Berita

Badan Litbang Pertanian Mendukung Program Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP)

Pin It


Hari kedua pelaksanaan Ekspose dan Open House BPTP NTB pada tanggal 1 Juli 2009 dimeriahkan oleh berbagai acara yaitu berbagai kunjungan ke visitor plot dan demonstrasi. Berbagai kegiatan yang ditampilkan adalah Bazar dan Pameran. Pada hari kedua ini juga dilaksanakan pertemuan teknis Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP). Sedangkan kegiatan lain yang dilaksanakan antara lain Kursus Budidaya Jamur Tiram dan berbagai demonstrasi yaitu Pembuatan Obat Tradisional Scabies, Pembuatan Pakan Sederhana, Pembuatan Kompos Jerami, Pembuatan dan Pengawetan Pakan, Sambung Pucuk, Pemanfaatan Kompor berbahan bakar Jarak Pagar, Operasional Stasiun Iklim, Penggunaan  PUTS dan PUPS, Cara Praktis Mengenal Pupuk Palsu, Penggunaan Bagan Warna Daun (BWD), Pembuatan Ice Cream Ubi Jalar dan Susu Kambing, serta  Pembuatan Dodol Nanas. Acara yang cukup menarik bagi pengunjung adalah visitor plot berbagai Varietas Unggul Baru (VUB) padi, jagung, kedelai, dan kacang hijau. Yang menjadi pertanyaan pengunjung ”dimana mendapatkan benih VUB-VUB tersebut ”. Pertanyaan ini yang harus kita jawab bersama.

Acara yang cukup besar pada hari kedua adalah Pertemuan Teknis dalam rangka Peningkatan Sumber Daya Petani Mendukung Program Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP) se NTB dihadiri oleh Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman (Dr. Suyamto), Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Dr. Abdullah Bamualim), Kepala Balai Penelitian Kacang-kacangan dan Umbi-Umbian (Balitkabi) Malang yang diwakili Koordinator Program (Dr. Marwoto) dan Ahli Padi dari Balai Besar Padi Sukamandi (Dr. Aan Darajat) dan dipandu langsung oleh Kepala BPTP NTB (Dr. Ir. Dwi Praptomo S., MS). Pada kesempatan tersebut, para Kapus/Kabalit memaparkan tentang perkembangan penelitian yang telah mereka lakukan kepada para hadirin yang terdiri dari Ketua Gapoktan yang menerima bantuan PUAP, Sarjana Masuk Desa (SMD) dan Lembaga Mengakar Masyarakat Mandiri (LM3).

Dalam Pertemuan tersebut, Kepala Pusat Litbang Peternakan Badan Litbang Pertanian mengemukakan bahwa pasar peternakan masih terbuka luas karena produksi dalam negeri masih dibawah kebutuhan nasional. Kalau ternak ayam memang sudah swasembada, dan ternak  kambing/domba cukup. Yang kurang adalah sapi potong dan sapi perah, yang diimport setara dengan 800 000 ekor hidup dan 70% kebutuhan susu. Ini merupakan peluang pengembangan yang sangat besar. Oleh karena kekurangan daging maka harga daging sapi cukup mahal dibanding daging ayam. Kalau melihat tren konsumsi masyarakat, konsumsi daging sapi adalah menengah ke atas, sedangkan golongan menengah ke bawah masih rendah mengkonsumsi daging sapi. Lebih lanjut Beliau mengemukakan bahwa di era tahun 70-an, NTB dan NTT adalah penghasil sapi, NTT mensuplai 70 000 dan NTB 20 000 ekor untuk pasar Jakarta, ini berlangsung sampai tahun 85-an, namun setelah itu trennya turun karena jumlah penduduk semakin banyak. Untuk kasus NTB, walaupun produksi tinggi tapi kemampuan mensuplai kebutuhan pasar rendah. NTB masih punya peluang lebih baik karena alamnya yang lebih bagus dibandingkan NTT. Usaha peternakan mempunyai peluang yang cukup baik ke depan.

Sementara itu Kepala Puslitbangtan (Dr. Suyamto) mengemukakan bahwa Puslitbangtan mengkoordinasikan beberapa  Balai, yaitu BB Padi, Balitkabi, Balitsereal. Saat ini BB Padi sudah melepas lebih dari 200 varietas padi. Sekarang lebih 50% petani menanam varietas Ciherang, sedangkan varietas  lain tergantung daerahnya. BB Padi selalu berusaha menghasilkan varietas unggul yang lebih tinggi hasilnya untuk memenuhi kebutuhan dan permintaan masyarakat. Selain itu juga dihasilkan padi lahan rawa dan lahan kering serta tahan salin untuk daerah pinggir pantai.  Untuk mempercepat pengembangan, maka dihasilkan benih sumber yang dikirimkan ke masing-masing BPTP. Kemudian ada Balai Penelitian Tanaman Umbi-umbian dan Kacang-kacangan di Malang yang menyiapkan benih sumber tanaman kacang-kacangan dan umbi-umbian. Menurut Beliau, NTB sebenarnya sejarahnya menjadi sentra produksi kedelai, tapi sekarang manjadi jagung dan kacang tanah. Dan juga ada Balitsereal di Maros yang fokus menangani jagung, gandum dan serealia lain (sorgum). Pada prinsipnya Puslit dan Balit yang ada di Badan Litbang Pertanian siap mendukung percepatan pembangunan pertanian di Nusa Tenggara Barat.

Pada hari kedua ini juga diramaikan oleh kunjungan sekitar 150 orang PPL se-Pulau Lombok yang sangat antusias mengikuti semua demo-demo yang ditampilkan di masing-masing stand. Dari beberapa wawancara yang dilakukan dengan PPL yang hadir, semua menyatakan sangat puas dengan pelaksanaan ekspose dan open house ini. (Red)

Web Analytics