Berita

Menjadikan Nusa Tenggara Barat Bumi Sapi

Pin It

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang baru kelihatannya memberikan perhatian yang serius terhadap pembangunan pertanian khususnya bidang peternakan sapi potong. Hal ini tercermin dengan di canangkannya NTB sebagai bumi sapi. Program ini sepertinya gayung bersambut dengan Program Percepatan Swasembada Daging Nasional. Momentum menjadikan NTB bumi sapi sangat tepat waktu dan sasaran. Indonesia sekarang ini sedang menghadapi krisis ketidak mampuan mencukupi sendiri penyediaan daging sapi dari produk dalam negeri. Pertumbuhan populasi sapi kita sangat lamban. Populasi sapi hanya bertumbuh rata-rata sebesar 1,1 persen per tahun dari tahun 2003 sampai 2007 sedang konsumsi daging sapi meningkat rata-rata sebesar 4 persen per tahun. Jurang antara kemampuan produksi dan konsumsi daging sapi nasional yang terus melebar untuk sementara ini ditambal dari pasokan import sapi hidup maupun daging beku. Volume import daging terus meningkat karena permintaan daging sapi di dalam negeri yang terus bertambah sebagai akibat pertumbuhan penduduk dan perbaikan ekonomi.

Australia sebagai negara pemasok ternak hidup dan daging beku terbesar ke Indonesia melalui lembaga Meat Livestock Australia (MLA) pada tanggal 20 Oktober 2008 yang lalu mengeluarkan media release pertumbuhan eksport sapi hidup dan daging mereka ke Indonesia. Pada tahun anggaran 2006-2007 eksport sapi Australia ke Indonesia sebesar  452.000 ekor dan meningkat menjadi 547.000 ekor sampai September 2008. Ekspor sapi hidup ini berturut-turut setara dengan 121.600 ton dan 146.000 ton daging. Sementara itu eksport daging beku Australia ke Indonesia pada tahun 2006-2007 mencapai angka 28.000 ton dan meningkat menjadi 46.900 ton sampai September 2008. MLA memperkirakan volume eksport mereka masih akan naik sebesar 23 per sen sampai akhir tahun 2008. Nilai eksport sapi dan daging Australia ke Indonesia pada tahun 2006-2007 sebesar 376 juta dollar Australia dan naik ke angka 440 juta dollar Australia pada September 2008. MLA memprediksi eksport sapi dan daging mereka ke Indonesia masih akan meningkat sebesar 12 per sen pada tahun 2009.

Secara nasional besarnya import daging sapi dan kecenderungan import yang terus membengkak jika tidak dilakukan upaya-upaya khusus dan langkah strategis untuk menurunkan laju ketergantungan terhadap daging sapi import dapat berdampak negatif pada ketahan pangan daging nasional. Disisi lain permintaan daging nasional yang terus meningkat mencerminkan besarnya potensi dan peluang pasar daging sapi nasional dan bukan tidak mungkin sektor peternakan sapi potong ini dapat diharapkan sebagai sumber pertumbuhan baru yang dapat diandalkan.

Nusa Tenggara Barat selama ini merupakan salah satu provinsi pemasok daging sapi nasional. Namun demikian volume pengeluaran ternak sapi potong keluar daerah seakan mengalami stagnasi jika tidak ingin dikatakan menurun. Pada tahun 2003, Biro Pusat Statistik NTB mencatat total pengeluaran sapi ke luar daerah sebesar 24.669 ekor terdiri dari 20.329 ekor sapi potong dan selebihnya berupa sapi bibit. Pada tahun 2007 total pengeluaran sapi keluar daerah sebesar 26.970 ekor, pengeluaran sapi potong sebesar 16.283 ekor dan sisanya merupakan sapi bibit. Sementara itu pemotongan lokal tidak banyak mengalami perubahan. Pemotongan lokal tercatat sebesar 29.383 ekor dan 32.299 ekor untuk tahun 2003 dan 2007. Penurunan kemampuan pengeluaran ternak keluar daerah kemungkinan bertalian erat terhadap produktivitas ternak.

