Berita

Temu Lapang Budidaya Bawang Merah Hemat Air Dan Ramah Lingkungan, Solusi Kekerangan Dan Produksi Sehat Di Lahan Kering NTB

Pin It

Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) adalah daerah penghasil bawang merah ketiga terbesar nasional dengan luas panen mencapai 11.518 ha. Lahan yang potensi untuk pengembangan bawang merah masih cukup luas yaitu 118.241 ha namun yang baru dimanfaatkan untuk budidaya bawang merah hanya 6,32%. Pengembangan luasan tanam sebagian besar terjadi pada pemanfaatan lahan kering yang mencapai > 80% dari total luas lahan di NTB yang sebagian besar masyarakat miskin di NTB bermukim di pedesaan yang sumber penghidupannya bergantung pada aktivitas pertanian lahan kering iklim kering.

Kendala utama pengembangan usahatani bawang merah di lahan kering sangat tergantung kepada sumberdaya air dan hama dan penyakit. Sampai saat ini petani selalu mengairi tanaman bawang merah dengan cara menyiram secara manual setiap hari atau di leb. Hal ini menyebabkan pemborosan air dan tenaga kerja serta biaya. Demikian juga penggunaan pestisida kimia untuk pengendalian OPT sudah menjadi tradisi yang sulit ditinggalkan oleh petani terutama pada budidaya bawang merah. Padahal peningkatan produksi dari penggunaan pestisida kimia hanya bersifat sementara, sedangkan dampak negatifnya sangat besar karena dapat menyebabkan kerusakan pada sifat fisik, kimia dan biologi tanah, lingkungan dan kesehatan.

Pengkajian perakitan dan pengembangan paket teknologi hemat air dan ramah lingkungan budidaya bawang merah telah dilakukan untuk memberikan salah satu solusi akan permasalahan tersebut. Penggunakan paket teknologi hemat air dengan penggunaan sprinkler dan biopestisida Tricoherma SP yang diingkubasikan dengan kompos dan disebut Tricho-kompos dengan pemberian biourin telah didemfarmkan di lahan milik petani seluas 1,5 ha di Desa Labuan Lombok Kecamatan Pringgabaya Kabupaten Lombok Timur. Untuk menyebarluaskan teknologi tersebut, telah dilakukan temu lapang pada hari Senin tanggal 30 Juli 2018. Temu lapang dihadiri oleh  instansi terkait antara lain i Dinas Pertanian dan Perkebunan Povinsi NTB, Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Timur, UPT Kecamatan Pringgabaya, Kepala Desa, Kepala Dusun,  penyuluh pertaniain, pengurus dan anggota kelompok tani Gedeng Srikaya, Gapoktan, dan beberapa pengurus kelompok tani bawang merah di kecamatan Wanasaba dan Suela. .

Dalam sambutannya, Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTB, Dr. Saleh Mokhtar mengungkapkan arti penting pelaksanaan temu lapang bagi BPTP NTB untuk menyebarluaskan informasi tentang hasil-hasil pengkajian yang sedang dilakukan. Selanjutnya, Dr. Saleh menyatakan bahwa temu lapang adalah pertemuan yang dilaksanakan di lapangan lokasi pengkajian untuk membuka komunikasi dua arah selebar-lebarnya antara peneliti dan penyuluh BPTP NTB dengan unsur pemerintah daerah dan petani. Sebagai penutup, Dr. Saleh menekankan untuk melihat dan menilai secara detailpaket teknologi yang sedang di kaji baik dari aspek  ekonomi, sosial maupun teknis.

Peneliti BPTP NTB, Dr. Ahmad Suriadi sebagai penanggungjawab kegiatan tersebut menyatakan produktivitas bawang merah yang diairi dengan sprinkler tidak berbeda dengan yang diairi dengan cara di leb yaitu 30 ton/ha basah, namun mampu menekan jumlah air pengairan sebanyak 84%. Biaya yang dibutuhkan untuk pemasangan sprinkler pada lahan 1 ha adalah sekitar 25-30 juta. Hasil analisis biaya pengairan kalau di leb sampai panen adalah Rp. 6.750.000 sedangkan dengan sprinkler hanya Rp. 734.000, sehingga dengan menanam bawang merah sebanyak 5 kali, maka biaya jaringan sprinkler tersebut sudah kembali dan bisa dipakai untuk 10-15 tahun bahkan lebih.

Selanjutnya Dr. Suriadi  menekankan bahwa pemberian biourin dan Tricho-kompos mampu meningkatkan hasil sebanyak 55% dibandingkan dengan cara petani. Lebih lanjut A. Rizal, salah seorang petani kooperator, dalam  testimoninya  menyatakan bahwa teknologi ini sangat di butuhkan oleh petani karena  menggunakan bahan yang tersedia lokal yang ada disekitar kita dan hemat air. Hanya saja,  jaringan sprinkler ini agak berat bagi petani untuk membelinya sehingga diharapkan pemerintah bisa memberikan bantuan untuk itu.

Gayung bersambut, Kepada Bidang Tanaman pangan dan Hortikultura, yang mewakili Dinas pertanian Kabupaten Lombok Timur, Ir. Baddarudin, menyampaikan bahwa kelompok tani yang hadir akan diberikan paket jaringan sprinkler 1 ha untuk setiap kelompok tani yang hadir. “Sehingga petani bisa langsung mencoba paket teknologi hemat air seperti yang telah dijelaskan” ungkap Ir. Baddarudin. Lebih lanjut, beliau memberikan saran untuk menerapkan paket teknologi tersebut kepada Kepala Bidang Hortikulura, Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB, Ibu Ir. Ulayati Ali. Selanjutnya Ir Ulayati  menyampaikan hal yang sangat positif tentang teknologi yang diterapkan. Beliau menegaskan untuk memastikan agar komponen atau paket teknolgi ini  dimasukkan ke dalam program di kabupaten maupun di provinsi (A. Suriadi).

 


Web Analytics