Berita

IndoBeef-BPTP NTB Tingkatkan Kapasitas Peternak Sapi Desa Mertak, Kecamatan Pujut Lombok Tengah

Pin It

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Nusa Tenggara Barat (BPTP NTB) melalui kegiatan penelitian kerjasama IndoBeef CropCow telah melaksanakan pendampingan kelompok tani ternak (KTT) Bumbang Wetan, Desa Mertak, Kecamatan Pujut Kabupaten LombokTengah melakukan kunjungan ke KTT Ngiring Datu, Desa Karang Kendal Kecamatan Gangga Kabupaten Lombok Utara pada hari Kamis (02/09/2020). Kunjungan dimaksud adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman anggota kelompok KTT Bumbang Wetan tentang inovasi teknologi manajemen sapi potong terpadu meliputi pembiakan satu induk satu anak setiap tahun, penggemukan dengan hijauan legume pohon dan pengelolaan kelembagaan kelompok. Jumlah perwakilan kelompok Bumbang Wetan yang melakukan kunjungan sebanyak 12 orang. Sebelum mengunjungi KTT Ngiring Datu di Kabupaten Lombok Utara ke 12 orang peserta kunjungan terlebih dahulu diterima Kepala BPTP NTB, Dr. Ir. Awaludin Hipi, MSi di kantor BPTP NTB. Dalam sambutannya, kepala Balai menyampaikan bahwa daging sapi Bali lokal NTB yang digemukkan dengan pakan berkualitas seperti lamtoro dan turi dan melalui proses pelayuan yang baik setelah pemotongan, saat ini telah mendapat perhatian dari Menteri Pertanian RI untuk dikembangkan sebagai produk unggulan nasional. Karena itu, Dr. Hipi mengajak para peternak tersebut untuk menyiapkan sapi-sapi bakalan dengan kualitas yang baik untuk memenuhi permintaan pasar. Kepala BPTP NTB berpesan agar peternak mengambil sebanyak mungkin pengalaman dari tempat kunjungan untuk nanti bisa diterapkan di desa Mertak.

Setibanya di lokasi kunjungan, semua peserta tampak sangat terkesan dengan kondisi kandang yang tertata rapi dan bersih. Mereka langsung berpencar dan berdialog dengan para pemilik ternak di kandang sesuai dengan minat dan pembagian tugas yang sudah disepakati sebelum melakukan kunjungan. Setelah puas berbincang-bincang dikandang dilanjutkan berdialog dengan para pengurus dan anggota kelompok di balai pertemuan KTT Ngiring Datu. Dari banyak topik yang menjadi perbincangan, ada sebanyak empat topik yang menjadi perhatian dan hangat didiskusikan serta banyak ditanyakan oleh para peserta kunjungan yaitu pengelolaan kelembagaan kelompok termasuk di dalamnya membangun transparasi dan saling percaya, pengaturan perkawinan sapi, penyapihan pedet dan pengelolaan serta pengolahan limbah dan kotoran ternak.

Peserta sangat puas terhadap kunjungan yang telah dilakukan dan menurut peserta sangat mencerahkan karena informasi diperoleh langsung dari peternak yang sudah mempraktekkan dan terbukti berhasil. Hasil kunjungan ini sangat memotivasi peserta untuk segera berbenah memperbaiki kondisi kelompok dan peternakan sapi di KTT. Bumbang Wetan. Banyak pernyataan menarik yang dilontarkan peserta sepanjang perjalanan pulang. Amaq Dian, salah seorang peserta menyatakan bersedia dan menawarkan lahan miliknya digunakan sebagai lokasi kandang kelompok bila KTT Bumbang Wetan ingin membangun kandang komunal. Amaq Mari mengungkapkan, dia sekarang tahu cara-cara beternak yang efisien dengan memanfaatkan dan menerapkan cara pemberian pakan yang dapat memberikan hasil yang bagus. Amaq Rizki sebagai ketua kelompok merasa tercerahkan dan mengakui selama ini pengelolaan kelompok yang dipimpinnya belum baik karena sangat minimnya pengetahuan tentang cara pengelolaan kelompok yang baik. Amaq Rizki mengatakan kunjungan ini sangat membantu dan sekarang dia  memiliki gambaran bagaimana harus mengelola kelompoknya.

Kunjungan KTT Bumbang Wetan ke KTT Ngiring Datu didampingi oleh Dr. Nurul Hilmiati, Rahmatullaila MSi, dan Muhamad Sukri S.Pt yang merupakan peneliti dan penyuluh BPTP-NTB yang terlibat dalam kegiatan penelitian kerjasama IndoBeef CropCow. Ada beberapa tahapan yang akan dilakukan kelompok setelah melaksanakan kunjungan. Tahapan pertama setelah melaksanakan kunjungan adalah melakukan pertemuan kelompok. Pertemuan dimaksud untuk memfasilitasi peserta kunjungan menyampaikan hasil kunjungan kepada seluruh anggota kelompok. Tahap kedua adalah melakukan analisa kontras atau perbandingan dengan bantuan tenaga pendamping lapangan, anggota diminta untuk membandingkan kondisi yang dilihat pada waktu kunjungan dengan kondisi yang ada di Bumbang Wetan dan peluang untuk  melakukan perbaikan sesuai dengan kondisi dan kemampuan yang dimiliki. Tahapan ketiga adalah memfasilitasi kelompok untuk menetapkan prioritas perbaikan dan menyusun rencana kerja sesuai dengan prioritas yang sudah ditetapkan. Tahapan keempat adalah memfasilitasi dan mendampingi kelompok melaksanakan rencana kerja yang sudah ditetapkan. 

Pendekatan ini dilakukan untuk mengasah kemampuan peternak berfikir analitatif dan membuat keputusan terbaik sesuai kondisi dan kemampuan yang dimiliki untuk berubah. Perubahan yang dilakukan sesuai dengan analisa kebutuhan berbasis pada kemampuan kelompok. Proses ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan diri dan kemampuan kelompok berswadaya membangun kelompoknya secara berkelanjutan setelah pendampingan selesai. (Tim BPTP NTB)

Web Analytics