Berita

Peningkatan Produksi Jagung Melalui Peningkatan Kuantitas Dan Kualitas Penerapan Teknologi Mendukung Pertanian Bioindustri Lahan Kering

Pin It

Kementerian Pertanian Republik Indonesia melalui BPTP Balitbangtan Nusa Tenggara Barat selalu berupaya untuk meningkatkan produtivitas jagung melalui penyebaran teknologi dengan berbagai pendekatan seperti Demfarm dan Temu Lapang untuk mendorong peningkatan penerapan teknologi oleh pengguna (petani) budidaya jagung Hibrida Bima 20 URI.

Panen dan Temu Lapang Demfarm Teknologi Budidaya Jagung Hibrida Bima 20 URI mendukung Pertanian Bioindustri Berbasis Integrasi Tanaman Ternak pada Lahan Kering Beriklim Kering diselenggarakan oleh BPTP Balitbangtan NTB pada Tanggal 28 September 2017 di kelompok tani Telaga Simir, Desa Suka Damai, kecamatan Labangka, Kabupaten Sumbawa. Panen jagung hibrida Bima 20 URI dilakukan oleh Bapak Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan kabupaten Sumbawa, Kepala BPTP Balitbangtan NTB, Camat Labangka, Danramil Plampang dan Labangka, Kapolsek Labangka dan Ka BP3K kecamatan Labangka.

Panen dan Temu Lapang Demfarm Teknologi Budidaya jagung Hibrida Bima 20 URI dihadiri sebanyak 130 orang yang meliputi unsur petani, kelompok tani se kecamatan Labangka, kepala desa se kecamatan Labangka, BP3K dan KUPT kecamatan Labangka dan Plampang, PPL kecamatan Labangka, Camat dan muspika kecamatan Labangka, Dinas Pertanian dan Perkebunan, peneliti dan penyuluh BPTP Balitbangtan NTB, dinas peternakan kabupaten Sumbawa, Danramil dan Babinsa kecamatan Labangka dan Plampang, penguru Resi Gudang Jagung kabupaten Sumbawa dan pengusaha jagungPenyebaraluasan teknologi budidaya jagung Hibrida Bima 20 URI merupakan salah satu kegiatan dari pengkajian Sistem Pertanian Bioindustri Berbasis Integrasi Tanaman Ternak pada lahan Kering di kecamatan Labangka, kabupaten Sumbawa telah dilakukan oleh BPTP Balitbangtan NTB dari tahun 2015 hingga tahun 2017. Kepala BPTP Balitbangtan NTB yang dalam hal ini diwakili oleh Dr. Moh. Nazam, SP, MS dalam sambutannya menjelaskan konsep sistem pertanian Bioindustri yang dilakukan dengan memanfaatkan semua potensi dan sumberdaya yang tersedia yang berorientasi pada agribisnis dari hulu sampai hilir.  Pertanian Bioindustri berasis integrasi tanaman ternak pada lahan kering di kecamatan Labangka kabupaten Sumbawa, bahwa jagung tidak hanay menghasilkan jagung pipilan melainkan juga biomassa jagung dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak sapi, terutama pada musim kemarau dimana terjadi keterbatasan ketersediaan hijauan pakan. Hasil samping dari ternak sapi atau biomassa ternak berupa kotoran ternak dan urine dapat diolah menjadi pupuk organik padat (kompos) dan pupuk oragnik cair (Biourine). Selama melakukan pengkajian di kecamatan Labangka, kabupaten Sumbawa BPTP Balitbangtan NTB telah membina beberapa kelompok tani dalam memproduksi pupuk kompos dan organik cair Biourine. Dr. Moh. Nazam, SP, MSi yang mewakili kepala BPTP Balitbangtan NTB kembali menegaskan dalam sambutannya bahwa tingkat kesuburan lahan kering sudah sangat menurun, sehingga limbah ternak yang telah diolah menjadi pupuk organik dapat digunakan untuk memupuk tanaman jagung maupun tanaman pangan lainnya. Siklus pemanfatan pupuk organik dari limbah ternak untuk memupuk tanaman jagung, dan limbah atau biomassa jagung dimanfaatkan sebagai pakan ternak merupakan salah satu konsep pertanian bioindustri. Penggunaan pupuk organik adalah untuk meningkatkan kesuburan tanah dan mengurang penggunaan pupuk N serta dapat meningkatkan produktivitas jagung.

Varietas jagung hibrida Bima 20 URI dan Hibrida Nasa 29 merupakan hasil karya anak bangsa (peneliti jagung Indonesia) yang diperuntukkan bagi rakyat Indonesia.  Demfarm teknologi budidaya jagung dengan beberapa komponen yang diintroduksikan meliputi : (1) Penggunaanvarietas jagung hibrida Bima 20 URI dan hibrida Naza 29; (2) sistem tanam jajar legowo 2:1 dengan jarak tanam 80 cm x 50 cm x 20 cm, jumlah benih 1 biji per lubang tanam; (3) penanaman dengan cara ditugal sesuai jarak tanam; (4) Dosis pupuk yang digunakan: NPK 200 kg/ha dan urea sebanyak 200 kg/ha, pemupukan dengan cara ditugal pada 10 cm dari pohon jagung. Pemupukan pertamapada 7 - 10 hari setelah tanaman tumbuh.(5) penyiraman tanaman dilakukan 5 - 6 kali menggunakan mesin pompaair dari kali. (6) melakukan pengendalian hama putih.JagungHibrida Bima 20 URI dan Hibrida Naza 29 pada Demfarm di Desa Suka Damai memperoleh hasil ubinan  berturut-turut 8,48 t/ha dan 9,6 t/ha. Hasil yang dicapai petani dari kedua varietas jagung tersebut masih jauh dari potensi hasil yang bisa dicapai, sehingga masih ada peluang yang besar untuk ditingkatkan.

