Berita

Workshop Dan Rapat Koordinasi Pendampingan Upsus Padi, Jagung, Kedelai (PAJALE) Provinsi Nusa Tenggara Barat

Pin It

Provinsi NTB sebagai salah satu daerah penyumbang pangan nasional terus berupaya untuk mempertahankan swasembada berkelanjutan padi dan jagung pada tahun 2017 serta swasembada kedelai pada tahun 2020, maka BPTP Balitbangtan NTB menyelenggarakan kegiatan Workshop dan Rapat Koordinasi Pendampingan Upsus Padi, Jagung, Kedelai (Pajale) Provinsi Nusa Tenggara Barat dilaksanakan pada tanggal 18-19 April 2017 di Hotel Bintang Sanggigi  Kabupaten Lombok Barat.

Workshop dan Rapat Koordinasi dihadiri oleh 135 orang peserta terdiri atas unsur-unsur Penanggung Jawab Upsus NTB, Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB, Dinas Pertanian Kabupaten/Kota se NTB, Danrem 162/WB, Dandim,  Danramil, Babinsa se NTB, BPS, Divre Bulog, Fakultas Pertanian Unram, BMKG NTB, LO dan Tim Teknis Upsus Pajale Kabupaten/Kota se NTB, Koordinator Penyuluh, Petugas Data Upsus Kecamatan Kabupaten/Kota se NTB, Kelompok Tani Pelaksana

Kepala BPTP Balitbangtan NTB Dr. Ir. M. Saleh Mokhtar, MP menjelaskan bahwa Workshop dan Rapat Koordinasi Pendampingan Upsus Pajale Provinsi Nusa Tenggara Barat bertujuan: mengevaluasi pelaksanaan pendampingan Upsus Pajale pada MT Okmar 2016/2017 dan rencana pendampingan Upsus Pajale MT Asep 2017,mensosialisasikan rencana pendampingan Upsus Pajale oleh BPTP Balitbangtan NTB dan instansi lainnya, mendiseminasikan inovasi teknologi Balitbangtan mendukung Upsus Pajale.

Dalam kesempatan tersebut juga penanggung Upsus Wilayah NTB Dr. Ir. Mastur, M.Sc dalam arahannya mengungkapkan bahwa Provinsi NTB patut berbangga karena menjadi Lumbung Pangan Nasional, karena produksi padi NTB urutan 6 besar nasional, produksi jagung urutan 5 nasional, demikian pula sapi, bawang merah, cabai produksinya cukup tinggi dan tebu termasuk yang sedang dikembangkan di NTB. “ Yang harus segera kita tangani bersama pada saat ini yaitu berupaya meningkatkan kembali produktivitas padi di NTB di atas 5 ton per hektar melalui kerjasama yang baik dari tenaga pendamping, teknisi, dan dinas terkait” demikian Mastur menegaskan

