Berita

Pemasalan "Sistem Kelebuh" Sebagai Kendaraan Membumikan Sejuta Sapi di Nusa Tenggara Barat

Pin It

Menjadikan Nusa Tenggara Barat (NTB) sebagai pusat pengembangan peternakan sapi merupakan salah satu program unggulan NTB dalam melakukan percepatan pembangunan melalui program Bumi Sejuta Sapi (BSS). Sejak BSS dicanangkan oleh Bapak Gubernur NTB pada tanggal 17 Desember 2008, banyak orang menunggu penjelasan lebih lanjut tentang apa yang dimaksud dengan BSS. Sementara ini BSS ditafsirkan beragam antara lain disebut sebagai upaya pemerintah NTB melakukan percepatan pertumbuhan populasi ternak untuk mencapai jumlah yang secara signifikan dapat mendorong percepatan pembangunan NTB, atau sebagai upaya pemerintah NTB meningkatkan populasi ternak sapi menjadi satu juta ekor dalam kurun waktu tertentu dan sebagian memahaminya sebagai upaya pemerintah untuk meningkatkan populasi ternak sapi sampai satu juta ekor sebagai populasi optimum dalam rangka menjadikan NTB sebagai pusat pengembangan peternakan sapi dan banyak lagi pemahaman dan penafsiran lainnya.

Terlepas dari berbagai penafsiran yang ada jika BSS secara harafiah diartikan dengan upaya untuk mencapai populasi ternak sapi sebanyak satu juta ekor pada tahun 2013. Pertanyaan ikutan yang muncul adalah berapa populasi sapi yang ada saat ini, berapa pertumbuhan populasi yang ada sekarang dan berapa kira-kira besarnya populasi sapi pada tahun 2013 jika tidak ada upaya percepatan pertumbuhan melalui program BSS. Bagaimana cara atau strategi pemerintah menaikkan populasi sesuai target program BSS?

Data statistik populasi ternak sapi sejak tahun 1969 sampai tahun 2008 menunjukkan bahwa rata-rata pertumbuhan populasi ternak sapi di NTB hanya sebesar 1.8%/tahun. Jika ditarik garis regresi dari data tersebut maka didapat persamaan yang dapat digunakan untuk memperkirakan trend dari populasi beberapa tahun kedepan. Berdasarkan persaman yang diperoleh dari garis regresi, diperkirakan populasi ternak sapi di NTB pada tahun 2013 mencapai sebesar 561.960 ekor, dengan asumsi bahwa tingkat pengeluaran sapi potong dan bibit antar pulau serta pemotongan lokal bertumbuh mengikuti garis trend yang sama. Data statistik Peternakan menunjukkan bahwa populasi sapi tahun 2008 tercatat sebesar 546.114 ekor. Jika dilihat dari trend yang ada maka kenaikan populasi dari tahun 2008 sampai 2013 hanya sebesar 15.800 ekor. Hal ini menunjukkan pentingnya upaya percepatan pertumbuhan populasi jika ingin menjadikan NTB sebagai salah satu pusat pengembangan peternakan sapi nasional dan menjadikan sapi potong bukan sebagai gerbong melainkan lokomotif pembangunan di NTB.

Dari angka prediksi populasi sapi pada tahun 2013 diatas dapat dilihat bahwa program BSS diharapkan dapat memberikan pertambahan populasi setidaknya sebesar 440.000 ekor sampai tahun 2013 ini artinya penambahan populasi sebesar 80% dari populasi yang ada sekarang. Pertambahan populasi sebesar angka tersebut membutuhkan induk atau betina dewasa produktif sebagai mesin produksi yang tidak sedikit pula. Jika pada saat ini diperkirakan jumlah induk atau betina dewasa produktif 38% dari populasi yang ada atau sebesar 207.500 ekor, maka untuk menambah populasi sebesar 440.000 ekor diperlukan tambahan betina dewasa produktif setidaknya sebanyak 170.000 ekor untuk dapat mencapai target populasi sebesar satu juta ekor pada tahun 2013.

Perbanyakan induk dapat dilakukan dengan berbagai kebijakan antara lain dengan mendatangkan atau memasukkan betina produktif dari propinsi lain sehingga populasi induk dapat mencukupi untuk mendukung penambahan populasi sebesar 440.000 ekor pada tahun 2013. Alternatifnya memanfaatkan produksi sapi bibit yang ada menjadi bakal induk untuk memasok kekurangan 170.000 betina dewasa produktif. Tampaknya alternatif kedua merupakan pilihan yang terbaik yang dapat dilakukan mengingat fondasi industri sapi potong rahyat di NTB berbasis ras sapi Bali yang rata-rata kualitasnya jauh lebih baik dari ras sapi yang sama dari daerah lainnya. Pertanyaannya adalah mampukah sistim produksi yang ada sekarang menyediakan betina produktif sebanyak 170.000 ekor dalam waktu lima tahun atau bahkan empat tahun kedepan.

