Berita

Evaluasi Percepatan Tanam

Pin It

Target tanam untuk wilayah Nusa Tenggara Barat diharapkan dapat terealisasi, namun kendala di tingkat lapangan menyebabkan target luasan tanam tertunda atau tidak dapat direalisasi pada MK 1 sehingga diupayakan dapat direalisasi pada MK 2.  Walaupun saat ini dibeberapa wilayah masih tersedia air namun perlu informasi dari pihak terkait tentang kondisi hujan.  Pada hari Sabtu dan Minggu (20 – 21 Juni 2020), dilaksanakan evaluasi luas tanam oleh Inspektorat IV Kementerian Pertanian di Kabupaten Lombok Tengah dan Kabupaten Lombok Barat. Didampingi oleh Dinas Pertanian setempat dan Balitbangtan BPTP NTB, Tim Inpektorat  IV mengadakan diskusi di Kantor Dinas dan dilanjutkan ke lokasi-lokasi untuk melihat kondisi saat ini.

Permasalahan target luasan tanam khususnya untuk tanaman padi yang belum terealisi diantaranya adalah  factor ketersediaan air.  Berdasarkan informasi petani, bahwa mereka meragukan jumlah air di MK 1 untuk tanaman padi, sehingga alternatifnya adalah tanaman jagung. Petani tidak ingin mendapatkan kegagalan panen jika harus menanam padi.  Menurut informasi petani untuk sumber air alternative yang ada seperti air sumur dangkal, namun debit air terbatas, sedangkan jika harus menggunakan air sungai perlu mesin pompa.

Untuk membahas lebih lanjut dari permasalahan di tingkat Kabupaten, telah dilaksanakan pertemuan bertempat di Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB, Inspektorat IV dengan menghadirkan Dinas Pertanian se pulau Lombok, BPKP NTB, Dirjen Tanaman Pangan dan BPTP NTB.  Pada kesempatan ini evaluasi hanya di wilayah pulau Lombok, walaupun untuk kesepakatan luas tanam adalah untuk wilayah NTB secara keseluruhan.  Telah diperoleh kesepakatan bersama untuk target LTT Padi untuk bulan Juni-September adalah sebesar 65.000 ha.

Permasalahan keterbatasan air, diharapkan ada pendampingan teknologi dari BPTP NTB.  Disampaikan oleh Kepala Balai bahwa untuk mengantisipasi kondisi tersebut ada beberapa alternative seperti penggunaan varietas unggul toleran kekeringan (Inpari 42, Inpago dan Inpari 33).  Selanjutnya dijelaskan bahwa umumnya petani di NTB mudah menerima varietas baru sehingga penggunaan varietas tersebut dapat diterapkan.  Selanjutnya Ketua Kelti SumberDaya menyampaikan akternatif teknologi lain seperti pemanfaatan air sungai dengan mesin pompa dengan pengaturan system pengairan.

Web Analytics