Sapi Bali merupakan ras sapi dominan yang dipelihara oleh petani ternak NTB. Secara umum sapi Bali mempunyai berbagai keunggulan terutama pada daya adaptasinya terhadap lingkungan alam dan lingkungan pakan. Namun demikian penampilannya sangat bervariasi disebabkan oleh musim dan lingkungan pemeliharaan yang berbeda dan juga sistim manajemen pemeliharaan yang berbeda. Secara garis besar sistim manajemen pemeliharaan sapi di NTB dapat dibagi menjadi empat meliputi sistim pemeliharaan yang dikadangkan secara penuh, sistim pemeliharaan yang diikat pindah dan dikandangkan hanya pada malam hari, sistim pemeliharaan yang digembalakan pada siang hari dan dikandangkan pada malam hari dan sistim pemeliharaan yang digembalakan secara bebas tanpa campur tangan pemiliknya.

Sistim ikat pindah dan dikandangkan pada malam hari baik di kandangkan perorangan maupun kelompok banyak diterapkan oleh petani peternak sapi di pulau Lombok. Pada umumnya jumlah ternak yang dipelihara pada sistim ini baik untuk tujuan pembibitan maupun penggemukan ≤ 5 ekor per keluarga petani.  Sistim digembalakan pada siang hari dan dikandangkan pada malam hari banyak diterapkan oleh petani ternak sapi di pulau Sumbawa. Jumlah betina dewasa yang dipelihara untuk tujuan pembibitan dan penyediaan bakalan ≥ 5 ekor per keluarga tani.

Pada umunya sapi di NTB masih dikelola secara tradisional terlepas dari sistim pemeliharaan yang diterapkan tercermin dari orientasi beternak masih pada budidaya dan penjualan ternak belum terencana atau penjualan ternak dilakukan jika ada kebutuhan uang. Pengelolaan ternak juga masih sepenuhnya bergantung pada kemampuan daya adaptasi ternak terhadap lingkungan alam dan pakan.

Pada kondisi pemeliharaan tradisional seperti ini lingkungan pakan secara dominan mempengaruhi produktivitas ternak. Ketersediaan pakan rumput alam sangat berfluktuasi yang dipengaruhi oleh musim sehingga aktifitas ternak juga mengikuti fluktuasi ketersediaan pakan. Pada umumnya konsentrasi kelahiran terjadi pada bulan kering karena perkawinan terjadi pada musim basah dimana pakan tersedia dalam jumlah dan kualitas yang cukup untuk memenuhi kebutuhan ternak. Kelahiran pada musim kering pada saat kualitas pakan rendah dapat berpengaruh buruk terhadap daya hidup anak yang baru lahir dan menyebabkan kondisi tubuh induk menyusui menurun secara cepat karena nutrisi yang dibutuhkan untuk menyusui tidak terpenuhi. Kehilangan bobot badan induk secara drastis selama menyusui dapat menghambat aktivitas reproduksi dimana rentang waktu birahi kembali setelah beranak menjadi lebih panjang dan tingkat kebuntingan pada perkawinan berikutnya menurun sehingga menyebabkan interval beranak menjadi lebih panjang.

Pada pengelolaan ternak secara tradisional, umumnya perkawinan ternak tidak terencana walaupun petani melakukan kontrol kawin terhadap ternaknya, terutama pada ternak yang dipelihara dengan dikandangkan secara penuh dan yang diikat pindah. Sehingga seringkali terjadi perkawinan sedarah atau inbreeding. Hal ini akan berdampak negatif terhadap mutu genetik ternak.

Pilihan untuk menjadikan NTB bumi sapi sangat tersedia luas, namun perlu kehati-hatian jika ingin memilih peningkatan produksi dengan perbaikan efisiensi produksi melalui perubahan atau pergantian genotype dengan menggunakan bangsa-bangsa sapi Eropa. Frekuensi keberhasilan perbaikan efisiensi produksi dari perubahan genotype biasanya sangat rendah. Hal ini berhubungan dengan tingkat ketahanan sapi silangan terhadap penyakit, parasite, adaptasi terhadap pakan dan lingkungan rendah. Ditambah lagi penyediaan pakan yang tidak mencukupi kebutuhan untuk pertumbuhan akan menyebabkan semua pakan yang diberikan hanya digunakan untuk kebutuhan pokok hidup dan sangat sedikit untuk produksi sehingga produktivitasnya menjadi sangat rendah.  

Menggunakan sumber indigenous breed dan berbasis pada peternakan tradisional untuk menjadikan NTB bumi sapi merupakan pilihan alternatif yang bijak mengingat sapi Bali merupakan jenis sapi yang umum dipelihara oleh petani. Peluang dan pilihan meningkatkan produktivitas yang meliputi aspek reproduksi dan produksi melalui upaya memfasilitasi ternak agar dapat mengekspresikan potensi produktivitasnya secara optimal dan memperbaiki kualitasnya melalui seleksi sangat tersedia. 

