Berita

Temu Lapang Perbenihan Bawang Merah Untuk Menghasilkan Benih dari Biji (True Seed of Shallot/TSS) di Sembalun, Kabupaten Lombok Timur

Pin It

Bawang merah (Allium ascalonicum) adalah salah satu dari 7 komoditas strategis nasional (Pajalebabesate) harus dipacu pengembangannya di Indonesia, termasuk di Nusa Tenggara Barat (NTB) sebagai salah satu sentra bawang merah nasional. Bawang merah adalah sumber pendapatan dan kesempatan kerja yang memberikan kontribusi cukup tinggi terhadap perkembangan ekonomi daerah NTB. Meskipun bukan merupakan bahan pokok namun permintaan bawang merah cukup tinggi dan terus meningkat dari tahun ke tahun sejalan dengan pertumbuhan penduduk, berkembangnya industri makanan jadi/instan dan pengembangan pasar. Demikian disampaikan Kepala Seksi Kerjasama dan Pelayanan Pengkajian Dr. Moh. Nazam, SP.M.Si mewakili Kepala BPTP Balitbangtan NTB pada acara Temu Lapang perbenihan bawang merah untuk menghasilkan benih dari biji (true seed of shallot/TSS) di Sembalun, Lombok Timur (5/7/2017).

Acara Temu Lapng dihadiri 50 orang peserta, terdiri atas petani kooperator produksi TSS, petani kooperator pendampingan Pengembangan Kawasan Pertanian Nasional Hortikultura (PKPNH)  dan petani sasaran pengguna teknologi,   penyuluh pertanian lapangan,  POPT,   Dinas Pertanian dan Perkebunan Prov.NTB, Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Timur, BPSB TPH Provinsi NTB  dan peneliti BPTP Balitbangtan NTB.

Lebih lanjut Moh. Nazam menyatakan bahwa harga bawang merah sering terjadi fluktuasi yang sangat tinggi disebabkan antara lain: kebutuhan barang merah untuk rumah tangga relatif tetap sepanjang tahun, sementara produksi bawang merah bersifat musiman; pada saat panen harga anjlok dan pada musim tanam terjadi persaingan antara kebutuhan benih dan kebutuhan konsumsi sehingga harga menjadi tinggi.

Sejak dua tahun terakhir BPTP Balitbangtan NTB melaksanakan demplot produksi TSS dan telah berhasil menghasilkan benih dari biji dengan mutu yang baik. Melalui pendampingan dan percontohan yang dilakukan oleh BPTP Balitbangtan NTB bersama-sama dengan petani dilahan petani  merupakan sarana  pembelajaran yang efektif, demikian disampaikan Moh. Nazam.

Selanjutnya dalam kesempatan yang sama Kepala Bidang Produksi Pertanian dan Hortikultura,  Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Timur Ir. Badaruddin, M.Si dalam sambutannya menyatakan bahwa “kebijakan nasional penggunaan benih TSS harus dimulai tahun 2018, tetapi kalau perlu tidak menunggu tahun 2018, pada tahun ini (2017) pun jika ada petani yang mengajukan permintaan bantuan benih TSS akan difasilitasi”. Oleh karena itu  Badaruddin berharap agar BPTP Balitbangtan NTB dapat mendampingi calon-calon penangkar hingga penangkar bisa memproduksi benih TSS secara mandiri.  Selanjutnya dari dari BPSB TPH Provinsi NTB berjanji siap melakukan sertifikasi hasil benih TSS dan benih dari umbi karena hal tersebut dimungkinkan menurut peraturan perundangan yang berlaku. Untuk demplot TSS yang sedang kita tinjau ini bisa dihasilkan benih dengan label putih (benih sumber).

Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB yang diwakili oleh Ir. Uliyati, MM memberikan masukan agar kelompok mengajukan proposal bantuan fasilitas yang dibutuhkan untuk kelanjutan perbenihan TSS ini misalnya: screen house bagi petani usaha persemaian TSS, show case untuk vernalisasi benih umbi dalam proses produksi TSS.  Proposal ditujukan kepada Direktur Perbenihan Hortikultura yang di tembuskan ke Dinas Pertanian dan Perkebunan Prov.NTB. Dalam proposal juga diulas sedikit tentang pengalamannya bekerjasama dengan BPTP Balitbangtan NTB dalam hal produksi TSS dan pembibitan dari biji, hal itu merupakan point penting untuk lebih diprioritaskan.

Secara teknis usaha perbenihan TSS disampaikan oleh  Penanggung jawab kegiatan Ir. Muji Rahayu, MSi yang antara lain tentang tahapan pembuatan TSS hingga menghasilkan benih. Menurut Muji Rahayu penggunaan benih dari biji memberikan keuntungan, antara lain; harga benih dapat ditekan 30 – 50 %, memudahkan transportasi, tidak membutuhkan tempat/gudang penyimpanan, serta penyebaran pathogen dapat dicegah. Kebutuhan benih dari TSS adalah 3-5 kg/ha dengan harga Rp. 2,5 juta/kg, sementara bila menggunakan benih dari siung akan menghabiskan 1,2 – 1,5 ton/ha dengan harga Rp.30.000 – Rp. 50.000/kg. Penyemaian biji TSS hingga siap tanam hanya membutuhkan waktu 4-5 minggu, sehingga mudah diaplikasikan oleh para petani. Saat ini di Lombok Timur sudah ada penangkar yang khusus membuat bibit dari biji dan dapat menjual bibit dengan harga Rp.40/bibit. Menurut Muji Rahayu usaha perbenihan melalui TSS memberikan keuntungan ganda, selain menghasilkan biji, juga menghasilkan umbi yang siap digunakan sebagai benih umbi karena umur umbi sekitar 105 hari. Umbi yang dihasilkan tersebut juga masih sangat layak untuk segera dikonsumsi tetapi tidak bisa disimpan dalam waktu > 1 bulan karena umbi yang dipanen sudah tua sehingga masa dormansinya sudah selesai.      Oleh karena itu ia mengharapkan peran penyuluh lapangan yang harus tetap berada diujung karena pendampingan oleh BPTP Balitbangtan NTB tentu  ada batas waktunya.

Acara Temu Lapang juga dirangkaikan dengan tanam bersama bawang merah menggunakan bibit dari hasil persemaian benih TSS, kemudian dilanjutkan dengan kunjungan lapangan demplot TSS.  Dari tinjauan lapangan peserta antusias melihat jumlah umbi dan ukuran yang masih maksimal meskipun jumlah bunga mencapai 5-13 batang/rumpun.  Peserta  tampak heran karena ternyata hasil umbi masih bisa dihasilkan dengan baik untuk tujuan benih umbi maupun untuk konsumsi. Keheranan peserta terjawab oleh penjelasanan Muji Rahayu bahwa dalam proses produksi TSS umbi benih yang digunakan terlebih dahulu  divernalisasi (disimpan pada suhu rendah yaitu 10o C selama 1 bulan) untuk tujuan menyegerakan pembungaan. Dengan demikian keragaan tanaman dilapangan mulai berbunga umur 3 MST dengan jumlah umbi dan ukuran umbi tidak kalah untuk tujuan umbi konsumsi.  Saat panen yang lebih panjang dari umur usahatani bawang merah untuk tujuan menghasilkan umbi konsumsi, yaitu  umur 105 HST umbi masih tampak utuh.  Tinjauan lapangan diakhiri dengan panen kegiatan pendampingan perbaikan budidaya bawang merah, dengan produksi rata-rata 145  gr/rumpun atau ptoduktivitas 29 ton/ha untuk varietas Batu Ijo. (Muji Rahayu)

Web Analytics