Berita

Temu Lapang Peningkatan Indeks Pertanaman Padi dan Penanaman Perdana Jagung Hibrida di Lombok Tengah

Pin It

Salah satu strategi peningkatan produktivitas padi dan jagung dalam program upaya khusus (Upsus) komoditas strategis Kementerian Pertanian untuk mewujudkan swasembada pangan, adalah melalui peningkatan Indeks Pertanaman dengan memanfaatkan sumberdaya lahan dan air yang tersedia secara optimal. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Balitbangtan NTB yang ditugaskan untuk melakukan pengawalan dan pendampingan teknologi dalam program Upsus, telah melaksanakan demfarm peningkatan indeks pertanaman padi seluas 7 ha dengan memanfaatkan air sungai dengan sistem pompanisasi pada MK I/2017dengan menggunakan padi Varietas Unggul Baru (VUB) umur genjah yaitu varietas Inpari 19 dan Inpari 30 Ciherang sub 1 di kelompok tani Tenandon Desa Penunjak Kecamatan Praya Barat Kabupaten Lombok Tengah.

Guna mensosialisasikan dan mendiseminasikan hasil denfarm kepada para pengguna (petani, penyuluh, petugas dinas/instansi terkait dan swasta) sekaligus mendapatkan informasi umpan balik/respon para pengguna terhadap hasil penerapan inovasi teknologi denfarm BPTP Balitbangtan NTB melaksanakan temu lapang penerapan inovasi teknologiyang dirangkai dengan panen padi hasil denfarmdan penanaman jagung Hibrida untuk MK.II/2017 pada Rabu (5/07/2017). Acara Temu Lapang dihadiri Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB,, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Lombok Tengah, Kepala Dinas PU Pengairan Kabupaten Lombok Tengah, Kepala UPTD Pertanian dari 5 Kecamatan, yaitu Praya Barat, Praya, Praya Barat Daya, Jonggat dan Pujut, PPL dan perwakilan petani dari 5 Kecamatan , Babinsa Desa  Penunjak, dan peneliti BPTP Balitbangtan NTB.

Kepala BPTP Balitbangtan NTB yang diwakili   Dr. Ir. Awaludin Hipi, M.Si., dalam sambutannya mengungkapkan bahwa NTB merupakan  salah satu provinsi yang berhasil mewujudkan swasembada pangan dengan penghasil beras urutan ke-6 di Indonesia, dan  tidak lagi mengimpor beras dari tahun 2016.

Lebih lanjut Awaludin Hipi menyampaikan bahwa program peningkatan Indeks Pertanaman (IP) bertujuan untuk menjaga stabilitas produksi beras dengan cara meningkatkan produksi dan produktivitas padi melalui penambahan luas tanam dan mengintroduksi inovasi teknologi kepada petani. Menurut Awaludin petani di Kabupaten Lombok Tengah khususnya di Desa Penunjak Kecamatan Praya Barat terbiasa melakukan satu kali penanaman padi yaitu hanya pada musim hujan (MH), kedelai (MK1) dan Bero (MK2). Berdasarkan pengamatan BPTP Balitbangtan NTB bahwa di Desa Penunjak masih tersedia sumber daya air yang memungkinkan untuk dimanfaatkan guna meningkatkanIP padi, yaitu menanam padi 2 kali setahun pada MH dan MKI serta dilanjutkan dengan menanam jagung varietas hibrida 20 URI pada  MK II Yang merupakan varietas unggul Balitbangtan produksi anak bangsa.

Peneliti BPTP Balitbangtan NTB Hiryana Windiyani, MP. sebagai pelaksana kegiatan menjelaskan bahwa ketersediaan air di Desa Penunjak masih memungkinkan untuk  meningkatkan IP dengan menanam kembali padi pada MK1 dengan mengintroduksi komponen teknologi, antara lain menggunakan varietas yang berumur pendek (genjah) seperti Inpari 19 ( 104 hss) dan 30 Ciherang sub 1 (111 hss), penanaman menggunakan sistem jajar legowo 2:1 dan pengendalian hama penyakit secara terpadu. Berdasarkan data hasil ubinan menunjukkan bahwa dengan smenerapkan komponen teknologi introduksi (denfarm) terjadi peningkatan produktivitas dari 3,8 ton/ha GKP menjadi 6,8 ton/ha GKP.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB yang diwakili oleh Kepala Bidang Tanaman Pangan Ir. L. Muhammad Syafriari, MM dalam sambutannya menyampaikan bahwa Kabupaten Lombok Tengah merupakan sentra penghasil beras di NTB, maka perlu terus dipertahankan dan ditingkatkan melalui upaya peningkatan IP serta penerapan teknologi yang telah dihasilkan oleh BPTP Balitbangtan NTB.

Lebih lanjut Syafriari mengharapkan produktivitas padi inpari 19 dan 30 Ciherang Sub 1 pada saat ini perlu ditingkatkan lagi agar dapat mencapai potensi hasilnya yaitu 9,5 ton/ha melalui penyempurnaan teknologi. Komponen teknologi yang juga bisa dikembangkan oleh petani adalah pemanfaatan jerami padi untuk pembuatan pupuk organik dan penggunaan alat mesin pertanian yang telah disiapkan oleh pemerintah melalui Brigade Alsintan di setiap daerah..

Beberapa harapan petani yang disampaikan dalam acara diskusi antara lain perbaikan infrastruktur pengairan, penyaluran pupuk disesuaikan dengan waktu tanam, dan pemasaran jagung. Narasumber dari Dinas Pertanian Provinsi, Dinas PU Kabupaten Lambok tengah, BPTP Balitbangtan NTB, Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Lombok Tengah dapat memberikan solusi dari harapan peserta diskusi. (MF.Matenggomena)

Web Analytics