Berita

Sekilas Perkembangan Pengkajian & Pemberdayaan Potensi Sumberdaya Lokal (Melalui Program P4MI) Th 2009

Pin It

Proyek Peningkatan Pendapatan Petani Melalui Inovasi (P4MI) dirancang untuk meningkatkan kesejahteraan pendapatan petani miskin melalui inovasi pertanian. Untuk itu diperlukan peningkatan akses petani terhadap informasi pertanian untuk mendukung pengembangan inovasi pertanian dan upaya pemberdayaan petani. Pendekatan partisipatif dalam perencanaan, pelaksanaan, pengembangan kelembagaan dan perbaikan sarana/prasarana yang dibutuhkan di desa, merupakan upaya yang dilakukan dalam pemberdayaan petani untuk pengembangan inovasi. Salah satu pendekatan partisipatif dalam kegiatan P4MI adalah pengkajian dan pemberdayaan potensi sumberdaya lokal. Pendekatan tersebut memberikan kesempatan bagi daerah untuk mengembangkan inovasi pertanian yang sesuai dengan kebutuhan petani di Kabupaten Lombok Timur.

Kegiatan pengkajian dan pemberdayaan potensi sumberdaya lokal ini diharapkan dapat sekaligus mengembangkan teknologi tradisional yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah akan paket teknologi utuhnya. Proses pengembangan inovasi dengan pendekatan partisipatif  lebih memiliki peluang yang besar untuk diterima dan diadopsi oleh petani karena pada prosesnya sesuai dengan keinginan dan kemampuan petani. Dengan demikian, teknologi tersebut dapat disosialisasikan atau didiseminasikan secara lebih luas dan dapat digunakan secara terpisah maupun kompatibel dengan teknologi modern.Tujuan kegiatan pengkajian ini adalah : a) untuk memberikan kesempatan bagi petani maupun yang lainnya untuk mengkaji teknologi lokal/tradisional dengan memberdayakan potensi sumberdaya lokal yang sesuai dengan kebutuhan petani di lokasi proyek P4MI di Kabupaten Lombok Timur, b) mengembangkan potensi sumberdaya lokal dengan teknologi yang sesuai ke dalam skala yang lebih besar.

Pada tahun 2009, jumlah proposal yang diajukan adalah sebanyak 12 proposal kegiatan, dari 12 proposal kegiatan tersebut selanjutnya diseleksi oleh tim penilai/evaluator yang telah dibentuk dari BPTP dan dipilih sebanyak 5 proposal kegiatan yang dibiayai. Berdasarkan keputusan tim penilai, kelima proposal kegiatan yang didanai pada tahun 2009 adalah sebagai berikut : 

No Judul Proposal Pengusul dan Alamat
1. Pemberian Jamu Tradisional untuk Meningkatkan Pertambahan Berat Badan Harian Ternak Sapi Potong Ir. Sasongko W R, M.Sc. dkkDesa Tebaban – Suralaga
2. Pemanfaatan Drum Bekas sebagai Mesin Penetasan Telur dengan Menggunakan Beberapa Sumber Energi Alternatif Rustan Efendi. dkkDesa Mamben Lauk – Kecamatan Wanasaba
3. Pemanfaatan Pakan Lokal dan Aneka Bahan Pendukung Produksi Telur Itik Aneka Rasa Zulkarnaen. dkkDusun Dasan Erot Kalijaga Timur
4. Pemanfaatan Lahan Bekas Tanaman Sakit dengan Sistem Managemen Usaha Tani Skala Kecil Yunus, SP. dkkDesa Labuan Pandan – Kecamatan Sambelia
5. Pemanfaatan Daun Kelapa Sebagai Media Pengendalian Hama Penyakit Busuk Buah pada Kakao Kartiaji Ramli. dkkDesa Pengadangan – Pringgasela

 Deskripsi dari masing-masing proposal yang didanai tahun 2009 adalah sebagai berikut:·        

Pemberian Jamu Tradisional untuk Meningkatkan Pertambahan Berat Badan Harian Ternak Sapi Potong. 

Upaya peningkatan produktivitas ternak sapi dalam rangka pemenuhan kebutuhan daging regional maupun nasional dengan berbagai pendekatan.  Pola pemeliharaan ternak sapi yang dikenal di masyarakat yaitu pembibitan dan penggemukan memiliki pendekatan peningkatan produktivitas yang berbeda.  Khususnya usaha penggemukan dengan sistem pemeliharaan yang umum pada peternak kecil tentunya masih sangat minim penggunaan teknologinya.  Jumlah modal yang dimiliki kecil sehingga mereka hanya dapat mengusahakan ternak dengan skala kecil pula 1 - 4 ekor.  Namun dengan perolehan modal pinjaman yang saat ini banyak diberikan kepada peternak kecil, menyebabkan mereka harus dapat mengembalikan modal pinjaman jangka pendek dengan keuntungan optimal.  Usaha penggemukan berdasaran pengalaman peternak, merupakan usaha yang bisa diandalkan dengan modal pinjaman jangka pendek.  Terkait dengan hal tersebut maka agar dapat diperoleh keuntungan maka mereka harus memacu peningkatan berat badan sapinya agar efisiensi waktu dapat diperoleh.  Di masyarakat peternak cukup banyak dikenal berbagai obat-obatan atau jamu ternak tradisional untuk mengatasi hal ini.  Jamu tradisional yang akan dikaji pada penelitian ini merupakan hasil racikan dengan bahan baku lokal yang khusus diperuntukan bagi usaha penggemukan ternak sapi.  Jamu ini akan diuji-coba dan dibandingkan efektifitasnya terhadap berbagai tingkatan umur ternak sapi. 