Kegiatan workshop selama dua hari menghasilkan rumusan sebagai berikut: 1) tujuh strategi yang ditempuh Kementerian Pertanian untuk mencapai tujuan Upsus Pajale perlu terus dilaksanakan yaitu perbaikan dan pengembangan jaringan irigasi,  optimalisasi lahan, penerapan teknologi jajar legowo, perluasan areal tanam kedelai melalui peningkatan indeks pertanaman (PAT-PIP Kedelai), perluasan areal tanam jagung (PAT Jagung), penyediaan sarana dan prasarana pertanian (benih, pupuk, pestisida dan alat mesin pertanian), pengawalan dan pendampingan Upsus Swasembada Pangan; 2) pengawalan dan pendampingan sangat penting dilakukan secara terus menerus oleh semua pihak yang terkait (peneliti, penyuluh, dinas/instansi terkait, TNI dan mahasiswa), untuk memastikan bahwa strategi yang ditempuh dapat mencapai sasaran LTT dan peningkatan produktivitas. Sinkronisasi data di tingkat lapangan juga menjadi bagian terpenting dari sistem pengawalan dan pendampingan Upsus untuk mengurangi perbedaan data antar lembaga/instansi yang terkait sehingga data dan informasi yang disampaikan terjamin akurasinya. Data yang akurat akan menjadi acuan untuk menghasilkan perencanaan/program yang efektif dan efisien; 3) peningkatan produksi PAJALE dapat dilakukan melalui ekstensifikasi (perluasan areal tanam), dan intensifikasi (peningkatan produktivitas, peningkatan IP). Mengingat semakin berkurangnya lahan pertanian dan PAT di NTB akan dapat berdampak pada kerusakan lingkungan (perambahan hutan, dll), maka usaha intensifikasi menjadi pilihan yang bijak; 4) upaya intensifikasi untuk meningkatkan produktivitas, memerlukan teknologi unggulan dan mudah diterapkan para petani.  Empat indikator teknologi unggulan yaitu secara teknis mudah diterapkan, secara ekonomis menguntungkan, secara sosial budaya dapat diterima, dan tidak merusak lingkungan; 5) inovasi teknologi budidaya padi yang dikemas dalam bentuk paket teknologi JARWO SUPER, dapat menjadi acuan dan pilihan teknologi kedepan. Demikian juga inovasi teknologi SALIBU, HAZTON, Tabela, dan Jarwo dapat menjadi pilihan petani dalam meningkatkan produktivitas dan meningkatkan efisiensi penggunaan lahan dan air; 6) inovasi teknologi budidaya jagung, perlu didukung dengan penyediaan benih jagung hibrida nasional yang harganya terjangkau, baik melalui program bantuan maupun swadaya petani. Varietas unggul nasional menjadi pilihan untuk dikembangkan dengan beberapa pertimbangan: produktivitas tinggi, toleran kekeringan, tahan terhadap hama penyakit. Program yang dapat dilakukan adalah membina dan memfasilitasi produsen benih (penangkar), lembaga produsen benih (BBI, BBU, UPBS) untuk menyediakan benih jagung hibrida nasional di NTB, sehingga benih dapat tersedia sesuai 6 tepat dan yang utama adalah harganya terjangkau; 7) pertanian  konservasi terutama dalam budidaya jagung, perlu mendapat perhatian serius, mengingat tingginya animo masyarakat untuk menanam jagung hingga merambah lahan-lahan miring. Hal ini penting untuk meningkatkan kesuburan tanah, dan yang utama adalah untuk mencegah erosi. Penanaman tanaman penutup tanah, penataan tanaman dengan konsep budidaya lorong (alley cropping) dan integrated farming system menjadi alternatif pemecahan masalah pengelolaan lahan kering; 8) upaya peningkatan produksi kedelai mendukung swasembada kedelai 2020, diarahkan pada penerapan teknologi budidaya yang tepat. Program kedepan adalah bagaimana menghasilkan varietas unggul baru dengan produktivitas >4 ton/ha dan tahan terhadap hama dan penyakit, dan menyediakan benihnya di daerah. Dengan produktivitas tinggi dan harga yang sesuai, dapat memotivasi petani menanam kedelai; 9) posisi LTT Upsus Pajale NTB Periode MT Oktober 2016/Maret 2017 dan periode April/September s/d 18 April 2017, sebagai berikut: Capaian LTT padi NTB pada MT OkMar 2016/2017 seluas 339.227 ha dari target 354.111 ha (minus 14.884 ha), namun lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi MT OkMar tahun lalu seluas 312.925 NTB (surplus seluas 26.302 ha). Realisasi LTT padi MT Asep s/d 18 April 2017 seluas 23.418 ha dari target 44.396 ha. Capaian LTJ Jagung NTB periode OkMar 2017 seluas 189.815 ha dari target 236.381 ha (minus 46.566 ha). Target Asep 2017 seluas 163.620 realisasi sd 18 April 2017 seluas 3.969 ha  sedangkan target bulan  April 20.939 ha (minus 16.970 ha), dan posisi LTT kedelai periode OkMar 2017 mencapai 15.786 ha dari target 21.900 ha (minus 6.114 ha). Target ApSep 48.707 ha dan target bulan April sluas 13.246 ha realisasi s/d 18 April 2017 baru mencapai 650 ha (minus 12.596 ha); 10) masalah yang dihadapi pada tahun 2016 adalah peningkatan LTT belum diikuti oleh peningkatan produktivitas. Produktivitas padi NTB mengalami penurunan dari 5,2 t/ha pada tahun 2015 menjadi 4,7 t/ha tahun 2016 padahal berbagai bantuan yang diberikan seperti benih, alsin, pupuk terus meningkat. Hal ini disebabkan karena kondisi iklim yang kurang bersahabat (kekeringan dan/atau curah hujan tinggi); 11) setelah kita berhasil tidak impor beras maka tugas berikutnya adalah menyetop impor jagung melalui peningkatan luas areal tanam dan peningkatan produktivitas dengan penerapan teknologi unggulan dan penggunaan benih jagung hibrida produksi Balitbangtan (produksi anak bangsa). Kita bertekad bahwa 40% benih jagung yang dikembangkan menggunakan benih jagung hibrida Bima 20 URI. (M.Nazam, Matenggomena, Syamsul)

Web Analytics