Dalam sambutan Camat Labangka bapak Drs. Budisantoso, S.Sos, MSi yang meyambut baik kegiatan pengkajian yang dilakukan BPTP Balitbangtan NTB di Kecamatan Labangka. Bapak Camat mengharapkan BPTP Balitbangtan NTB agar terus melakukan bimbingan teknologi kepada petani dan kelompok tani. Selanjutnya beliaumenegaskan bahwa peningkatan produktivitas jagung dapat dilakukan oelh petani dengan meningkatkankreativitas dalam penerapan teknologi budidaya jagung. Labangka sebagai salah satu sentra produksi jagung di Kabupaten Sumbawa perlu meningkatkan penerapan teknologi dan meningkatkan luas tanam jagung sehingga dapat memanfaatkan secara lebih efisien sumber daya air yang tersedia, baik air permukaan maupun air tanah (sumur dangkal). Untuk para petani dan kelompok tani agar terus membangun kerjasama dengan BPTP Balitbangtan NTB untuk mendapatkan  bimbingan teknologi, termasuk untuk memproduksi benih jagung hibrida Bima 20 Uri dan Hibrida Naza 29. Camat Labangka mengharapkan juga adanya dukungan Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Sumbawa pada peningkatan produktivitas jagung dan tanaman pangan lainnya.

Dalam arahannya, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Sumbawa Bapak Ir. Tarunawan, MSi menyampaikan bahwa pemerintah daerah sangat mendukung kegiatan pengkajian dan penyebarluasan inovasi teknologi yang dilakukan oleh BPTP Balitbangtan NTB. Selanjutnya dijelaskan bahwa Labangkan merupakan salah satu sentra produksi jagung di Kabupaten Sumbawa. Oleh karena itu, untuk meningkatkan produktivitas jagung di lahan kering diperlukan peningkatan kuantitas dan kualitas penerapan teknologi budidaya jagung oleh petani melalui bimbingan teknologi dari BPTP Balitbangtan NTB. Benih jagung yang digunakan oleh petani di kecamatan Labangka hampir 100 % produksi perusahaan swasta seperti jagung hibrida Bisi, DK, NK, dan PAC dengan harga yang relatif mahal antara Rp 60.000/kg - Rp 75.000/kg. Luas tanam jagung di Kecamatan Labangka tahun 2016 mencapai 10.737 ha dengan kebutuhan benih mencapai 214.740 ton. Pada tahun 2018 Kabupaten Sumbawa ditargetkan menanam jagung ung 125.000 ha dengan target produksi jagung 1 juta ton. Pada kesempatan Temu Lapang Bapak kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan kabupaten Sumbawa memotivasi petani agar tahun 2018 mulai memproduksi benih jagung hibrida Bima 20 URI dan hibrida Naza 29 melalui bimbingan teknologi dari BPTP Balitbangtan NTB. Untuk memenuhi kebutuhan benih jagung di kecamatan Labangka maka minimal membutuhkan 30 orang penangkar.

Kepala Dinas Pertanian Ir. Tarunawan, MSi juga mengingatkan kepada petani dan kelompok tani bahwa pengembangan usahatani pada lahan kering tidak hanya jagung yang diproduksi melainkan juga tanaman lain seperti kedelai, kecang hijau dan kacang tanah dengan memanfaatkan sumberdaya air hujan yang tersedia dan air aliran permukaan. Untuk meningkatkan produktivitas lahan kering, dapat dilakukan penanaman tanaman kacang-kacangan dilakukan sebelum panen jagung jagung.Bulan Maret dapat dilakukan penanaman kacang kedelai, kacang hijau dan kacang tanah karena hujan masih ada. Pemanfaatan sumberdaya air hujan dan aliran airpermukaan dengan menerapkan sistem relay jagung dengan tanaman kacang-kacangan maupun dengan tumpang gilir jagung dengan tanaman kacang-kacangan merupakan sistem pertanian bioindustri.

Menurut penilaian petani terhadap jagung hibrida Bima 20 URI dan Naza 29 sangat baik.Keduavarietas jagung tersebut tidak kalah dengan varietas jagung hibrida  produksi perusahaan swasta. Petani sangat tertarik dengan kedua varietas tersebut dan jika tersedia benih mereka akan menanam lagi. Khusus untuk varietas hibrida Nasa 29 petani menginkan agar Badan Litbang Pertanian melalui BPTP Balitbangtan NTB memproduksi dan menyediakan benih karena hibrida Naza 29 bertonggkol dua sehingga produksi dapat dipastikan lebih tinggi dibandingkan dengan varietas lainnya. (Yoh. G. Bulu,M. Yunus, dan Yanti Triguna)

Web Analytics