Pemanfaatan Drum Bekas Sebagai Mesin penetas Telur dengan Menggunakan Beberapa Sumber Energi Alternatif. 

Kegiatan yang dilakukan adalah pembuatan mesin penetas telur dari drum bekas dengan menggunakan sumber bahan bakar alternative seperti  minyak tanah, sekam padi, dan biji jarak. Hal ini didasarkan oleh kelangkaan DOC ayam ras kampung, ayam arab dan DOD itik petelur di Kabupaten Lombok Timur dan NTB pada umumnya, sehingga harga DOC dan DOD sangat tinggi. Pemanfaatan drum bekas selama ini belum maksimal dan rata-rata dibuat pot bunga dan alat-alat rumah tangga, sehingga mesin penetas telur dari drum bekas perlu didesain, bersama siswa SMK IP AL-MADANI dan peternak yang ada di sekiktar SMK yang merupakan wali santri. Pemerintah saat ini mengalami kesulitan bahan bakar, listrik sering mengalami pemadaman, apalagi di daerah-daerah di Kabupaten Lombok Timur diberlakukan pemadaman bergilir serta beberapa daerah belum mendapat layanan listrik sama sekali. Berdasarkan kondisi tersebut, perlu dicoba penggunaan bahan bakar alternative yang saat ini sangat melimpah di Kabupaten Lombok Timur pada mesin tetas dengan drum bekas yang memiliki kapasitas besar, kuat, tidak memerlukan tempat air, serta mudah dibuat oleh masyarakat sendiri.

Pemanfaatan Pakan Lokal dan Aneka Bahan Mendukung Produksi Telur Itik Asin Aneka Rasa. 

Itik merupakan ternak yang mampu beradaptasi dengan baik pada berbagai lingkungan, baik di dataran tinggi maupun rendah. Hal ini terbukti dari pola penyebarannya yang hampir di seluruh wilayah Indonesia. Namun seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk, nilai populasi dan produksi itik yang ada saat ini belum mampu mencukupi kebutuhan konsumsi protein hewani masyarakat secara nasional. Hal ini menunjukkan bahwa peluang pemasaran produk-produk peternakan termasuk telur dan daging itik masih terbuka lebar di wilayah Nusantara.

Salah satu bentuk pengawetan telur itik adalah dengan pengasinan. Telur itik asin dengan jumlah yang tidak begitu besar banyak dijumpai di setiap pasar di Kabupaten Lombok Timur. Berdasarkan survey awal yang dilakukan melalui wawancara, telur asin yang dibuat hanya diawetkan dengan menggunakan garam, hanya memiliki rasa asin, belum beraroma khas cenderung beraroma amis dan tekstur serta warna kuning telur belum menarik. Upaya untuk meningkatkan diversifikasi rasa dan jenis telur itik asin dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain penggunaan sumber pakan dan aneka bahan pendukung pengawetan telur itik. Pakan lokal seperti duckweed dan bekicot banyak dijumpai di persawahan di Kabupaten Lombok Timur. Penggunaan rempah-rempah seperti laos dan jahe bersifat antimikroorganisme pencemar sehingga meningkatkan daya simpan dan menimbulkan aroma yang disukai konsumen. Penggunaan ekstrak daun teh bertujuan agar zat tanin yang terkandung dalam daun teh dapat menutupi pori-pori kulit telur serta memberikan warna coklat muda yang menarik dan bau telur asin yang dihasilkan lebih disukai. Penambahan bumbu seperti bawang putih dan pemberian aneka rasa akan menambah diversifikasi rasa telur itik asin yang dihasilkan. Penambahan bahan-bahan tersebut diharapkan akan mendorong peningkatan kualitas telur asin yang dihasilkan. Kegiatan ini berpotensi diadopsi oleh pembuat telur itik asin skala rumah tangga yang dijumpai di setiap pasar tradisional, kios-kios makanan, warung makan dan supermarket. 

Pemanfaatan Lahan bekas Tanaman Sakit dengan Sistem Managemen Usaha Tani Skala Kecil. 

