, dimana harus melayani sejumlah proposal yang masuk setiap harinya mencapai 10 usulan. Sebenarnya dalam kurun waktu minimal tujuh hari aplikasi yang diterima sudah mendapatkan jawaban dari bank diterima atau ditolak. Dan sebagian diperlukan untuk memberikan konfirmasi, hal tersebut menyebabkan proses menjadi terkesan lebih lambat dari semestinya.
Inilah salah satu topik hangat yang muncul saat sesi diskusi selain berbagai topik menarik lainnya yang tidak bisa tuntas dibahas pada saat temu lapang mengingat keterbatasan waktu. Untuk itu, kembali BPTP NTB mengundang petani dan peserta lainnya untuk menghubungi atau mengunjungi BPTP NTB agar mendapat pemahaman dan pengetahuan yang lebih baik. (Redaksi)
Web Analytics