Berita

Panen Dan Temu Lapang Sistem Usaha Pertanian Integrasi Tebu Dan Ternak Sapi Mendukung Kawasan Perkebunan Tebu Di Kabupaten Dompu

Pin It

Untuk mempercepat penyebaran informasi, dan mempercepat adopsi, serta mendapatkan umpan balik secara langsung dari penyuluh, petani dan stakeholder lainnya maka dilakukan panen bersama dan temu lapang. Temu lapang dilaksanakan hari Selasa (3/10/ 2017) di kelompok tani Patuh Pacu Desa Beringin Jaya Kecamatan Pekat Kabupaten Dompu. Temu Lapang  Sistem Usaha Pertanian (SUP) integrasi tebu dengan ternak sapi dihadiri oleh 220 orang dari berbagai unsur  antara lain Kepala BPTP Balitbangtan NTB, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kab. Dompu, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kab. Dompu, PT SMS, Camat Pekat, Danramil, Babinsa Pekat, Kepala Polsek Pekat, Kepala UPTD pertanian dan perkebunan, Koordinator penyuluh Kecamatan Pekat, Kepala UPTD pertanian dan perkebunan, Koordinator penyuluh Kecamatan Kempo, Koord penyuluh dan Penyuluh Pekat, Penyuluh dan Peneliti BPTP NTB, Kepala Desa Beringin Jaya, dan beberapa Kepala Desa di kecamatan Pekat, Petani / kelompok tani Patuh Pacu dan Kelompok Tani di desa Beringin Jaya dan desa sekitar, Pengurus koperasi di Kecamatan Pekat.

Kegiatan ini merupakan hasil kerjasama antara BPTP Balitbangtan NTB, PT SMS, Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertabun) Kabupaten Dompu, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Kabupaten Dompu, Balittas dan instansi terkait lainnya. Adapun bentuk kerjasamanya adalah sosialisasi, pelatihan ataupun sekolah lapang dalam rangka peningkatan kapasitas SDM petani/peternak

Dalam sambutannya Kepala BPTP Balitbangtan NTB Dr.Ir.M.Saleh Mokhtar, MP mengatakan Kementerian Pertanian pada tahun 2019 menargetkan produksi gula Kristal putih (GKP) mencapai 3,30 juta atau naik 32% dari target pada tahun 2017. Target peningkatan produksi tersebut melalui intensifikasi lahan tebu di Indonesia karena provitas dan rendemen tebu yang belum optimal. Kabupaten Dompu menjadi salah satu wilayah pengembangan tanaman tebu untuk wilayah Indonesia timur dengan luas pengembangan tebu sekitar 9.700 ha. disisi lain Kabupaten Dompu juga menjadi salah satu kawasan sentra ternak sapi di NTB dengan populasi sebesar 166.094 ekor atau sekitar 16,4 % dari total populasi sapi di NTB.

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTB sebagai UPT Balitbangtan Pertanian di daerah ikut berperan serta dalam usaha mendukung program swasembada gula nasional dengan mencoba membangun Sistem Usaha Pertanian Integrasi Tanaman Tebu Dengan Ternak Sapi.

Sistem Usaha Pertanian (SUP) Integrasi tanaman tebu dengan ternak sapi adalah usaha atau kegiatan ekonomi yang berkaitan dengan pertanian untuk menghasilkan keuntungan atau nilai tambah bagi petani yang dikemas dalam berbagai subsistem mulai dari subsistem praproduksi (input), produksi, panen dan pasca panen serta distribusi dan pemasaran serta subsistem lembaga pendukung lainnya seperti koperasi, lembaga keuangan, lembaga penelitian dan penyuluhan, swasta serta dinas atau instansi terkait lainnya.

Penanggung jawab kegiatan/peneliti BPTP Balitbangtan NTB I Putu Cakra Putra A.SP.MMA menyampaikan bahwa untuk membangun SUP Integrasi tanaman tebu dengan ternak sapi melalui beberapa tahapan yaitu dimulai dari peningkatan provitas tebu dengan cara : 1. perbaikan teknologi pembibitan tebu (bagal, budchip, budshet), 2. perbaikan komponen teknologi budidaya tebu seperti pengeprasan, pemupukan, pengguludan, pengelentekan, penjarangan anakan tebu yang tidak produktif (sogolan), jarak tanam (juring). Untuk meningkatkan provitas ternak sapi melalui pembiakan sapi potong dengan memanfaatkan limbah tanaman seperti hasil klentek daun tebu, sogolan dan pucuk tebu untuk pakan ternak sapi.  Pembiakan sapi potong yaitu  memelihara sapi betina (induk dan dara). Sapi betina dipelihara dengan  teknologi pemberian pakan untuk meningkatkan berat badan sapi betina untuk mendapatkan berat badan optimal sapi betina yang siap untuk dikawinkan.

Sistem integrasi tebu dengan ternak sapi dapat dilihat dari pemanfaatan limbah dari kedua komoditas tersebut. Limbah tebu berupa klentekan daun tebu, sogolan serta pucuk tebu dimanfaatkan sebagai pakan ternak sapi. Total produksi limbah tebu dalam luas lahan satu hektar dengan sistem tanam juring tunggal adalah sebanyak 19,4 ton.Sedangkan limbah yang dihasilkan dari sistem usaha pembiakan sapi berupa limbah padat yang diolah menjadi pupuk kandang. Potensi pupuk kandang sapi yang dimiliki petani sebanyak 4,8 – 8 ton/tahun yang bisa dimanfaatkan untuk menyuburkan lahan tanaman tebu yang ramah lingkungan.

Pendapatan tebu terintegrasi diperoleh sebesar Rp 11.563.000 per ha atau R/C 1, 73 lebih tinggi daripada tebu parsial R/C hanya 1,20, Nilai MBCR dari penerapan usahatani tebu yang dikelola secara terintegrasi  17,90 artinya setiap tambahan biaya dalam menerapkan integrasi sebesar Rp. 1.000 dapat meningkatkan tambahan penerimaan Rp 17.900. Sedangkan Pendapatan yang diperoleh dari sapi yang dikelola secara terintegrasi sebesar Rp 995.000/3 ekor ternak/tahun, peningkatan ini akibat nilai tambah pupuk kandang/kompos. (I.Putu cakra PA. SP.MMA., dkk).

Web Analytics