Kebutuhan mendasar ternak yang dipelihara secara tradisional untuk dapat mengoptimalkan ekspresi produktivitasnya adalah mensinkronkan kebutuhan nutrisi ternak pada berbagai status phisiology terhadap ketersediaan pakan dan menurunkan kebutuhan nutrisi pada waktu kandungan nutrisi pakan tidak optimal. Sedang kebutuhan mendasar untuk memperbaiki mutu ternak adalah dengan melakukan kontrol terhadap ternak sehingga betina dewasa dapat dikawinkan dengan pejantan terpilih.

Sistim Kelebuh merupakan salah satu opsi pengembangan ternak berbasis pada pemanfaatan sumberdaya lingkungan secara optimal untuk memperbaiki produktivitas ternak dan mengoptimalkan penggunaan pejantan terpilih untuk memperbaiki mutu ternak. Prinsip pertama sistim kelebuh adalah mensinkronkan atau mencocokkan suplai pakan dan kebutuhan ternak melalui pengaturan waktu perkawinan. Prinsip kedua adalah mengurangi kebutuhan ternak pada waktu suplai pakan menurun melalui penyapihan sehingga suplai pakan berkualitas baik yang terbatas jumlahnya dapat langsung diberikan pada anak lepas sapih. Penyapihan menyebabkan terjadinya penurunan kebutuhan nutrisi pada induk kering sehingga pakan berkualitas rendah dapat diberikan untuk mencukupi kebutuhan hidup pokok induk kering tersebut. Perbaikan mutu ternak juga dapat terfasilitasi oleh sistim Kelebuh. Penempatan jantan terpilih pada periode waktu terbatas (6 bulan) setiap tahun dan pergantian pejantan terpilih setiap periode kawin dapat memfasilitasi perbaikan mutu ternak. Pejantan sapi Bali mempunyai kemampuan kawin yang tinggi dan kapasitas kawin hanya dibatasi oleh kesempatan bertemu betina birahi. Pada sistim Kelebuh pejantan dapat mengawini 50 sampai 100 ekor betina dalam kurun waktu 6 bulan. Monitoring produktivitas sapi selama pelaksanaan pengembangan sistim Kelebuh yang dilakukan dari tahun 2001 sampai 2004 dari aspek reproduksi tercatat bahwa tingkat kebuntingan meningkat (80%), interval birahi kembali setelah beranak menurun (70 hari), tingkat penyapihan meningkat (83%) dan tingkat kematian menurun (2-4%). Sedang dari aspek produksi tercatat bahwa terjadi peningkatan berat lahir, berat sapih dan pencapain berat kawin (180 kg) yang lebih pendek. Hasil pencapaian dari sistim Kelebuh selama dikembangkan dalam waktu 3 tahun di desa Kelebuh cukup stabil. Sistim Kelebuh merupakan dasar dari proyek scaling up kerjasama BPTP-NTB, Universitas Mataram dan CSIRO Australia didukung oleh dana dari Australian centre International For Agricultural Research (ACIAR).

Berdasarkan data survey dari BPS Indonesia dan Direktorat Jenderal Peternakan struktur populasi sapi di NTB pada tahun 2006 terdiri dari 43,6% betina dewasa dan 19.3% anak lepas sapih atau umur setahun. Ini berarti jumlah anak hanya 44% dari jumlah betina dewasa. Berdasarkan sumber yang sama, populasi sapi di NTB pada tahun 2006 mencapai 481.376 ekor. Dengan jumlah betina dewasa diperkirakan sebesar 209.880 ekor sedang populasi anak lepas sapih sebesar 92.906 ekor. Jika diasumsikan 60% dari induk yang ada dipelihara dengan sistim dikandangkan dan diikat pindah dengan dikandangkan pada malam hari (Survei dari NTASP) dan semua menerapkan sistim Kelebuh maka diharapkan produksi anak pada tahun 2006 adalah sebesar 133.650 ekor. Ini berarti pada tahun 2006 terdapat kehilangan potensi produksi anak sebesar 40.000 ekor.

Sistim Kelebuh dapat digunakan menjadi opsi untuk merealisasikan program NTB bumi sapi karena berpotensi memperbaiki produktivitas sapi yang pada gilirannya akan dapat memningkatkan ketersedian sapi bibit sehingga upaya untuk menambah populasi betina dewasa dapat dipenuhi dari dalam NTB sendiri. (Tanda Panjaitan)

Web Analytics