Perubahan lahan alang-alang menjadi kebun pisang di Desa Sambelia telah meningkatkan pendapatan petani dari Rp. 500.000;- / tahun (2003) menjadi Rp. 20.000.000;- / tahun (2006). Produksi pisang menurun drastis pada tahun 2007, hal ini disebabkan karena serangan penyakit layu fusarium dan penyakit kerdil/bunchy top yang menyerang hampir semua tanaman pisang di Kecamatan Sambelia. Untuk memutus siklus penyakit tersebut, petani disarankan untuk tidak menanam pisang selama 3 tahun. Untuk mengisi kekosongan lahan, ada indikasi petani mulai menanam tanaman semusim di lahan pisang seperti cabe, kacang tanah, kacang panjang, terong, dan membiarkan tanaman srikaya (groso) yang tumbuh liar di lahan pisang mereka.

Usaha tanaman semusim yang dilakukan saat ini masih bersifat uji coba dengan jarak tanam yang tidak teratur dan pemupukan yang belum berimbang, hal ini disebabkan petani belum menguasai teknik budidaya tanaman yang sesuai dengan anjuran masing-masing komoditas. Di lahan pisang umumnya memiliki sarana pengairan yang memadai seperti sumur bor yang dapat dimanfaatkan dan diatur waktu pemakaiannya sesuai kebutuhan tanaman. Sistem tanam yang belum teratur berupa tanaman campuran yang belum tertata dengan baik menyebabkan pemanfataan sumur bor belum optimal. Hal ini berdampak pada produksi yang rendah yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.Untuk membantu petani dalam mengatasi masalah ini diperlukan system managemen usaha tani yang tepat dan disesuaikan dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat. Salah satu upaya yang dilakukan yaitu dengan menerapkan system managemen usaha tani skala kecil. Kegiatan ini tidak membutuhkan input yang besar karena masih bisa memanfaatkan tanaman yang ada di dalam kebun.

Pemanfaatan Daun Kelapa Sebagai Media Pengendalian Hama Penyakit Busuk Buah Pada Kakao

Kegiatan ini dilaksanakan untuk mengetahui efektivitas pemanfaatan media daun kelapa dalam mengendalikan hama penyakit busuk buah pada kakao karena penyakit busuk buah dapat mengakibatkan kerugian total pada petani kakao. Selama pengamatan 1 (satu) tahun terakhir sampai tahun 2009, jumlah buah kakao dalam satu pohon bisa mencapai 150 buah, namun hanya sekitar 10% yang bisa dipanen karena serangan hama penyakit busuk buah. Menurut  Soekadar Wiryadiputra (2007), semut hitam (Dolichoderus thoracicus) merupakan agen pengendali hayati yang cukup efisien untuk menanggulangi hama utama (busuk buah) tanaman kakao. Agen hayati ini juga dapat mengendalikan hama penggerek buah kakao (Conopomorpha cramerella). Namun  pengembangan semut hitam pada perkebunan kakao masih cukup sulit, terutama pemapanannya pada tanaman kakao kecuali dengan membuatkan sarang.Menurut pengamatan Suprapno, semut hitam ternyata bisa menggantikan pengunaan insektisida dan fungisida, semut hitam tak mengganggu daun, bunga dan batang, bahkan dapat membantu proses penyerbukan tanaman kakao. Semut hitam bukan predator dan tidak memakan hama. Namun, kencing semut hitam terasa pedih dan terbukti dapat menjadi senjata ampuh untuk mengusir hama penganggu tanaman dan buah kakao. Busuk buah pada kakao yang disebabkan oleh serangga kepik pengisap (Helopeltis sp) bisa dikendalikan dengan semut hitam. Soekadar Wiryadiputra (2007) menunjukkan bahwa metode pemapanan semut hitam menggunakan sarang daun kelapa yang dikombinasi dengan inokulasi kutu putih menggunakan sayatan kulit buah kakao yang mengandung kutu putih dan perlakuan kutu putih yang diletakkan dalam kantong daun kakao adalah yang paling baik dan paling cepat untuk pengembangan semut dan kutu putih dari pada kontrol.Kegiatan ini dilakukan bersama-sama petani melakukan teknologi terapan sederhana dengan memanfaatkan daun kelapa dan sedikit bambu sebagai media mengundang semut hitam untuk bersarang. Pada saat semut hitam telah bersarang maka ia akan menetap hidup di media tersebut. Keberadaan semut hitam memiliki pengaruh terhadap hama penyakit busuk buah, terutama dengan adanya air kencing semut hitam yang dapat mengusirnya.Kegiatan Pengkajian Pengembangan Potensi Sumberdaya Lokal tahun 2009 telah mendapat tanggapan yang antusias dari semua lapisan masyarakat, terbukti dengan banyaknya judul proposal yang diajukan yaitu mencapai 12 proposal. Namun demikian, karena keterbatasan anggaran dan hasil seleksi tim evaluator untuk kegiatan ini maka hanya 5 proposal yang mampu dibiayai untuk tahun anggaran 2009. Hasil kegiatan sementara dari masing-masing lokasi juga menunjukkan adanya nilai tambah yang peroleh oleh petani dengan penerapan teknologi yang spesifik lokasi tersebut. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang bersifat partisipatif dan dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas. Hasil-hasil kegiatan ini nantinya juga akan disosialisasikan ke masyarakat luas dengan metode temu lapang petani untuk mempercepat diseminasi dan adopsi.  (Redaksi)

Web Analytics