Berita

Berkunjung ke Kelompok Tani “Ganda Suli Bakong”

Pin It

Kelompok Tani ini telah membudidayakan tanaman Porang selama 4 tahun.  Lokasi kelompok berada di Dusun Pademare Desa Sambiq Elen Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara.  Porang dipelihara secara alami artinya  tanaman tidak dipupuk dan tidak dilakukan pemberantasan hama. Disamping itu belum menerapkan sistem penanamannya seperti jarak tanam dan penggunaan bibit atau benih. 

Petani mendapatkan bibit dari Kabupaten Lombok Timur, perlu diketahui bahwa wilayah Desa Sambiq Elen merupakan wilayah perbatasan antara Kabupaten Lombok Utara dengan Kabupaten Lombok Timur. Luas lahan kelompok yang memiliki tanaman Porang selaus lebih kurang 32 ha, dengan jumlah anggota kelompok 32 orang.  Menurut informasi ketua kelompok bahwa areal pertanaman akan diperluas lagi. Tanaman Porang sebagian berada di bawah naungan pepohonan seperti tanaman Jambu Mete, Kakao, Kopi dan Kelapa.  Daerah di sekitarnya lembab dengan ketinggian tempat sekitar 1300 mdpl.  Porang tumbuh selama musim hujan, pada musim kemarau tidak ada tanaman Porang.  Saat memasuki musim hujan Porang mulai tumbuh.  Panen dilakukan pada bulan Mei sampai Juni dan permintaan tertinggi pada bulan November.

Produksi Porang di Kelompok ini menurut penuturan Sekretaris Kelompok pada tahun 2016 menhasilkan  35 ton; tahun 2017 hasilnya menjadi 27 ton; tahun 2018 tidak ada karena musibah gempa bumi; hasil tahun 2019 lalu belum dikalkulasi.  Menurut salah satu anggota kelompok bahwa petani anggota kelompok yang memiliki hasil tertinggi saat itu mencapai 2 ton 8 timbang atau 2.800 kg. Melihat catatan produksi tersebut, menunjukkan bahwa terjadi penurunan produksi.  Petani Porang hanya dapat memanen hasil 1 kali setahun.  Pendapatan keluarga petani selain dari tanaman Porang, sebagian dari mereka bekerja sebagai tukang atau buruh bangunan, usaha transportasi dan usaha budidaya tanaman sayuran seperti cabe, terong dan tanaman tahunan seperti Kakao, Jambu Mete, Kopi dan tembakau.

Sementara ini petani tetap mempertahankan agar Porang mereka bisa berproduksi dengan cara budidaya yang dilakukan selama ini dan cenderung bergantung pada kondisi alam.  Permasalahan yang kerap menggangu tingkat produksi adalah serangan ulat yang menyerang tanaman baik batang maupun daun.  Oleh petani hama tersebut dibiarkan saja dan tidak dilakukan pembasmian dengan insektisida, mereka karena khawatir hama akan menjadi kebal (tahan) dan bahkan akan bertambah tinggi serangannya pada tanaman. 

Pemasaran Porang umumnya dilakukan di tempat, dan menurut informasi bahwa produksi Porang yang berupa umbi atau bubil (katak) yang dijual kepada pedagang untuk dibawa ke Surabaya.  Sementara ini pemasaran hasil dilakukan secara berkelompok dan belum ada ikatan kerjasama dengan pihak lain untuk hal pemasarannya. Yang dibutuhkan petani ke depannya adalah alat perajang atau pengiris Porang agar mereka dapat memasarkan dalam bentuk bahan setengah jadi (Farida S).

Web Analytics