Berita

Monitoring Pupuk dengan BPP Sandubaya

Pin It

Tim Kostratani Balitbangtan BPTP NTB, Kasi KSPP Dr. Ir. Sasongko WR, Ketua Penyuluh Ir. H. Sahram, MM, dan Penyuluh Pertanian BPP Sandubaya.  Undangan dimaksud dalam rangka melaksanakan monitoring dan evaluasi ketersediaan pupuk tahun 2020 khususnya MT III 2020. Pertemuan dipimpin oleh Koodinator BPP Sandubaya Rumli, S.ST, di hadiri oleh Koodinator Penyuluh Dinas Pertanian Kota Mataram, Pembina BPP Sandubaya, PKT, PUSKUD, CV Sasak Agro, Distributor Pupuk wilayah NTB  dan wakil dari Pupuk Kaltim serta ketua Gapoktan dan Kelompok tani di wilayah Kecamatan Sandubaya.

Pertemuan kali ini membahas tentang ketersediaan pupuk bersubsidi untuk memenuhi kebutuhan musim tanam MK II ini.  Petani mengeluhkan menjelang musim tanam ini, pupuk bersubsidi belum tersedia. Pada kesempatan pertemuan ini juga akan dilanjutkan dengan penyusunan e-RDKK. Menurut penyampaian dari perwakilan Pupuk Kaltim bahwa pemerintah saat ini membatasi penggunaan pupuk bersubsidi dan diberlakukan untuk seluruh wilayah Indonesia. Kuota pupuk sudah ditetapkan namun realisasinya masih belum dilakukan, petani diminta untuk bersabar.

Ketersediaan pupuk didasari oleh beberapa hal seperti rekomendasi pupuk dari Kementerian Pertanian dan luasan lahan.  Kebutuhan pupuk untuk lahan pada satu tempat dengan tempat lainnya bisa berbeda, tergantung pada unsur hara tanah di lahan tersebut. Namun pendekatan untuk menentukan pemupukan merupakan rata-rata dari kebutuhan di suatu wilayah.   Dijelaskan lagi oleh tim BPTP NTB, bahwa sudah saatnya kita tidak bergantung pada pupuk anorganik terutama yang bersubsidi. Penggunaan pupuk organik sangat dianjurkan, karena jika tidak maka untuk penggunaan pupuk akan terus meningkat agar dapat menghasilkan produksi yang tinggi.  Namun perlu disadari bahwa apakah penambahan pupuk akan sebanding dengan peningkatan produksi.  Jika tidak sebanding maka pengeluaran biaya akan menjadi makin besar sedangkan penerimaan yang diperoleh tidak sebesar tambahan biaya yang dikeluarkan.

Penjelasan dari distributor pupuk, bahwa jumlah pupuk bersubsidi yang tersedia dimasa mendatang akan makin berkurang, oleh karena itu diharapkan petani agar dapat menggunakan pupuk seefisien mungkin, seperti menggunakan pupuk organik.  Ditambahkan oleh wakil dari Pupuk Kaltim, bahwa perusahaan saat ini juga memproduksi sejenis decomposer dan pupuk hayati diharapkan ini dapat menjadi alternative untuk pemupukan dengan adanya pengurangan jumlah pupuk bersubsidi.  (FSM)

Web Analytics