Berita

Gerakan Tanam Cabai Bersama Tim Pengerak PKK ProvinsI NTB Membuahkan Hasil

Pin It

Gerakan tanam cabai masyarakat Indonesia di pekarangan yang dicanangkan oleh Menteri Pertanian RI  Andi Amran Sulaiman  telah membuahkan hasil. Sejak dicanangkan pada bulan November 2016, gerakan ini ditindaklanjuti dengan penandatangan MoU oleh Kementerian Pertanian dengan organisasi wanita diantaranya Tim Penggerak PKK, Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI), dan Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) serta Muslimat NU dan LKK NU.

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Badan Litbang Kementerian Pertanian (Balitbangtan) Nusa Tenggara Barat (NTB) menindaklanjuti gerakan tanam cabai dengan melaksanakan penandatangan MoU dan aksi gerakan tanam bersama organisasi wanita di NTB (PKK, IWAPI, KPPI, Muslimat NU, KWT) dan dinas/instansi terkait tingkat provinsi dan kabupaten/kota se NTB. BPTP Balitbangtan NTB selaku unit pelaksana teknis Kementerian Pertanian mendapatkan mandat menyediakan 500.000 pohon bibit cabai. Hingga saat ini tercatat sekitar 250.000 pohon bibit cabai yang telah disebarkan dan didistribusikan ke seluruh kabupaten kota di NTB.

Untuk mengetahui sejauhmana keberhasilan dan efektivitas Gertam Cabai di NTB, Tim Gertam BPTP NTB melaksanakan monitoring dan evaluasi di Kabupaten Sumbawa, Dompu dan Bima. Hasil monitoring yang dilakukan pada bulan Juli 2017 sangat menggembirakan. Bibit cabai yang disebarkan dan dibagikan pada awal bulan Maret 2017 sebanyak 80-100% telah tumbuh dengan baik dan berbuah serta telah dinikmati hasilnya oleh rumah tangga di seluruh NTB. Ibu-ibu yang merupakan kader-kader PKK desa dan kader organisasi lainnya mengakui bahwa mereka tidak ada kendala  menanam cabai di pekarangan, tidak merasa repot, bahkan sangat menyenangkan karena mereka tidak lagi memikirkan harga cabai yang mahal dan sangat praktis, “tinggal petik langsung digunakan untuk memasak”. Untuk merawat cabai umumnya mereka melakukan sendiri  atau melibatkan anggota keluarga yang lain seperti anak-anak mereka untuk membantu menyiram. Sedangkan untuk mendapatkan pupuk kompos sebagian besar memanfaatkan pupuk kandang dari ternak sapi, kambing atau ayam yang mereka pelihara. Ibu-Ibu penanam cabai ini mengatakan akan tetap menanam cabai meskipun nantinya program ini sudah tidak dicanangkan lagi.

Permasalahan yang banyak ditemui oleh ibu-ibu ini adalah masalah hama kutu putih, semut dan pohon cabe menjadi keriting. Dengan bimbingan dan pendampingan oleh petugas pendamping, penyuluh dan dipadukan dengan program Dinas Ketahanan Pangan Provinsi dan Kabupaten masalah-masalah ini dapat mereka atasi dengan baik. Semoga semangat menanam ibu-ibu ini tidak luntur dan dapat ditularkan kepada anak dan anggota keluarga yang lain sehingga cabai bukan lagi mejadi komoditi penyebab inflasi di tanah air. (Luh Gde Sri Astiti)

Web Analytics