Berita

Workshop Dukungan Inovasi Pertanian Untuk Peningkatan Indeks Pertanaman (IP) Padi, Jagung Dan Kedelai Di NTB

Pin It

Di NTB masih  terdapat peluang untuk peningkatan Indeks Pertanaman (IP) padi baik pada lahan sawah irigasi maupun pada lahan kering atau lahan tadah hujan, karena masih banyak dijumpai petani yang menerapkan pola tanam padi - padi - bero dan padi - palawija - bero. Sejumlah hasil pengkajian Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTB telah membuktikan bahwa dengan optimalisasi pemanfaatan sumberdaya air yang tersedia dan penggunaan varietas dapat meningkatkan IP padi, jagung dan kedelai dari IP 200 menjadi IP 300.

Dalam rangka mendukung upaya peningkatan IP Pajale di NTB, pada tahun 2017 BPTP Balitbangtan NTB melaksanakan Kegiatan Dukungan Inovasi Pertanian untuk Peningkatan IP Pajale melalui Kegiatan Identifikasi Sumberdaya Air, kegiatan Denfarm Pola Tanam Padi –Padi - Jagung di Desa Penujak Kabupaten Lombok Tengan dan Demfarm Padi – Padi - Jagung di Desa Berora Kabupaten Sumbawa. Untuk mensosialisasikan capaian hasil kegiatan identifikasi Sumberdaya air dan hasil Demfarm, maka pada hari Kamis (19/10/2017) BPTP Balitbantan NTB telah menyelenggarakan workshop Dukungan Inovasi Pertanian untuk Peningkatan IP padi, jagung dan kedelai bertempat di aula kantor Diklat Pertanian NTB. Hadir dalam acara workshop Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) NTB, Kepala BWS NT 1, KepalaBalai Perlindungan Tanaman Pertanian NTB, Kepala BPTP Blitbangtan NTB, Kepala UPTD/Kasi PSP Kab/Kota se NTB, POPT se NTB, peneliti dan penyuluh BPTP Balitbangtan NTB.

Dalam sambutannya Kepala BPTP Balitbangtan NTB Dr.Ir.M.Saleh Mokhtar,MP menyampaikan bahwa BPTP Balitbangtan NTB telah diberi tugas oleh kementerian Pertanian untuk melaksanakan identifikasi sumber daya air yang dibantu oleh Kepala UPT/KCD dan penyuluh serta instansi di seluruh Kab/Kota di provinsi NTB. Kegiatan tersebut telah dilakukan sejak tahun 2016 dan hingga saat ini masih terus berlanjut untuk menemukan potensi sumber air yang dapat dibangun infrastruktur seperti embung, sumur, saluran, maupun sistem pompanisasi. Program ini merupakan salah satu program prioritas untuk meningkatkan potensi lahan yang masih belum termanfaatkan. Disamping permasalahan mengenai optimalisasi sumberdaya air, informasi mengenai serangan OPT merupakan masalah yang cukup serius. Seiring dengan peningkatan IP maka antisipasi serangan hama dan penyakit yang menyertai perlu di lakuakan. Hal tersebut disebabkan karena Indonesia sebagai negara tropis memiliki suhu dan kelembaban yang sangat sesuai untuk perkembangbiakan hama dan penyakit, terutama hama wereng batang coklat (WBC) dan OPT lainnya sepanjang tahun. Oleh karena itu pencegahan dan pengandalian WBC dan OPT lainnya perlu menjadi perhatian serius semua pihak untuk mendukung upsus PAJALE agar mendapatkan hasil panen yang optimal.

Dalam kesempatan yang sama disampaikan pula beberapa materi terkait tentang program dan kegiatan pengelolaan infrastruktur irigasi pertanian di NTB oleh Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB yang diwakili oleh Sekretaris Distanbun NTB Ir. Ibnu Fikki, tentang Program dan kegiatan Pembangnuan Infrastruktur irigasi pertanian oleh Kepala BWS NT 1 NTB yang diwakili oleh Lalu Rahmandi.

Sebelum berakirnya acara workshop pada hari pertama dilakukan diskusi tanya jawab untuk mendapatkan respon dan umpan balik dari peserta. Sebagian besar peserta sangat antusias mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan materi-materi maupun  informasi-informasi yang telah disampaikan narasumber.

Sebagai tindak lanjut dari kegiatan workshop ini akan dilakukan antara lain : (1) Melanjutkan identifikasi potensi Sumberdaya air, (2) Data hasil identifikasi pengembangan SDA akan di koordinasikan dan disampaikan ke Kementerian Pertanian dan Kemendes, PDT dan Transmigrasi melalui BBP2TP untuk ditindaklanjuti, (3) Kerjasama semua pihak sangat diharapkan dalam tindakan pencegahan dan pengendalian WBC dan OPT lainnya untuk mendukung swasembada PAJALE. (Nurul Agustini dan Syilvia )

Web Analytics