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTB pada tahun 2001 sampai 2004 mengembangkan sistim pembiakan sapi Bali di desa Kelebuh Lombok Tengah bekerja sama dengan Universitas Queensland dan Departement Primary Industry (DPI) Queensland Australia dengan dukungan dana dari Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR). Kompleksitas masalah yang ada pada peternakan rahyat membutuhkan solusi sederhana yang mudah diterima dan dapat menjadi titik ungkit untuk memperbaiki keseluruhan sistem produksi merupakan dasar bergerak dari kegiatan pengembangan model pembiakan yang dilaksanakan di desa Kelebuh selama empat tahun. Pada prinsipnya model pembiakan yang dikembangkan dan kemudian lebih dikenal dengan Sistim Kelebuh, berbasis pada mengharmonikan aktifitas biologi reproduksi dengan ketersediaan nutrisi dilapang sehingga puncak ketersediaan (kualitas dan kuantitas) pakan dapat dipertemukan dengan puncak kebutuhan ternak melalui kontrol perkawinan dengan menerapkan kawin alam dan menerapkan penyapihan dini untuk mengurangi tingkat kebutuhan nutrisi induk-anak sehingga aktifitas reproduksi induk tetap terpelihara walaupun ketersediaan pakan dilapang terus menipis (Gambar 2).

Dari penerapan model ini di Desa Kelebuh, selama empat tahun (2001-2004) dengan tiga kali periode kelahiran diperoleh rata-rata tingkat kebuntingan 80% atau service per conception 1.3, rata-rata jarak antar beranak hingga bunting berikutnya 70 hari dan 80% dari induk muda (beranak pertama) dan 90% dari induk dewasa bunting kembali selama periode Intensifikasi Kawin Alam (INKA) (6 bulan), 85% dari total induk mampu memelihara pedet dengan baik hingga mencapai umur sapih (5 - 6 bulan) dengan  berat sapih berkisar antara 60 – 90 kg (± 75 kg).  Jumlah induk yang dapat dilayani oleh satu ekor pejantan dalam waktu enam bulan rata-rata sebanyak 70 ekor dan kerap kali pejantan mengawini 4 - 5 ekor betina dalam  sehari jika terjadi akumulasi jumlah betina birahi pada hari yang sama (Panjaitan et al., 2008).

Pola pemeliharaan sapi di NTB umumnya dapat dibagi menjadi dua pola besar yaitu pemeliharaan terkontrol meliputi kontrol pakan dan perkawinan oleh pemilik atau pemelihara ternak disebut pola intensif dan semi-intensif. Sebaliknya  pola pemeliharaan ternak di lepas bebas sehingga pemenuhan kebutuhan pakan dan perkawinan berada diluar kontrol dari pemilik atau pemelihara ternak disebut pola ekstensif (Bamualim dan Wirdahayati, 2003). Berdasarkan beberapa survei yang dilakukan diketahui berkisar 40% atau 220.000 ekor ternak sapi di NTB dipelihara secara intensif dan semi intensif sedang selebihnya dipelihara secara ekstensif. Pada pola pemeliharan intensif dan semi intensif jumlah induk mencapai 55 – 60% dari struktur populasi pada pola tersebut sehingga jumlah betina produktif yang ada pada sistim intensif dan semi intensif di NTB diperkirakan ada sebesar 125.000 ekor. Jika Sistim Kelebuh diterapkan pada keseluruhan pola intensif dan semi-intensif yang ada di NTB maka terdapat potensi panen pedet lepas sapih sebesar 85.000 ekor/tahun atau pedet betina lepas sapih sebesar 44.000 ekor/tahun. Dengan demikian dalam kurun waktu empat sampai lima tahun dari penerapan Sistim kelebuh pada pola pemeliharan intensif dan semi intensif akan dapat memasok kebutuhan tambahan betina dewasa produktif (170.000 ekor) yang dibutuhkan untuk menunjang program BSS. Jika ini terjadi maka selama program pemacuan pertambahan induk dan populasi berjalan, propinsi NTB masih tetap dapat memainkan peran tradisionalnya yang sangat penting sebagai pemasok ternak sapi bibit nasional dengan mengoptimalkan produksi sapi bibit dari pola ekstensif. Perbaikan manajemen pemeliharaan untuk menekan angka kematian yang memang sangat tinggi pada pola pemeliharaan ekstensif tidak saja dapat menambah kecepatan pemenuhan jumlah induk atau betina dewasa produktif bahkan kemungkinan dapat meningkatkan jumlah pasokan sapi bibit keluar daerah sementara pemacuan pertumbuhan jumlah betina dewasa produktif dan total populasi berlangsung. Dengan demikian penerapan Sistim Kelebuh berpotensi digunakan untuk memenuhi target program BSS sehingga dapat dijadikan kendaran membumikan sejuta sapi di NTB.

Pemasalan sebuah model atau sistim pemeliharaan memang tidak semudah perhitungan diatas kertas. BPTP NTB dan Universitas Mataram bekerjasama dengan CSIRO Australia didukung oleh dana ACIAR telah melakukan pemasalan horizontal Sistim Kelebuh pada 24 kelompok ternak dan pada tahun 2009 merencanakan pengembangan untuk mencapai 36 kelompok ternak yang ada di Kabupaten Lombok Tengah dimana lebih dari 900 orang petani ternak terlibat dalam kegiatan scaling up ini. Kegiatan ini dapat dijadikan tempat belajar (action learning process) atau laboratorium pemasalan yang dapat membantu pengambil kebijakan menetapkan strategi pemasalan baik pemasalan horizontal, vertikal dan institusional sehingga pencapaian program BSS dapat mencapai target yang diharapkan. (Tanda Panjaitan)

Web Analytics