Berita

Peningkatan Kapasitas Pemandu Lapang Kentang "Cegah NSK Masuk Sembalun"

Pin It

Kentang merupakan salah satu komoditas sayuran yang penting dan mempunyai prospek pasar yang luas, baik sebagai sayuran maupun sebagai industri pangan olahan. Karena itu posisi komoditas kentang untuk masa mendatang diharapkan menjadi pilihan diversifikasi sumber karbohidrat yang membantu ketahanan pangan. Perserikatan Bangsa-Bangsa telah mendeklarasi tahun 2008 sebagai Tahun Kentang Internasional. FAO juga telah menyarankan perlu adanya peningkatan kesadaran akan pentingnya kentang sebagai makanan pokok bagi penduduk negara-negara berkembang. Hal ini dimaksudkan sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan ketahanan pangan dan mengatasi kemiskinan di dunia.

Tahun 2008 Pemerintah telah mencanangkan Kentang Sebagai Alternatif Diversifikasi Pangan. Kentang di Indonesia umumnya dibudidayakan pada wilayah dataran tinggi. Di NTB kentang dibudidayakan oleh masyarakat tani di dataran tinggi Sembalun รข€“ Lombok Timur. Masyarakat Sembalun telah lama mengenal cara budidaya kentang dan sejak tahun 2005 mencoba mengadaptasikan kentang Atlantik yang banyak digunakan sebagai bahan baku pembuatan keripik kentang. Belakangan ini kentang telah menjadi primadona bagi masyarakat tani di Sembalun.

Kelompoktani Horsela telah memelopori menjalin kerjasama kemitraan dengan PT Indofood yang dapat membantu petani dalam penyediaan sarana produksi dan pemasaran kentang Atlantik. Sampai dengan tahun 2008 telah dihasilkan 3.925 ton kentang Atlantik pada area seluas 157 ha dengan produktivitas rata-rata 25 ton/ha. Namun disadari sepenuhnya bahwa masih banyak kendala dalam pengembangan komoditas kentang di Indonesia. Salah satu hambatan berat dalam produksi kentang adalah meluasnya penyebaran penyakit Nematoda Sista Kentang (NSK) yang sudah mewabah di wilayah pulau Jawa. Kondisi ini sangat mengkawatirkan petani kentang di NTB, karena banyak pedagang benih kentang yang mengambil benih kentangnya dari salah satu daerah di pulau Jawa.

Untuk mengetahui ada-tidaknya penyakit NSK di NTB, ahli NSK dari ACIAR bersama seorang staf BPTP telah melaksanakan survey di wilayah Sembalun dari bulan Juli sampai dengan November 2008 dengan mengambil 454 titik sampel tanah dari 43 lahan petani yang telah lama menanam kentang. Hasil survey tersebut menyatakan bahwa semua sampel tanah yang diperiksa dan didata menunjukkan negatif NSK. Hasil yang sama juga dinyatakan oleh pakar NSK dari Yogyakarta, setelah tanah dari Sembalun diamati secara mendalam di Laboratorium Nematologi Universitas Gadjah Mada. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa wilayah Sembalun mempunyai potensi besar untuk dijadikan sentra Pembibitan Kentang Sehat untuk memenuhi kebutuhan bibit kentang bagi daerah lain di Indonesia.

Upaya kita bersama yang harus kita mantapkan adalah menjaga agar penyakit NSK tidak masuk ke wilayah NTB melalui pengawasan yang ketat setiap komoditas kentang khususnya dan sayuran pada umumnya yang keluar masuk wilayah NTB. Selain itu sepantasnyalah apabila petani sebagai produsen komoditas kentang harus terus berusaha untuk meningkatkan produktivitas kentangnya dan menjaga bahkan meningkatkan kualitas kentang Atlantiknya agar hasil yang dipanen sesuai dengan standar mutu yang dibutuhkan oleh perusahaan pengolah kentang. Untuk itu petani harus mendapatkan binaan dan bimbingan para petugas penyuluh lapangan (PPL) yang bertugas di Sembalun. BPTP NTB telah ditunjuk ACIAR untuk bersama-sama Dinas Pertanian Provinsi NTB dan Kabupaten Lombok Timur membina dan membimbing petani kentang di Sembalun dalam melakukan proses pembelajaran teknik budidaya kentang yang dilaksanakan melalui pendekatan pengelolaan tanaman terpadu (PTT). Karena itulah petugas penyuluh lapangan (PPL) yang dalam jumlah terbatas telah dilatih bersama pemandu lapang yang akan membantu membimbing petani dalam mengelola usahataninya guna meningkatkan kesejahteraan keluarganya di masa mendatang. Kegiatan yang bertajuk Training for Trainers tersebut telah dilaksanakan di Aula BPTP NTB dan juga di lahan pertanaman kentang di Sembalun pada tanggal 18 - 21 Mei 2009.

Pelatihan yang berlangsung selama 4 hari tersebut diikuti oleh 14 orang peserta yang terdiri dari PPL dan petani pemandu di wilayah Sembalun, dengan nara sumber berasal dari BPTP NTB, BPSBTPH NTB, BPTPH NTB, dan LPTP Solo. (KK & BNH & FSM).

Web Analytics